Sembah sujud mring Gusti Kang Murbeng Dumadi, Pangeran Kang Moho Suci.
Surakarta, – Budayantara.tv Malam ini, di bawah payung langit Surakarta, kami bersimpuh di pelataran Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah. Di tempat yang mengakar pada tradisi, kami mengetuk pintu langit, memohon rida dan keselamatan untuk esok malam, saat bait-bait puisi dilarung menjadi musik yang menghidupkan jiwa.
Hong wilaheng sekarep mulyaning jagad.
Jauhkanlah kami dari rubeda dan memala, dari segala marabahaya yang tampak maupun yang senyap. Singkirkanlah petaka yang dibawa angin malam, bersihkanlah tempat ini dari sengkala yang berniat merusak kesucian rasa. Sembari mengenang 91 tahun sang maestro, W.S. Rendra, kami menghidupkan kembali apinya—api yang memurnikan, api yang mengolah daya hidup, bukan api yang menghanguskan.
Gusti Kang Moho Asih
Jadikanlah konser musikalisasi puisi esok sebagai payung pelindung, bagai waringin kurung yang mengayomi. Biarlah setiap petikan nada menjadi doa penolak bala, dan setiap larik puisi menjadi mantra penyembuh. Sucikanlah niat kami, kuatkanlah raga kami, dan lembutkanlah hati setiap jiwa yang hadir agar selaras dengan alam semesta.
Sing adoh mrono, sing cedhak mreneo.
Yang membawa keburukan, menjauhlah. Yang membawa keselamatan dan keindahan, mendekatlah. Semoga harmoni nada dan kata esok malam mengalir tanpa rintangan, melintasi waktu, meneguhkan daya hidup kami semua.
Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.
Surakarta, 8 November 2026
Panitia Penyelenggara
Konser Musikalisasi Puisi “Mengolah Daya Hidup: Memperingati 91 Tahun W.S. Rendra”




