Lewati ke konten
1 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
IKJ Lansia: Melawan Lupa, Menertawakan UsiaHadir dalam Forum Perhutanan Sosial, Guru Besar Antro UNAIR, Prof. Adib, Tegaskan Pentingnya Pengelolaan Mata Air untuk Mitigasi Bencana di JatimGerakan 30 September, Ketika Bangsa Indonesia Belajar Membaca Ulang Sejarah‎JANGAN BIARKAN SEJARAH PERFILMAN HILANG BERSAMA DEBU‎‎
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/BPI dan Regenerasi Kepemimpinan yang Diuji Amanat Undang-Undang
News

BPI dan Regenerasi Kepemimpinan yang Diuji Amanat Undang-Undang

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama21 Januari 20263 menit baca
BPI dan Regenerasi Kepemimpinan yang Diuji Amanat Undang-Undang - Budayantara TV

Jakarta,- Budayantara.tv Badan Perfilman Indonesia (BPI) sejak awal dibentuk bukan untuk menjadi organisasi seremonial. Ia lahir dari mandat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, dengan tugas yang jelas dan strategis: membawa perfilman Indonesia hadir di panggung dunia, memperkuat ekosistem nasional, serta menjadi jembatan antara pelaku film dan negara. Dalam konteks ini, BPI sejatinya adalah institusi publik, meski digerakkan oleh para pelaku film itu sendiri.

Undang-undang secara tegas mengamanatkan delapan tugas utama kepada BPI, mulai dari penyelenggaraan dan partisipasi festival film di luar negeri, promosi Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing, hingga penelitian, penghargaan, dan fasilitasi pendanaan film tertentu. Delapan tugas ini menempatkan BPI di titik temu antara diplomasi budaya, penguatan industri, dan kebijakan publik. Tidak ringan, dan jelas tidak bisa dijalankan secara simbolik.

Perjalanan BPI selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal program, melainkan soal kepemimpinan dan kemampuan mengelola keragaman kepentingan. Nama-nama seperti Kemala Atmodjo, Anwar Fuadi, Alex Komang, Chand Parvez Servia, dan Gunawan Paggaru hadir dalam fase-fase berbeda dengan pendekatan yang juga berbeda.

Kemala Atmodjo melihat BPI sebagai ruang kebudayaan, tempat nilai, etika, dan kesadaran sinema dijaga. Anwar Fuadi membawa perspektif pelaku lapangan, dengan sensitivitas terhadap nasib pekerja seni dan dinamika praktis industri. Alex Komang mendorong BPI agar benar-benar menjadi rumah bersama komunitas dan asosiasi profesi. Chand Parvez Servia hadir dengan logika industri dan keberlanjutan ekonomi. Sementara Gunawan Paggaru mencoba menjembatani dunia kreatif dengan kebijakan negara melalui dialog dan advokasi.

Perbedaan pendekatan itu sesungguhnya mencerminkan realitas BPI: sebuah organisasi yang dihuni oleh banyak kepentingan. Ada kepentingan industri, komunitas, daerah, akademik, hingga kepentingan negara. Keragaman ini adalah kekuatan, tetapi juga menjadi sumber friksi jika tidak dikelola dengan kepemimpinan yang terbuka dan inklusif.

Memasuki pemilihan Ketua Umum BPI periode 2026–2030, isu regenerasi kepemimpinan menjadi semakin krusial. Regenerasi tidak boleh dimaknai sebatas pergantian figur atau rotasi nama besar. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu membaca mandat undang-undang sebagai tanggung jawab kolektif, bukan alat legitimasi kelompok tertentu.

Dinamika, perbedaan pandangan, bahkan konflik dalam proses pemilihan adalah hal yang wajar. Yang patut diwaspadai adalah ketika dinamika itu menjauh dari substansi: bagaimana BPI ke depan akan menjalankan delapan tugas utamanya secara konsisten, terukur, dan berdampak nyata bagi ekosistem perfilman nasional.

BPI tidak membutuhkan pemimpin yang paling sering tampil atau paling lantang bersuara. BPI membutuhkan pemimpin yang mau mendengar, memahami persoalan riil di lapangan, dan menjaga jarak yang adil dari kepentingan pribadi maupun kelompok. Pemimpin yang mampu bekerja senyap tetapi efektif, serta berani menjadikan BPI sebagai institusi yang dipercaya, bukan diperebutkan.

Periode 2026–2030 akan menjadi ujian penting bagi BPI. Apakah ia mampu kembali pada amanat undang-undang dan menjawab kebutuhan nyata insan film, atau justru terjebak dalam dinamika internal yang menguras energi. Harapannya, kepemimpinan mendatang dapat menjalankan tugas BPI dengan penuh tanggung jawab dan amanah—menjadikan BPI tetap sebagai rumah bersama, sekaligus motor kemajuan perfilman Indonesia.

Kekuatan BPI tidak terletak pada satu tokoh, melainkan pada kesadaran para pemangku kepentingan untuk menempatkan kepentingan perfilman Indonesia di atas segalanya. Regenerasi kepemimpinan seharusnya menjadi momentum memperkuat amanah, bukan sekadar memindahkan kursi kekuasaan. (Budi Sumarno)

BPI Budi Sumarno
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Hadir dalam Forum Perhutanan Sosial, Guru Besar Antro UNAIR, Prof. Adib, Tegaskan Pentingnya Pengelolaan Mata Air untuk Mitigasi Bencana di Jatim - Budayantara TV
News

Hadir dalam Forum Perhutanan Sosial, Guru Besar Antro UNAIR, Prof. Adib, Tegaskan Pentingnya Pengelolaan Mata Air untuk Mitigasi Bencana di Jatim

1 Oktober 20262 menit baca

Surabaya, – Budayantara.tv Koordinator Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) FISIP UNAIR, Prof. Dr. H. Muhammad Adib,…

Kementerian Kebudayaan Terima IKB Jabodetabek dan BMDN, Budayantara Fest 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Budaya - Budayantara TV
Budaya Event News

Kementerian Kebudayaan Terima IKB Jabodetabek dan BMDN, Budayantara Fest 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Budaya

29 September 20262 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Persiapan Budayantara Fest 2026 memasuki tahap penguatan kolaborasi dengan pemerintah. Ikatan Keluarga Besar (IKB) Jabodetabek…

Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk Pergi - Budayantara TV
Musik News

Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk Pergi

28 September 20262 menit baca

Jakarta, — Budayantara. TV Tidak semua kisah cinta berakhir dengan bahagia. Ada hubungan yang justru meninggalkan luka, tekanan,…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber