Jakarta – Budayantara.tv Momentum datangnya Ramadhan 1447 Hijriyah atau 2026 Masehi bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Islam. Ia adalah panggilan jiwa mengajak setiap insan untuk kembali menata hati, memperkuat iman, dan meneguhkan budaya peduli di tengah kehidupan bermasyarakat.
Menyambut bulan suci yang penuh berkah ini, Laskar Merah Putih di bawah komando H. M. Arsyad Cannu menghadirkan aksi nyata melalui kegiatan donor darah yang akan digelar pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan gerakan kemanusiaan yang lahir dari kesadaran akan pentingnya berbagi kehidupan.
“Donor darah adalah simbol empati yang paling tulus. Di balik satu kantong darah, ada harapan bagi pasien yang tengah berjuang di ruang perawatan, ada kesempatan hidup bagi korban kecelakaan, dan ada senyum keluarga yang kembali merekah karena orang yang mereka cintai mendapatkan pertolongan tepat waktu. Setetes darah bukan hanya cairan merah, melainkan denyut solidaritas yang menyatukan sesama.”tegasnya H.M.Arsyad Cannu dalam pernyataan singkatnya.Sabtu (14/2/2026).
Ramadhan mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual. Ia menuntut kepekaan sosial. Lapar dan dahaga yang dirasakan saat berpuasa menjadi pengingat bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan. Dalam konteks inilah, aksi donor darah menjadi bagian dari budaya peduli—sebuah tradisi kebaikan yang tumbuh dari kesadaran kolektif, bukan sekadar seremoni.
Di bawah kepemimpinan H. M. Arsyad Cannu, Laskar Merah Putih menegaskan perannya bukan hanya sebagai wadah kebersamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kepedulian bukanlah slogan yang diteriakkan, melainkan nilai yang diwujudkan dalam tindakan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa solidaritas adalah kekuatan terbesar sebuah komunitas. Ketika satu orang bersedia berbagi darahnya, ia sesungguhnya sedang menyampaikan pesan bahwa kemanusiaan melampaui segala perbedaan.
Semoga Ramadhan 1447 Hijriyah menjadi momentum lahirnya gerakan-gerakan kebaikan yang berkelanjutan. Bahwa budaya peduli bukan hanya hadir menjelang bulan suci, tetapi menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.




