Purwokerto — Budayantara.tv Rintik hujan yang turun di kawasan Hetero Space, Minggu malam (15/2/2026), semestinya menjadi alasan pulang lebih cepat. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang bertahan. Mereka membuka payung, merapat ke panggung, dan menunggu sesuatu yang barangkali mulai langka: tawa yang lahir dari tradisi.
Pementasan dagelan calung “Asmara Suta” menjadi penutup sekaligus denyut terkuat dalam rangkaian Banyumas Culture Festival yang digelar Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas selama 14–15 Februari 2026 di Heterospace Purwokerto. Di tengah derasnya arus konten digital, panggung sederhana itu seperti melakukan perlawanan sunyi mengajak publik kembali duduk bersama, menyimak cerita, dan tertawa tanpa layar.
Bukan Sekadar Nostalgia
Sejak adegan awal, ketika Suta pulang dari mencari rumput dengan langkah lugu dan dialog ngapak yang ceplas-ceplos, penonton langsung terhubung. Bagi generasi 90-an, atmosfernya membangkitkan memori kejayaan Lenong Bocah. Sementara bagi generasi 2000-an, formatnya terasa seperti sketsa komedi yang akrab di linimasa cepat, spontan, dan penuh punchline.
Namun “Asmara Suta” tidak berhenti pada nostalgia. Lakon yang dibawakan Sanggar Seni Samudra ini seperti menyelipkan pesan bahwa komedi tradisional bukan artefak museum. Ia hidup, beradaptasi, bahkan berani bereksperimen.
Ketegangan sempat memuncak saat tokoh Ular Rangon mengancam putri Adipati Kutaliman. Alih-alih berakhir muram, adegan itu justru meledak menjadi tawa panjang. Komedi diolah sebagai katup emosi mengendurkan ketegangan tanpa menghilangkan makna.
“Ini bukan cuma hiburan, tapi ada pesan positif yang bisa kita ambil,” ujar Dian, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yang mengaku baru pertama kali menonton dagelan calung secara langsung.
Eksperimen di Tubuh Tradisi
Lakon “Asmara Suta” terinspirasi dari legenda cinta Baturraden kisah asmara terlarang antara putri bangsawan dan seorang pelayan (batur). Cerita rakyat yang biasanya disampaikan secara dramatik itu dirombak menjadi pertunjukan satu jam yang lincah dan komunikatif.
Yang mencolok adalah keberanian musikalnya. Selain calung konvensional, iringan musik memadukan sentuhan modern lintas genre. Dialognya pun tak melulu pakem; ada nuansa stand-up comedy, ada pula rasa opera dalam beberapa fragmen dramatik. Eksperimen ini menjadi penanda bahwa tradisi tak alergi pada pembaruan.
Seniman senior asal Banjarnegara, Tejo, memuji upaya tersebut. Menurutnya, Sanggar Seni Samudra berhasil memberi warna baru dalam khazanah kesenian Banyumasan. Meski demikian, ia mencatat perlunya penguatan tempo dan intonasi pada babak awal agar tensi pertunjukan langsung “menggigit” sejak menit pertama.
Catatan itu justru menegaskan satu hal: publik masih peduli pada kualitas kesenian lokal.
Festival sebagai Ruang Rebut Makna
Banyumas Culture Festival kali ini bukan hanya agenda seremonial akhir pekan. Ia menjelma ruang temu lintas generasi pelajar, mahasiswa, keluarga, hingga seniman senior yang duduk sejajar tanpa sekat.
Di bawah sisa gerimis malam, tawa penonton menjadi bukti bahwa kesenian tradisional Banyumas tidak sedang sekarat. Ia mungkin tak seramai tren viral, tapi ia punya daya hidup yang berbeda: kedekatan emosional dan identitas lokal.
“Asmara Suta” menunjukkan bahwa panggung tradisi bukan sekadar tempat mempertontonkan masa lalu. Ia adalah ruang negosiasi masa depan tempat logat ngapak, legenda Baturraden, dan eksperimen musikal bersua dalam satu tarikan napas.
Dan ketika lampu panggung meredup, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan, melainkan kesadaran bahwa di tengah hujan dan gempuran algoritma, Banyumas masih punya cerita dan cara sendiri untuk menertawakannya.




