Home / News / Seri 3 : Participatory Active Riset Bamboo Spirit Nusantara Support SystemPeradaban SURUH SIRIH di Pucang Songo

Seri 3 : Participatory Active Riset Bamboo Spirit Nusantara Support SystemPeradaban SURUH SIRIH di Pucang Songo

Oleh: Guntur Bisowarno (Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System)

Pasuruan, Budayantara.tv – Perjalanan riset partisipatif aktif yang digagas oleh Bamboo Spirit Nusantara Support System memasuki fase yang semakin mendalam. Kali ini, langkah penggalian nilai peradaban membawa tim riset menuju Dusun Pucang Songo, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Di tempat yang sejuk dan sarat energi kultural itu, dialog hangat terjalin bersama Mbah Hari, pengasuh Padepokan Pandowo Mijil. Fokus perbincangan adalah “Peradaban SURUH SIRIH” sebuah simbol hidup yang diyakini menyimpan nilai filosofis, spiritual, dan sosial yang mendalam.

Suruh Sirih: Simbol Temu Roso

Daun suruh sirih di Pucang Songo memiliki kekhasan tersendiri. Ukurannya lebih besar dari suruh pada umumnya, dengan tulang daun dan temu ros yang istimewa. Bagi masyarakat setempat, ini bukan sekadar tanaman, melainkan simbol “Temu Roso”  perjumpaan rasa sejati dalam diri manusia.

Dalam pandangan Pandowo Mijil, “Temu Roso Orep Sejati” adalah proses kesadaran yang mempertemukan manusia dengan lima esensi dirinya:

  • Rasa Badan Batin
  • Rasa Badan Pikir
  • Rasa Badan Jiwa
  • Rasa Badan Sukma
  • Rasa Badan Ruh

Kelima unsur tersebut menyatu secara utuh, komprehensif, dan aplikatif dalam gerak kehidupan melalui ucapan, tindakan, dan pikiran yang selaras.

KITAB BATIK: Antara Tersurat dan Tersirat

Dalam ajaran yang berkembang, dikenal istilah KITAB-BATIK. Yang tertulis disebut sebagai “Kitab Garing”sebatas wawasan. Seseorang bisa berbicara indah, tetapi belum tentu mampu menjalani.

Sebaliknya, yang hidup di dalam batin disebut “Kitab Teles” atau “Kitab Basah” ajaran yang meresap dalam rasa, yang menyatu antara lahir dan batin. Di sanalah Temu Roso Orep Sejati menemukan wadahnya.

BATIK SURUH SIRIH kemudian menjadi simbol kesatuan pikiran, ucapan, dan tindakan. Di lingkungan Satgas Mata Air Nusantara, batik ini digunakan sebagai lambang sinkronisasi lahir batin, dalam semangat saresehan tanpa guru, tanpa murid, semua belajar bersama dengan rendah hati dan cermat.

Dua Jalur Peradaban: Rahmat atau Rimba

Riset ini juga menggarisbawahi dua jalur besar peradaban Jalur Rahmatan Lil Alamin  Jalan kasih sayang, keadilan, dan kebermanfaatan bagi semesta dan Jalur Rimba Jalur dominasi dan penjajahan, baik secara halus maupun kasar. Sistem yang memeras, membuli, dan mengeksploitasi kehidupan orang lain.

Pilihan jalur inilah yang menentukan wajah peradaban apakah membangun kesejahteraan sejati atau sekadar memperluas kekuasaan.

Pemberdayaan dari Dalam Keluar

Konsep yang diusung adalah “Daya Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan” kesadaran bahwa kualitas manusia tidak diukur oleh situasi eksternal, melainkan oleh kedalaman jati dirinya.

Manusia seharusnya memimpin situasi, bukan dipimpin oleh tekanan luar yang mengatur nilai dan kelayakan dirinya. Setiap pribadi memiliki kodrat, irodzat, serta bidang pengabdian yang selaras dengan akal, pikir, dan hatinya.

Batik Berfilosofi: Soft Power Nusantara

Dalam kerangka ini, batik tidak sekadar kain bermotif. Ia adalah soft power Nusantara energi bersih budaya yang tegak lurus pada kesejatian, kemurnian, dan kesucian nilai.

Narasi yang dihidupkan berbunyi:

“Pena sehati dan akal sehati serta keluarga sehati, kampung sehati, bangsa sehati.”

Dari sinilah lahir arah gerakan Dhaya, Dharma, dan Dhana kekuatan, kebajikan, akhlak, budi pekerti luhur, serta keadilan dan kesejahteraan sejati.

Perjalanan riset di Pucang Songo bukan sekadar dokumentasi budaya. Ia adalah ikhtiar membangkitkan kembali kesadaran peradaban bahwa kesejatian tidak lahir dari dominasi, melainkan dari keselarasan rasa.

Purwosari, Pasuruan
Sabtu, 28 Februari 2026

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *