Silaturahmi Kampung Budaya Pencak Silat Beksi Bersama BDN, Perkuat Pelestarian Tradisi Betawi

Jakarta – Budayantara.tv Budayantara Digital Network menerima kunjungan budaya dari Abdul Aziz di wilayah Jagakarsa, Kamis (21/5/2026). Pertemuan tersebut berlangsung hangat di sela-sela produksi podcast Suara Kaum Betawi yang dipandu host Wan Noorbek.
Dalam perbincangan yang penuh nuansa budaya Betawi itu, perjalanan panjang hingga pencapaian Kampung Budaya Pencak Silat Beksi menjadi topik diskusi yang menarik. Abdul Aziz secara detail mengisahkan sejarah, perkembangan, hingga peran penting Silat Beksi sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Betawi.
Menurut Abdul Aziz, Silat Beksi lahir di tanah leluhurnya, yakni Kampung Dadap, Tangerang. Ilmu bela diri tradisional tersebut berkembang melalui perjalanan keilmuan Haji Godjalih yang berguru kepada Ki Marhalli di Batu Ceper, serta Lie Tjeng Ok dan Kumpi Djidan di Dadap. Dari sanalah Silat Beksi kemudian dibawa ke kawasan Petukangan dan berkembang pesat hingga dikenal luas di Jakarta.
“Silat Beksi bukan hanya seni bela diri, tetapi juga warisan nilai, akhlak, dan identitas budaya Betawi yang harus terus dijaga,” ujar Abdul Aziz dalam diskusi podcast tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa Silat Beksi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi DKI Jakarta oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2015. Saat ini, Silat Beksi dikenal sebagai salah satu aliran silat Betawi terbesar di Jakarta.
Abdul Aziz berharap Budayantara Digital Network dapat menjadi etalase digital seni budaya Nusantara yang mampu memperkuat eksistensi budaya Betawi di era globalisasi.
“Saya berharap Budayantara Digital Network dapat bersama-sama menjaga keberadaan seni budaya dan tradisi Betawi agar tetap lestari serta menjadi kekuatan nilai budaya Betawi yang siap tampil di tingkat global,” ungkapnya.
Dalam tradisi Silat Beksi, setiap perguruan memiliki sanad keilmuan yang merujuk pada lima tokoh besar Silat Beksi Petukangan, yakni Haji Godjalih, Haji Hasbullah, Kong Simin, Kong Noer, dan Mandor Minggu. Kelima tokoh tersebut menjadi pilar utama dalam menjaga kemurnian ajaran serta perkembangan Silat Beksi hingga saat ini.
Pertemuan budaya tersebut menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi antar pegiat budaya sekaligus memperkuat komitmen pelestarian warisan budaya Betawi di tengah perkembangan zaman digital.**


