Jakarta – Budayantara.tv Minggu pagi itu, langit di Kabupaten Agam tak sekadar mendung ia seolah menjadi saksi bisu atas perpisahan yang tak biasa. Ketika ribuan langkah pelayat mengiringi kepergian Angku Yus Dt. Parpatiah menuju pandam pakuburan keluarga di Ikua Koto, suasana terasa lebih dari sekadar duka. Alam seperti ikut merunduk, memberi penghormatan terakhir pada seorang maestro adat yang sepanjang hidupnya menuntun banyak hati.
Namun, di balik keramaian pelayat yang memadati Nagari Sungai Batang, ada sisi lain yang jarang terlihat: keheningan yang menyusup di antara isak tangis. Bukan hanya kehilangan seorang tokoh, tetapi hilangnya “suara penyeimbang” dalam kehidupan adat Minangkabau. Angku Yus bukan sekadar pemuka adat ia adalah penjaga makna, penerjemah nilai, dan jembatan antara tradisi dan zaman.
Kepergiannya pada Sabtu sore (28/3/2026) pukul 16.30 WIB meninggalkan ruang kosong yang tak mudah diisi. Petuah-petuahnya, yang selama ini tersebar luas hingga ke berbagai penjuru dunia, kini hanya bisa dikenang bukan lagi didengar langsung dari sosok yang dikenal ramah dan penuh kebijaksanaan itu.

Di lokasi pemakaman, kehadiran berbagai tokoh daerah hingga masyarakat dari beragam kalangan menunjukkan satu hal: Angku Yus bukan milik satu kelompok, melainkan milik banyak hati. Dari pejabat pemerintahan hingga anak kemenakan suku Caniago, semua hadir dengan satu perasaan yang sama kehilangan arah panutan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Dr. M. Lutfie, AR, tampak larut dalam duka. Baginya, Angku Yus adalah lebih dari sekadar tokoh adat. Ia adalah sumber rujukan, tempat bertanya tentang bagaimana nilai-nilai adat dapat berjalan seiring dengan kebijakan pemerintahan. Sebuah peran yang tidak semua orang mampu jalankan.
Namun, mungkin yang paling terasa bukanlah apa yang telah hilang, melainkan apa yang tersisa. Warisan nilai. Petuah yang hidup. Dan jejak pemikiran yang akan terus menjadi kompas bagi generasi berikutnya.
Di media sosial, ucapan duka terus mengalir. Dari layar-layar kecil, doa-doa dipanjatkan, seolah ingin memastikan bahwa meski raganya telah pergi, namanya tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Hari itu, pemakaman bukan sekadar akhir perjalanan. Ia menjadi pengingat bahwa seorang manusia bisa pergi, tetapi makna yang ia tanamkan bisa tetap tinggal, tumbuh, dan mengakar.
Selamat jalan, Angku Yus Dt. Parpatiah.
Langit telah bersaksi, bumi pun akan terus mengingat.**




