Oleh: Adisurya Abdy
Pegiat Perfilman
Ada satu kelompok WhatsApp yang mungkin terlihat sederhana dari luar: WA IKJ Lansia.
Jakarta,- Budayantara.tv Isinya tidak selalu berita besar. Tidak setiap hari membicarakan persoalan serius. Kadang hanya foto lama, kabar seorang teman, ajakan bertemu, cerita kesehatan, nostalgia masa muda, dan tentu saja yang paling penting bercanda.
Namun justru di situlah nilai kelompok ini.
Sebab semakin bertambah usia, manusia ternyata tidak hanya membutuhkan obat dan pemeriksaan kesehatan. Ia membutuhkan sesuatu yang sering kali jauh lebih sederhana: teman yang masih ingat siapa dirinya dahulu.
WA IKJ Lansia adalah semacam ruang tunggu yang unik. Bukan ruang tunggu menuju akhir, melainkan ruang untuk memastikan bahwa perjalanan panjang yang telah dilalui tidak hilang begitu saja.
Mereka bertemu bukan untuk membuktikan siapa yang paling sukses. Mereka datang dengan membawa usia masing-masing, pengalaman masing-masing, rambut yang mungkin semakin putih, langkah yang mungkin tidak lagi segesit dulu, tetapi dengan satu modal yang sama: kenangan.
Di sana, masa lalu tidak dipajang seperti museum.
Masa lalu justru ditertawakan.
Dan mungkin itulah salah satu cara paling sehat untuk mengenang.
Dulu mereka sibuk mengejar pekerjaan, membuat pertunjukan, membuat film, mengajar, berkesenian, berorganisasi, berdebat tentang gagasan, atau sekadar berjuang mencari tempat di dunia seni.
Sekarang, sebagian dari mereka justru menemukan kebahagiaan dari pertanyaan sederhana:
“Kapan kita ketemu lagi?”
Kalimat pendek itu sesungguhnya mengandung makna yang panjang.
Karena pada usia tertentu, bertemu adalah sebuah prestasi.
Bukan karena tempat pertemuannya harus mewah. Bukan karena makanannya harus mahal. Bahkan bukan karena harus ada acara resmi.
Yang penting ada seseorang yang berkata:
“Saya datang.”
Lalu yang lain menjawab:
“Saya juga.”
Setelah itu obrolan mengalir ke mana-mana.
Ada yang mengingat kejadian 30 atau 40 tahun lalu dengan sangat yakin, lalu temannya menyela:
“Ah, kamu salah ingat!”
Kemudian semua tertawa.
Di situlah kita menemukan sesuatu yang sering hilang dalam kehidupan modern: keakraban tanpa agenda.
Melawan Lupa
WhatsApp memang teknologi.
Tetapi WA IKJ Lansia memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu membuat manusia semakin jauh. Ia juga bisa menjadi jembatan yang mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan bersama.
Lebih dari itu, kelompok seperti ini sebenarnya sedang melakukan pekerjaan kebudayaan yang penting: melawan lupa.
Lupa adalah salah satu musuh terbesar sejarah.
Ketika sebuah generasi berhenti bercerita, pengalaman mereka perlahan menghilang. Nama-nama menjadi kabur. Peristiwa menjadi samar. Persahabatan yang pernah begitu kuat hanya tinggal foto lama di album keluarga.
Namun selama masih ada yang berkata,
“Eh, kamu ingat nggak waktu kita dulu…”
sejarah kecil itu masih hidup.
Sejarah memang tidak selalu lahir dari buku.
Kadang sejarah lahir dari secangkir kopi, meja makan, foto yang sudah buram, dan tawa beberapa orang tua yang masih merasa dirinya anak muda.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyebut mereka “lansia”.
Secara usia mungkin memang demikian. Tetapi secara ingatan, mereka masih menyimpan banyak umur yang belum selesai diceritakan.
Tubuh boleh memasuki usia senja.
Ingatan tidak mengenal pensiun.
Dan humor, rupanya, juga tidak mengenal batas usia.
Justru semakin panjang perjalanan hidup, semakin banyak bahan untuk ditertawakan.
Kesalahan masa lalu bisa menjadi lelucon. Kegagalan bisa menjadi cerita. Perselisihan yang dulu terasa besar, beberapa puluh tahun kemudian mungkin hanya menjadi bahan tertawaan.
Barangkali itulah salah satu bentuk kedewasaan yang paling indah: mampu menertawakan masa lalu tanpa membenci diri sendiri.
Bukan Sekadar Grup WhatsApp
WA IKJ Lansia bukan sekadar grup WhatsApp.
Ia adalah ruang silaturahmi, ruang nostalgia, ruang arsip ingatan, sekaligus ruang sosial tempat kesepian bisa dilawan dengan kehadiran teman.
Tidak selalu membutuhkan acara besar.
Kadang cukup sebuah pesan:
“Besok ngopi, yuk.”
Tidak perlu seminar panjang untuk menjelaskan arti persahabatan.
Cukup hadir ketika teman lama membutuhkan teman.
Dan tidak perlu membuat monumen besar untuk mengenang sebuah generasi.
Kadang cukup menjaga komunikasi agar nama-nama itu tidak hilang.
Pada akhirnya, mungkin yang paling menakutkan dari usia tua bukanlah rambut putih atau tenaga yang berkurang.
Yang lebih menakutkan adalah ketika tidak ada lagi yang mengingat kita.
Karena itu, selama WA IKJ Lansia masih ramai, selama masih ada yang mengirim foto lama, masih ada yang mengajak berkumpul, masih ada yang salah mengingat cerita lalu dikoreksi temannya, dan masih ada tawa yang pecah di antara mereka maka mereka sebenarnya bukan sekadar mengenang masa lalu.
Mereka sedang memastikan bahwa masa lalu masih mempunyai tempat di hari ini.
Dari Kampus Menjadi Sejarah
IKJ bukan sekadar institusi pendidikan bagi mereka yang pernah menjadi bagian di dalamnya.
Bagi banyak orang, IKJ adalah bagian dari perjalanan hidup.
Ada yang datang sebagai mahasiswa kemudian menjadi seniman. Ada yang menjadi sutradara, aktor, penulis, musisi, perupa, pendidik, teknisi, produser, pengelola kebudayaan, dan berbagai profesi lain yang ikut membentuk wajah kebudayaan Indonesia.
Mereka mungkin tidak semuanya menjadi nama besar.
Tetapi sejarah kebudayaan tidak pernah dibangun hanya oleh nama-nama besar.
Di belakang satu karya yang terkenal selalu ada banyak orang yang bekerja dalam diam.
Ada kru. Ada teknisi. Ada penulis. Ada pengajar. Ada pengelola produksi. Ada sahabat yang membantu ketika keadaan sulit. Ada orang-orang yang mungkin namanya tidak pernah masuk berita, tetapi tanpa mereka sebuah karya tidak akan pernah lahir.
Generasi itulah yang sekarang mulai memasuki usia senja.
Pertanyaannya sederhana:
Siapa yang akan mencatat cerita mereka?
Kalau tidak sekarang, kapan?
Kalau bukan mereka sendiri, siapa?
Jangan Biarkan WhatsApp Menjadi Kuburan Foto
Mereka menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki Google, Wikipedia, atau kecerdasan buatan: kesaksian langsung.
Mereka pernah berada di sana.
Mereka melihat sendiri.
Mereka mengalami sendiri.
Mereka mengetahui cerita di balik cerita.
Mereka tahu bagaimana sebuah produksi berlangsung. Mereka tahu siapa yang bekerja keras ketika kamera tidak menyala. Mereka tahu bagaimana sebuah gagasan seni dilahirkan. Mereka tahu persahabatan dan konflik yang mungkin tidak pernah masuk koran.
Mereka memiliki cerita tentang sebuah zaman yang perlahan berubah menjadi sejarah.
Sebab suatu hari nanti, hal-hal yang sekarang dianggap sepele justru bisa menjadi sumber sejarah yang sangat berharga.
Karena itu, jangan biarkan WhatsApp hanya menjadi kuburan foto.
Cerita-cerita itu perlu disimpan.
Foto-foto perlu diberi nama.
Karya-karya perlu didokumentasikan.
Kesaksian perlu dicatat.
Sebab ketika seorang seniman pergi, yang sering kita kenang hanyalah daftar karya.
Padahal di balik karya ada manusia.
Ada perjuangan.
Ada persahabatan.
Ada pertengkaran.
Ada kegagalan.
Ada kecintaan terhadap seni.
Dan ada sebuah zaman yang tidak akan kembali.
Yang Paling Mahal Bukan Umur, tetapi Pengalaman
Ada ironi dalam masyarakat kita.
Kita sering mengatakan menghormati orang tua, tetapi dalam praktiknya pengalaman orang tua kadang dianggap sudah tidak relevan.
Begitu teknologi berubah, pengalaman dianggap kuno.
Begitu generasi baru datang, generasi lama dianggap selesai.
Padahal teknologi boleh berubah cepat.
Pengalaman tidak memiliki tombol delete.
Orang yang telah puluhan tahun hidup di dunia seni memiliki pengetahuan yang tidak selalu bisa diajarkan melalui buku teks.
Bagaimana menghadapi produksi yang kacau.
Bagaimana bernegosiasi dengan orang.
Bagaimana membaca karakter manusia.
Bagaimana menghadapi kegagalan.
Bagaimana mempertahankan idealisme ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi.
Dan yang paling penting:
bagaimana tetap menjadi manusia setelah melewati begitu banyak perubahan zaman.
Itulah pendidikan yang tidak selalu tersedia di ruang kelas.
Bercanda adalah Bentuk Perlawanan
Mungkin bagian paling indah dari kelompok ini justru bukan diskusi seriusnya.
Tetapi candanya.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dari orang-orang yang telah melewati banyak hal tetapi masih bisa tertawa bersama.
Tawa itu bukan berarti mereka tidak memikirkan usia.
Justru mungkin karena sadar waktu terus berjalan, mereka memilih untuk tidak menghabiskan seluruh waktu dengan kesedihan.
Mereka tertawa.
Saling mengejek.
Mengenang.
Makan bersama.
Ngopi.
Kemudian pulang membawa cerita baru untuk dibagikan kembali di grup.
Bukankah itu salah satu bentuk kebahagiaan yang paling sederhana?
Jangan Tunggu Mereka Menjadi Sejarah
Ada satu hal yang perlu disadari.
Generasi ini tidak akan ada selamanya.
Satu per satu akan pergi.
Dan ketika seseorang pergi, yang hilang bukan hanya seorang teman. Bisa jadi ikut hilang puluhan tahun cerita yang hanya tersimpan di kepalanya.
Karena itu, tugas generasi sekarang bukan hanya mengatakan:
“Kami menghormati senior.”
Lebih dari itu:
Dengarkan mereka.
Rekam ceritanya.
Simpan fotonya.
Catat namanya.
Dokumentasikan karyanya.
Tanyakan apa yang mereka ingat.
Sebab ketika seorang seniman meninggal, yang sering kita kenang hanyalah daftar karya.
Padahal di balik karya ada manusia.
Dan di balik manusia ada sebuah zaman.
IKJ Lansia dan Masa Depan
Ironis memang.
Sekelompok orang yang disebut lansia justru mungkin sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting untuk masa depan: menjaga masa lalu.
Tanpa masa lalu, generasi baru berisiko mengulang kesalahan yang sama.
Tanpa arsip, sejarah mudah berubah menjadi legenda.
Tanpa kesaksian, legenda bisa berubah menjadi kabar burung.
Dan tanpa orang yang mau bercerita, sebuah generasi akhirnya menghilang tanpa jejak.
Maka WA IKJ Lansia tidak harus dipandang hanya sebagai kelompok orang tua yang sedang menghabiskan masa pensiun.
Ia bisa dilihat sebagai perpustakaan manusia yang masih berjalan.
Perpustakaan yang kadang berisik.
Kadang salah mengingat.
Kadang berdebat.
Kadang mengirim meme yang tidak jelas.
Tetapi justru karena itulah ia hidup.
Sebab perpustakaan yang paling menarik tidak selalu berisi buku.
Kadang perpustakaan terbaik adalah sebuah meja tempat orang-orang duduk sambil berkata:
“Eh, kamu masih ingat cerita itu?”
Lalu yang lain menjawab:
“Bagaimana saya bisa lupa?”
Dan tawa pun pecah.
Melawan Lupa, Menertawakan Usia
Pada akhirnya, usia memang akan mengambil banyak hal.
Tenaga.
Kecepatan.
Penampilan.
Bahkan sebagian ingatan.
Tetapi selama masih ada teman yang memanggil nama kita seperti dulu, selama masih ada seseorang yang berkata, “Saya ingat kamu waktu masih muda,” maka ada bagian dari masa lalu yang tetap hidup.
Itulah kekuatan sebenarnya dari WA IKJ Lansia.
Mereka tidak sedang melawan usia.
Mereka tidak sedang berpura-pura muda.
Mereka sedang melawan penghapusan ingatan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk menghapus masa lalu dan mengejar sesuatu yang baru, kelompok kecil seperti ini justru mengajarkan sebuah pelajaran besar:
Bangsa yang kehilangan ingatan akan kehilangan sebagian dari dirinya.
Generasi yang mau saling mengingat masih mempunyai masa depan.
Jadi, teruslah berkumpul.
Teruslah bercanda.
Teruslah bernostalgia.
Dan sesekali, kalau ada yang mulai mengatakan:
“Ah, kita kan sudah tua…”
jawablah:
“Tua itu soal umur. Bukan soal semangat berkumpul.”
Karena selama masih ada yang mengajak ngopi, selama masih ada yang tertawa, selama masih ada yang memanggil nama dengan akrab IKJ belum pernah benar-benar kehilangan masa mudanya. ***




