Jakarta,- Budayantara.tv Suasana di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, tampak lebih sibuk dari biasanya pada Senin (23/2/2026). Tumpukan timun suri berwarna kuning pucat memenuhi lapak-lapak pedagang. Buah musiman ini kembali menjadi primadona seiring meningkatnya permintaan selama bulan Ramadan.
Sejumlah pedagang mengaku penjualan timun suri melonjak hingga 50 persen dibandingkan hari biasa. Dalam sehari, mereka mampu menjual sekitar 2 hingga 4 ton timun suri dengan harga berkisar Rp6.500 hingga Rp8.000 per kilogram.
“Kalau sudah masuk Ramadan, pembeli makin ramai. Biasanya buat campuran es buah atau minuman segar untuk buka puasa,” ujar salah satu pedagang.
Timun suri memang identik dengan Ramadan. Sejak era 1970-an, khususnya di Jakarta, buah berdaging lembut ini populer sebagai campuran minuman takjil. Teksturnya yang halus dan kandungan airnya yang tinggi menjadikannya pilihan tepat untuk menghilangkan dahaga setelah seharian berpuasa.
Fenomena ini tak lepas dari strategi para petani yang sengaja mengatur masa tanam agar waktu panen bertepatan dengan bulan puasa. Permintaan yang melonjak drastis mendorong pasokan ikut ditingkatkan. Daerah sentra budidaya timun suri di Pulau Jawa antara lain Cirebon, Bekasi, dan Pandeglang.
Menariknya, di luar Ramadan, budidaya timun suri cenderung menurun. Sebagian petani bahkan mengganti lahannya dengan komoditas lain yang lebih stabil permintaannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemunculan timun suri secara masif setiap bulan puasa murni didorong oleh tingginya kebutuhan pasar.
Tak hanya pedagang buah, para penjual takjil pun turut merasakan berkahnya. Minuman segar berbahan dasar timun suri menjadi salah satu menu favorit masyarakat dari berbagai kalangan.
Dengan permintaan yang terus meningkat setiap tahunnya, timun suri tak sekadar buah musiman, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Ramadan di Indonesia.**




