Bogor, – Budayantara.tv Isu pelestarian budaya kembali mencuat di Bogor setelah muncul kritik yang menyebut pemerintah daerah dinilai belum serius menjaga warisan budaya Sunda. Tokoh yang dikenal sebagai KDM menilai Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota Bogor masih miskin gagasan dan komitmen dalam mengembangkan budaya pribumi yang menjadi akar sejarah wilayah tersebut.
Bogor sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah tanah Sunda. Wilayah ini dikenal sebagai pusat peradaban masa lalu yang berkaitan erat dengan kejayaan Kerajaan Pakuan Pajajaran selama lebih dari seribu tahun. Karena itu, sejumlah penggiat budaya menilai pelestarian identitas Sunda seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah.
Menurut KDM, situasi saat ini justru memperlihatkan fenomena yang dianggap janggal. Di wilayah yang disebut sebagai “ibu kandung peradaban Sunda”, ruang budaya dinilai semakin dipenuhi oleh berbagai pengaruh dari luar, baik dalam bentuk budaya, identitas bangsa lain, maupun narasi yang datang dari luar daerah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penghormatan terhadap pluralitas dan kemajemukan tetap penting. “Bogor tentu terbuka bagi berbagai budaya dan agama. Namun perlu diingat bahwa akar budaya dan silsilah historis masyarakat Bogor adalah Sunda,” ujarnya.
Ia menilai, budaya dari luar tetap dapat berkembang di Bogor selama berjalan dengan etika serta tidak mendominasi ruang budaya lokal. Dalam pandangannya, masyarakat Sunda merupakan pewaris utama tradisi dan nilai-nilai yang berasal dari masa Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Karena itu, KDM mendorong adanya arahan langsung kepada para pemangku kepentingan di Kota dan Kabupaten Bogor agar pembangunan daerah memiliki visi budaya yang lebih kuat. Ia berharap pemerintah daerah mampu menghadirkan kebijakan yang berkelanjutan dan tidak sekadar bersifat simbolik.
Sementara itu, penggiat budaya Sunda dari komunitas Budayantara Jawa Barat, Ustad Ahmad Suhadi, juga menyoroti kondisi serupa. Ia menilai berbagai kegiatan budaya yang berjalan saat ini masih sebatas seremonial.
Menurutnya, program kebudayaan sering kali lebih menekankan pada kegiatan formal atau acara yang menyerap anggaran, namun belum menyentuh nilai-nilai mendalam dari warisan budaya Pasundan.Jumat (6/3/2026).
“Pelestarian budaya seharusnya tidak hanya berhenti pada festival atau seremoni. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai budaya Sunda diwariskan dan hidup dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Para penggiat budaya berharap pemerintah daerah dapat memperkuat strategi kebudayaan, mulai dari pendidikan, ruang publik, hingga kebijakan pembangunan yang menempatkan identitas budaya Sunda sebagai fondasi utama Bogor di masa depan.**




