Home / News / Perayaan Peradaban Sungai Bagawanta Bahri Kediri Nusantara

Perayaan Peradaban Sungai Bagawanta Bahri Kediri Nusantara

Ibu, Guru & Petani: Induk Peradaban Dunia

Oleh: Guntur Bisowarno
Praktisi Peradaban Sungai Nusantara

Kediri, Jawa Timur – Peradaban besar dunia selalu lahir dari air. Sungai menjadi nadi kehidupan, sumber pangan, dan pusat berkembangnya budaya manusia. Di Nusantara, jejak peradaban sungai itu masih hidup hingga kini, salah satunya di wilayah Kediri melalui kisah Sungai Serinjing dan tokoh spiritual kuno Hyang Bagawanta Bhari.

Berdasarkan keputusan Bamboo Spirit Nusantara Support System Purwosari, Kabupaten Pasuruan, pada tahun 2022 ditetapkan bahwa Ibu, Guru, dan Petani adalah Induk Peradaban Dunia. Ketetapan ini juga berkaitan dengan penetapan Hari Mata Air Dunia yang dilangsungkan di Sumber Mata Air DariSA, Dusun Kucur, Desa Sumberejo, Kecamatan Purwosari, Pasuruan, di lereng Gunung Arjuno pada 29 Juli 2019.

Semangat ini kembali dihidupkan dalam momentum Menyongsong Metri Hyang Bagawanta Bhari ke-1222, sebuah peringatan spiritual dan budaya yang menegaskan kembali pentingnya menjaga air, sungai, dan warisan leluhur Nusantara.

Sungai Serinjing: Jejak Tua Peradaban Air Kediri

Sungai Serinjing merupakan salah satu sungai tua di wilayah Kediri yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Jawa Timur.

Sungai ini sering dikaitkan dengan tokoh spiritual Jawa kuno Hyang Bagawanta Bhari, yang disebut dalam Prasasti Harinjing dari masa kerajaan Jawa Kuno. Sungai ini sejak berabad-abad lalu menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Pada masa kerajaan Jawa kuno sekitar abad ke-9 hingga ke-10, kawasan di sekitar Sungai Serinjing dikenal sebagai daerah yang kaya sumber mata air. Air sungai ini menyuburkan sawah, memberi kehidupan bagi desa-desa, serta menjadi jalur kehidupan masyarakat agraris.

Siapakah Hyang Bagawanta Bhari?

Dalam sejarah Jawa kuno, Bagawanta Bhari dikenal sebagai seorang pendeta agung yang disebutkan dalam Prasasti Harinjing A (804 Masehi).

Beliau dikenal sebagai tokoh yang membangun tanggul dan saluran air di Sungai Harinjing pada masa pemerintahan Raja Rakai Warak Dyah Wanara. Peran Bagawanta Bhari sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat saat itu, terutama dalam pengelolaan air untuk pertanian.

Sebagai bentuk penghormatan, keturunan beliau kemudian diberikan status Sima atau tanah bebas pajak oleh Raja Rakai Layang Dyah Tulodong, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Harinjing B.

Hal ini menunjukkan bahwa tokoh spiritual pada masa itu bukan hanya menjadi pemimpin rohani, tetapi juga berperan dalam membangun sistem kehidupan masyarakat yang harmonis dengan alam.

Prasasti Harinjing: Bukti Artefak Peradaban Nusantara

Prasasti Harinjing juga dikenal sebagai Prasasti Sukabumi ditemukan di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri.

Prasasti ini menjadi salah satu peninggalan penting yang menandai awal sejarah Kabupaten Kediri. Selain itu, prasasti ini juga merupakan salah satu bukti tertua penggunaan aksara Jawa Kuno.

Isi prasasti tersebut terbagi menjadi tiga bagian utama:

Prasasti Harinjing A (804 M)
Menceritakan Bagawanta Bhari yang membangun tanggul dan saluran air untuk masyarakat.

Prasasti Harinjing B (921 M)
Menegaskan kembali pemberian status Sima (tanah bebas pajak) kepada keturunan Bagawanta Bhari.

Prasasti Harinjing C (927 M)
Merupakan keputusan kerajaan untuk menuliskan peristiwa tersebut pada batu agar menjadi bukti resmi yang sah.

Prasasti ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara sejak dahulu telah memiliki pengetahuan tentang pengelolaan air dan lingkungan.

Filosofi Peradaban Sungai

Bagi masyarakat Jawa, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah simbol kehidupan dan pusat refleksi spiritual.

Ada beberapa makna penting dari keberadaan sungai dalam peradaban Jawa:

  1. Sungai sebagai simbol kehidupan

Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, manusia, hewan, dan tumbuhan tidak akan bertahan.

Maknanya jelas:
manusia wajib menjaga alam agar kehidupan tetap berlangsung.

  1. Menghormati leluhur

Kisah Hyang Bagawanta Bhari mengingatkan bahwa peradaban Nusantara dibangun oleh orang-orang bijaksana yang hidup selaras dengan alam.

Kita hidup di atas warisan kebijaksanaan para leluhur.

  1. Keselarasan manusia dan alam

Masyarakat Jawa kuno telah memahami pentingnya menjaga hutan, mata air, dan sungai.

Filosofi ini dikenal dalam ajaran Jawa:

“Hamemayu Hayuning Bawana”

Artinya menjaga keindahan dan keseimbangan dunia.

  1. Tempat spiritual dan refleksi

Bantaran sungai sejak dahulu sering menjadi tempat bertapa, berdoa, dan merenung.

Di tempat seperti inilah manusia berusaha menyatu dengan alam dan menghormati leluhur.

Pesan Peradaban Sungai Serinjing

Dari kisah Sungai Serinjing dan Hyang Bagawanta Bhari, ada pesan penting bagi generasi sekarang:
Jangan melupakan sejarah,Hormati leluhur,Jaga alam dan Hidup selaras dengan semesta

Dalam pepatah Jawa disebutkan:

“Sungai adalah nadi bumi dan jati diri manusia. Tugas kita adalah menjaga serta melestarikannya.”

Menyongsong Metri Hyang Bagawanta Bhari ke-1222

Dalam rangka memperingati warisan peradaban tersebut, akan diselenggarakan acara:

Metri Hyang Bagawanta Bhari ke-1222 Bantaran Sungai Serinjing, Kedungcangkring
Desa Jambu, KediriSelasa, 24 Maret 2026.Pukul 21.00 WIB – selesai

Acara ini menjadi momentum kebersamaan masyarakat untuk merawat sungai, menjaga alam, dan menghormati warisan leluhur Nusantara.

Masyarakat yang hadir dipersilakan membawa:
Semangat kebersamaan,Teman dan keluargaTumpeng,Polo pendem,Polo gantung,Jajan pasar,Minuman herbal
Air mineral atau kopi,Sembako dan Tim pentas seniKabar bahagia.

Menjaga Sungai, Menjaga Semesta

Perayaan ini bukan sekadar acara budaya, tetapi juga pengingat bahwa peradaban besar lahir dari kesadaran menjaga alam.

Dengan merawat sungai, kita sebenarnya sedang merawat kehidupan.

Mari bersama melestarikan ajaran Hyang Bagawanta Bhari.
Mari merawat sungai.
Mari merawat semesta.

Salam dari Kami
Plentas Plentus Kali Harinjing.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *