Saujana Borobudur Resmi Berdiri, Usung Sinergi Peradaban Mataram Kuno hingga Modern
Purwosari, – Budayantara.tv Sebuah inisiatif kebudayaan berskala besar resmi dideklarasikan dengan lahirnya konsep Saujana Borobudur Peradaban Kehidupan Mataram Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik. Peresmian ini digelar pada Kamis Legi pukul 17:55 WIB, menandai babak baru dalam upaya merajut kembali nilai-nilai peradaban Nusantara berbasis warisan luhur Candi Borobudur.
Deklarasi tersebut merupakan kulminasi dari rangkaian peristiwa budaya yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, termasuk Kenduri Agung dan Kirab Pradaksina 2023 hingga perumusan konseptual pada April 2026. Inisiatif ini diposisikan sebagai gerakan lintas generasi yang bertujuan menghidupkan kembali “jiwa peradaban” Mataram dalam konteks kekinian.
Empat Tokoh, Satu Gagasan Peradaban
Saujana Borobudur diinisiasi oleh empat tokoh dari latar belakang berbeda, yakni Guntur Bisowarno, Begawan Nangsir, Ki Tohari, dan Alfi Syahri Lubis. Mereka menyatukan visi besar untuk menjadikan Borobudur bukan sekadar situs sejarah, melainkan pusat energi kebudayaan dan peradaban masa depan.
Menurut Guntur Bisowarno, Borobudur diibaratkan sebagai “hard disk peradaban”, sementara Saujana menjadi “file system” yang memungkinkan nilai-nilai tersebut dapat diakses dan dijalankan oleh generasi masa kini.
Empat Pilar Peradaban
Konsep Saujana dibangun di atas empat pilar utama yang saling melengkapi:
Mataram Baru: Fokus pada inovasi teknologi, media, dan pemberdayaan generasi muda
Kuno: Pelestarian tradisi, kaweruh, dan nilai adiluhung
Modern: Kolaborasi lintas negara, akademisi, dan jaringan global
HORAIZO Klasik: Peneguhan harmoni manusia, alam, dan ilmu
Keempat pilar ini dirancang sebagai satu kesatuan sistemik—kehilangan satu unsur saja dinilai dapat melemahkan keseluruhan arah kebijakan.
Standar Nilai: DUR dan ISI ISO
Saujana Borobudur mengusung prinsip DUR (Dignity Universal Responsibility) sebagai landasan etik, yang menekankan tanggung jawab universal dalam setiap tindakan. Selain itu, diterapkan standar ISI ISO 152048 yang menolak praktik “ISU SUE” atau wacana tanpa bukti nyata.
Setiap program diwajibkan menghasilkan dua hal utama: Shine (inspirasi) dan Sign (jejak konkret), guna memastikan bahwa setiap aktivitas memiliki dampak nyata sekaligus nilai spiritual.
Dukungan Lintas Elemen
Inisiatif ini melibatkan sedikitnya 21 elemen kebudayaan dari berbagai bidang, mulai dari praktisi seni, akademisi, jurnalis, hingga komunitas internasional. Salah satu tokoh akademik, Damarjati Supadjar, menyebut bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan menghidupkan kembali nilai-nilai Borobudur dalam konteks modern.
Arah ke Depan
Ke depan, Saujana Borobudur dirancang sebagai pusat aktivitas budaya dan intelektual, termasuk workshop generasi muda, kenduri budaya, riset enerologi, hingga produksi karya seperti batik filosofis, arsitektur bambu, dan literasi berbasis nilai DUR.
Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan tradisi dan inovasi, Saujana diharapkan menjadi model peradaban baru yang tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.
Di tengah arus globalisasi yang kerap menggerus identitas lokal, kehadiran Saujana Borobudur menjadi pengingat bahwa masa depan dapat dibangun dengan menjejak kuat pada akar budaya sendiri.


