Home / News / MEI 2026: Bulan Ismail Marzuki, Menyalakan Kembali Nada Cinta dan Bangsa

MEI 2026: Bulan Ismail Marzuki, Menyalakan Kembali Nada Cinta dan Bangsa

Jakarta, – Budayantara.tv Bulan Mei tahun ini diusulkan menjadi momen istimewa: Bulan Ismail Marzuki. Gagasan tersebut lahir dari tangan sastrawan dan budayawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), yang sejak lama menulis skenario film biopik tentang sang komponis pejuang dari lahir hingga wafatnya.

Nama Ismail Marzuki bukanlah nama asing dalam sejarah Indonesia. Pada 1968, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengabadikan namanya sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini. Lalu pada 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.

Bang Maing demikian ia akrab disapa lahir pada 11 Mei 1914 di Kwitang dan wafat pada 25 Mei 1958 di Kampung Bali, Tenabang. Atas dasar bulan kelahiran dan wafatnya itulah, CGR menggagas Mei sebagai bulan penghormatan nasional terhadap sosok yang menuliskan sejarah bangsa lewat nada.Chairil Gibran Ramadhan (CGR),dalam catatan singkatnya.Senin (16/2/2026).

Komponis Revolusi dalam Setiap Nada

Menurut CGR, Ismail Marzuki adalah satu-satunya komponis nasional yang berhasil merekam setiap denyut Revolusi Indonesia ke dalam lagu. Karya-karyanya seperti “Gugur Bunga”, “Rayuan Pulau Kelapa”, “Halo-Halo Bandung”, dan “Indonesia Tanah Pusaka” bukan sekadar lagu melainkan arsip emosional bangsa. Ia menguatkan nasionalisme sekaligus menghadirkan haru mendalam tentang Indonesia yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Sisi romantisnya pun tak kalah abadi lewat “Juwita Malam”, “Sabda Alam”, “Aryati”, hingga “Payung Fantasi”. Bahkan dinamika sosial keislaman masyarakat Betawi pun ia abadikan dalam “Selamat Hari Lebaran”, lagu yang terus berkumandang lintas generasi.

Pengakuan atas kebesarannya datang dari berbagai pihak. Pada 2008, Rolling Stone Indonesia menobatkannya sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis klasik Ananda Sukarlan bahkan menciptakan “Concerto Marzukiana” untuk piano, biola, dan harpa membuktikan bahwa karya Ismail Marzuki melampaui zaman dan genre.

Museum yang Tak Pernah Berdiri

Namun di balik penghormatan itu, terselip kisah pilu. Rachmi Aziah, putri semata wayang Ismail Marzuki, mengungkap bahwa pada masa Gubernur DKI Sutiyoso, barang-barang peninggalan sang ayah diminta untuk dibawa ke TIM dengan janji pendirian Museum Ismail Marzuki.

Hingga 2017, museum itu tak kunjung terwujud. Barang-barang tersebut, menurut Rachmi, hanya diletakkan tanpa perawatan memadai. Bahkan ketika CGR ingin melihatnya, ia tidak diperkenankan oleh pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

“Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum bapak berdiri,” ujar Rachmi kepada CGR, berharap ada langkah nyata untuk mengabadikan warisan sejarah itu.

Film yang Tertahan di Meja Produksi

Perjuangan CGR tak berhenti pada museum. Pada 2018, ia mengajukan pembuatan film dokumenter ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, namun kandas di ujung proses dengan alasan administratif. Upaya mencari dukungan hingga ke Jawa Barat pun tak membuahkan hasil berarti.

Padahal, Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) telah menyatakan kesiapan memproduksi film tersebut. Sutradara senior Enison Sinaro pengajar di Institut Kesenian Jakarta menyebut bahwa rencana serupa pernah muncul sejak 1995, melibatkan nama-nama besar seperti Mira Lesmana dan Fariz RM, namun tak terealisasi.

Kini, menurut pihak PPFN, naskah karya CGR dinilai matang dan siap produksi. Skenario itu menampilkan perjalanan hidup Ismail Marzuki secara utuh dari kelahiran, percintaan, proses kreatif, nasionalisme, hingga wafatnya yang dramatis menjelang Dzuhur, 25 Mei 1958, di Tenabang.

Gerakan Lintas Identitas

Untuk merealisasikan Bulan Ismail Marzuki, CGR berencana menggandeng berbagai lembaga seperti Sinematek Indonesia, RRI, Perpusnas RI, Arsip Nasional RI, perguruan tinggi, budayawan, hingga kalangan pers. Gerakan ini, tegasnya, berdiri di atas kepentingan kebudayaan nasional melampaui suku, agama, dan partai politik.

Sebagai langkah perlindungan gagasan, ia bahkan berencana mendaftarkan inisiatif ini ke Dirjen HAKI agar tidak diklaim pihak lain.

Menyalakan Kembali Api Nasionalisme

Di tengah perdebatan tentang nasionalisme, patriotisme, dan keutuhan NKRI, gagasan menjadikan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki terasa relevan. Lagu-lagunya tidak pernah lekang oleh zaman. Ia menulis bukan hanya dengan pena dan partitur, tetapi dengan cinta pada tanah air.

Mei 2026 bukan sekadar peringatan kelahiran dan wafat seorang komponis. Ia bisa menjadi momentum kolektif untuk mengingat bahwa Indonesia pernah dan selalu memiliki nada yang menyatukan: nada cinta dan bangsa, yang digubah oleh Ismail Marzuki.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *