Kolaborasi Spiritual-Intelektual: Pesan Ilmu Pohon OAK dan Eyang Semar Menggema dari Pasuruan
Pasuruan, Jawa Timur – Budayantara.tv Sebuah momentum penting dalam penguatan nilai kolaborasi berbasis spiritual dan intelektual kembali tercipta di Pasuruan. Pertemuan yang melibatkan tokoh budaya dan pemikir lintas bidang ini menghadirkan gagasan mendalam tentang sinergi, kesadaran, serta keberlanjutan peradaban.
Kegiatan ini mempertemukan Ki Tohari, pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, bersama Alfi Syahri Lubis, pimpinan pusat redaksi media independen Skalainfo.net. Diskusi berlangsung hangat pasca acara saresehan bertajuk “Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan” yang digelar di Padepokan Pasuruan 1, Tumenggungan Pohjentrek.
Acara tersebut turut menghadirkan dalang Ki Bondan Rio Prambanan dengan materi Sastra Jawa dan Wayang Ringgit Purwo Klasik, serta dihadiri para sesepuh budaya, pengurus, dan tokoh seperti Ki Winarno Sabda dari Ngesti Wedharing Budaya.
Menggali Filosofi: Pohon OAK dan Eyang Semar

Diskusi berkembang pada upaya membaca ulang filosofi kehidupan melalui simbol pohon OAK dan figur Eyang Semar Bodronoyo. Keduanya dipandang sebagai representasi kearifan, keteguhan, serta kesadaran sejati dalam kehidupan manusia.
Melalui pendekatan ini, para peserta menekankan pentingnya membangun kesadaran rasa yang tidak reaktif, melainkan reflektif dan bijaksana. Filosofi tersebut diyakini mampu meredam konflik emosional sekaligus memperkuat harmoni sosial.
Kolaborasi Bukan Sekadar Diplomasi
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa kolaborasi memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar diplomasi.
Jika diplomasi cenderung bersifat transaksional, kolaborasi justru menekankan pada.Peleburan nilai dan pengetahuan.Sinergi lintas bidang dan peran.Penyatuan visi untuk tujuan bersama dan Konsep yang diusung dikenal dengan istilah “Sinergi Bersinergi Bersih Energi”, yakni kolaborasi yang bebas dari kepentingan ego dan berlandaskan energi positif serta kesadaran jiwani.
Artefak Sejarah Baru dari Lawang
Gagasan besar tersebut bukan hanya berhenti pada diskursus. Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik dengan lakon “Bodronoyo Mbangun Kerukunan” yang digelar di Hotel OAK Lawang pada 31 Januari 2026 telah melahirkan dampak nyata.
Peristiwa ini menjadi tonggak lahirnya Satgas Peduli Mata Air Nusantara, yang kemudian diperkuat melalui penandatanganan MoU pada 28 Maret 2026.
Gerakan ini telah menjalankan berbagai program konkret, antara lain.Pelestarian sumber mata air.Penanaman pohon cemara gunung.Saresehan ekonomi hijau dan Inisiasi dana abadi pendidikan
Langkah tersebut berkontribusi langsung terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada sektor air bersih, perubahan iklim, dan ekosistem daratan.
Menuju Peradaban Berkelanjutan Tengger Bromo
Kolaborasi ini juga membuka peluang sinergi ekonomi antara Hotel OAK Lawang dan masyarakat Tengger Bromo. Pemanfaatan produk lokal seperti kentang, kubis, dan bawang prei dinilai mampu memperkuat ekonomi sekaligus menjaga kearifan lokal.
Selain itu, masyarakat Tengger yang dikenal memiliki peradaban luhur dalam menjaga alam berpotensi menjadi mitra strategis dalam membangun pariwisata berkelanjutan.
Kolaborasi Multidimensi untuk Masa Depan
Kolaborasi yang terbangun dalam rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa sinergi multidimensi melibatkan aspek spiritual, intelektual, sosial, dan ekologis mampu melahirkan dampak nyata.
Konsep kolaborasi sinergi bersinergi bersih energi menjadi fondasi baru dalam membangun peradaban yang lebih harmonis, berkelanjutan, dan berkesadaran tinggi.
Penulis: Guntur Bisowarno
Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System




