Jakarta,— Budayantara.tv Budayantara Media membuka ruang komunikasi diplomasi budaya dengan CONISTIL (Conselho Nacional Islâmica de Timor-Leste/Dewan Nasional Islam Timor-Leste) sebagai langkah awal menjajaki kerja sama internasional di bidang keumatan, religi, dan kebudayaan Nusantara.
Komunikasi tersebut dilakukan melalui silaturahmi dengan Ustadz Muhammad Nico, salah satu tokoh dan pemuka agama Islam di Timor-Leste yang aktif dalam kepengurusan maupun kegiatan CONISTIL. Pertemuan berlangsung di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Selasa (5/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah kemungkinan program bersama, khususnya kegiatan religi dan kebudayaan yang dapat mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Timor-Leste.
Mewakili Budayantara Media, Masdjo Arifin menyampaikan bahwa komunikasi dengan CONISTIL menjadi peluang penting untuk memperluas jejaring budaya Indonesia ke tingkat internasional.
Menurutnya, diplomasi budaya tidak harus selalu dilakukan melalui jalur formal kenegaraan. Ruang kebudayaan, komunitas, keagamaan, media, dan masyarakat dapat menjadi jembatan yang efektif untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
“Kami melihat ada peluang besar untuk membangun kolaborasi keumatan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara. Budaya dapat menjadi bahasa yang menyatukan masyarakat, melampaui batas negara,” ujar Masdjo.
Ia menambahkan, Indonesia dan Timor-Leste memiliki kedekatan geografis serta sejarah interaksi masyarakat yang dapat menjadi modal sosial untuk membangun kerja sama yang lebih luas.
Rencana kolaborasi yang dibicarakan mencakup kemungkinan kegiatan religi, pertukaran budaya, forum kebudayaan, serta program yang mempertemukan komunitas Muslim dan pegiat budaya dari kedua negara.
Bagi Budayantara Media, penjajakan dengan CONISTIL juga sejalan dengan visi untuk menjadikan budaya sebagai instrumen diplomasi masyarakat (people-to-people diplomacy) dan memperkenalkan wajah Indonesia yang kaya akan tradisi, toleransi, serta keberagaman.
Silaturahmi tersebut diharapkan menjadi pintu awal bagi lahirnya program konkret Indonesia–Timor-Leste, sekaligus memperluas jejaring budaya Nusantara hingga ke kawasan Asia Tenggara.
Dari budaya, membangun persahabatan. Dari silaturahmi, membuka jalan kolaborasi lintas negara.***




