Home / News / Intelektualisme Kosmetik Dalam Dunia Seni Budaya

Intelektualisme Kosmetik Dalam Dunia Seni Budaya

Oleh : Adipatilawe
(Sutradara Teater Jiwa Jakarta)

Jakarta,- Budayantara.tv Di banyak ruang seni hari ini, kita menyaksikan sebuah gejala yang tampak canggih namun rapuh: intelektualisme kosmetik. Ia hadir dalam proposal yang tebal, diskusi yang dipenuhi istilah asing, dan katalog pameran yang lebih sulit dipahami daripada karya itu sendiri. Ia terdengar akademik, tampak teoritik, tetapi sering kali tidak menyentuh jantung penciptaan.
Intelektualisme kosmetik adalah ketika teori dipakai sebagai riasan, bukan sebagai fondasi.
Ia bukan proses berpikir.
Ia adalah strategi tampilan.

Teori sebagai Aksesori

Dalam sejarah seni, teori memang penting. Bertolt Brecht merumuskan teori bukan untuk terlihat pintar, tetapi untuk membongkar ilusi panggung dan membangunkan kesadaran penonton. Konstantin Stanislavski membangun sistem akting bukan demi gengsi intelektual, tetapi untuk mencapai kejujuran batin aktor.
Namun hari ini, teori sering dipakai seperti aksesori fesyen. Ia digantungkan di leher karya agar tampak “serius”. Kutipan dari Michel Foucault atau Jacques Derrida ditempelkan tanpa benar-benar dipahami. Nama besar menjadi tameng legitimasi.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah teori itu membongkar karya?
Ataukah hanya membungkus kelemahannya?

Seni yang Takut pada Kesederhanaan

Ada ketakutan besar dalam dunia seni kontemporer: takut dianggap dangkal.
Akibatnya, banyak seniman merasa perlu “menaikkan level intelektual” karyanya dengan bahasa yang rumit. Dramaturgi yang seharusnya menjadi ruang tafsir berubah menjadi ruang intimidasi. Penonton dipaksa merasa bodoh jika tidak memahami referensi teoritik yang berlapis-lapis.
Padahal, kedalaman tidak selalu berbanding lurus dengan kerumitan bahasa.
Peter Brook pernah menegaskan bahwa panggung kosong pun bisa menjadi peristiwa teater yang kuat. Kesederhanaan bukan kemiskinan intelektual. Ia bisa menjadi keberanian.
Intelektualisme kosmetik justru lahir dari ketidakpercayaan diri:
seakan-akan karya tidak cukup kuat tanpa label konseptual.

Produksi Wacana, Bukan Produksi Karya

Gejala lain dari intelektualisme kosmetik adalah pergeseran orientasi: dari penciptaan karya menuju produksi wacana.
Diskusi lebih panjang dari proses latihan.
Seminar lebih ramai daripada pertunjukan.
Istilah “dramaturg”, “poskolonial”, “dekonstruksi”, “intertekstualitas” beredar cepat, tetapi tubuh aktor kosong dari pengalaman.
Saya tidak anti teori. Justru sebaliknya: teori penting sebagai pisau analisis. Namun pisau yang hanya dipamerkan tanpa digunakan untuk membedah akan berkarat oleh kesombongan.
Paulo Freire menyebut bahwa refleksi tanpa aksi adalah verbalisme. Dalam seni, verbalisme adalah panggung yang penuh konsep tetapi miskin daya gugah.

Intelektualitas yang Membumi

Intelektualitas sejati dalam seni bukanlah soal seberapa banyak referensi yang kita kutip, melainkan seberapa dalam kita memahami realitas.
Ia tampak dalam:

  • Kejelasan pilihan estetik.
  • Ketegasan sikap politik karya.
  • Kejujuran aktor terhadap tubuhnya.
  • Keberanian sutradara mengambil risiko.

Ia tidak selalu berbunyi keras. Kadang ia hadir dalam detail yang presisi, dalam keheningan yang terukur, dalam struktur yang matang.
Intelektualitas tidak perlu dipamerkan, karena ia akan terlihat dari kualitas kerja.

Kritik untuk Diri Sendiri

Tulisan ini bukan tudingan kepada siapa pun, tetapi cermin bagi kita semua—termasuk saya.
Sebagai sutradara, godaan untuk terlihat “cerdas” selalu ada. Proposal harus meyakinkan kurator. Wacana harus terdengar mutakhir. Kita hidup dalam ekosistem yang menilai kecanggihan sebagai nilai jual.
Namun jika teori hanya menjadi kosmetik, kita sedang merias wajah seni sambil membiarkan jiwanya kosong.

Kembali pada Kerja

Dunia seni tidak membutuhkan intelektualisme yang dipamerkan.
Ia membutuhkan intelektualitas yang bekerja.
Bukan teori yang menjadi topeng,
melainkan teori yang menjadi tulang.
Karena pada akhirnya, penonton tidak pulang membawa kutipan filsuf.
Mereka pulang membawa pengalaman.
Dan pengalaman yang kuat lahir bukan dari kosmetik,
tetapi dari kedalaman yang sungguh-sungguh digarap.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *