Cahaya Lentera Malam Kranggan, ketika jalanan menjadi ruang belajar tentang keberanian, kreativitas, dan kemandirian
Bekasi — Budayantara.tv Malam di sepanjang Jalan Wijayakusuma, Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, Minggu (4/10/2026), menjadi ruang belajar yang berbeda bagi tiga anak binaan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.
Mereka adalah Amar Rojak, Dwi Pratama, dan Krisna Mas Sanjaya. Di tengah hiruk-pikuk jalanan, ketiganya belajar menyanyi, berkomunikasi, sekaligus berlatih menjadi pribadi yang berani dan mandiri.
Mengamen bagi mereka bukan semata-mata tentang mencari uang. Ada proses pendidikan karakter yang sedang dibangun: keberanian tampil di hadapan orang lain, kemampuan berkomunikasi, menghargai orang lain, hingga belajar bertanggung jawab terhadap kebutuhan diri dan keluarga.
“Kami selalu meyakinkan anak-anak bahwa mengamen itu bukan sesuatu yang hina. Mereka bukan meminta-minta, apalagi menipu atau mengambil hak orang lain. Mereka memberikan hiburan dengan kemampuan yang mereka miliki,” demikian prinsip yang terus ditanamkan kepada mereka.
Jalanan pun dipandang sebagai kelas kehidupan. Di sana mereka bertemu dengan beragam karakter masyarakat. Mereka belajar bagaimana menyapa dengan sopan, menyanyi dengan baik, menciptakan suasana yang menyenangkan, dan menghargai setiap orang yang mereka temui.

Yang membuat perjuangan mereka semakin berarti, aktivitas tersebut tidak membuat mereka meninggalkan pendidikan.
Amar Rojak saat ini duduk di kelas 3 SD. Sementara Dwi Pratama berada di kelas 6 SD melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dinas Pendidikan Kota Depok di Harjamukti, Cimanggis. Adapun Krisna Mas Sanjaya duduk di kelas 7 SMP Global Chandra Baga, Jatiraden, Jatisampurna, Kota Bekasi.
Setiap hari mereka mungkin harus berpeluh dan berdebu di jalanan. Namun, sekolah tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka.
Mengamen, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan. Ia menjadi sebuah proses untuk mengajarkan bahwa kemandirian harus tumbuh bersama pendidikan, kreativitas, keberanian, dan tanggung jawab.
Ada harapan sederhana di balik setiap lagu yang mereka nyanyikan: kelak mereka mampu berdiri dengan kaki sendiri, tetap bersekolah, memiliki keterampilan, dan tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Malam di Kranggan akhirnya bukan hanya tentang suara musik dan langkah kaki di tepi jalan.
Ia menjadi cahaya lentera kecil yang menerangi perjalanan tiga anak untuk mengenal kehidupan belajar berani, belajar mandiri, dan tetap menjaga mimpi.***




