Purwosari, Pasuruan — Budayantara.tv Batik bukan sekadar kain bermotif yang indah dipandang. Di balik setiap torehan canting, terdapat ketekunan, kesabaran, pengalaman, sekaligus perjalanan rasa yang panjang.
Pemahaman itulah yang tergambar dalam Batik Tulis Singosari Berfilosofi karya Tantri/Listyorini Gayantri, 60 tahun. Karyanya tidak hanya memperlihatkan keterampilan membatik, tetapi juga mempertemukan tiga bahasa rupa menggambar, melukis, dan membatik dalam sebuah proses yang sarat makna.
Melalui canting, garis malam menjadi batas. Dari batas itulah warna memperoleh ruang untuk hidup, membentuk motif, dan menghadirkan pesan.
Garis Bukan Sekadar Garis
Dalam seni dan kebudayaan, garis tidak selalu harus lurus. Ia dapat melengkung, berputar, bertemu, berpisah, mengalir, membatasi sekaligus menghubungkan.
Garis menjadi jejak kehendak manusia untuk memberi bentuk, arah, batas, hubungan, dan makna terhadap sesuatu yang hendak diwujudkan.
Dalam batik tulis, garis menemukan medianya melalui canting dan malam. Tangan pembatik menggerakkan canting, sementara malam cair mengikuti setiap gerak tangan. Ketika mengering, malam menjadi batas yang menentukan ke mana warna dapat hadir dan di mana warna harus berhenti.

Di situlah keunikan membatik menemukan maknanya.
Menggambar menghadirkan wujud. Melukis menghidupkan warna. Sedangkan membatik mempertemukan garis, warna dan batas menjadi sebuah bahasa visual.
Dalam Batik Tulis Singosari Berfilosofi, garis bukan sekadar ornamen. Ia menjadi bagian dari cara pembatik menyampaikan sesuatu yang lebih dalam daripada apa yang tampak oleh mata.
Motif menjadi bahasa. Warna menjadi rasa. Batas menjadi penentu.
Ketika Batas Justru Membebaskan
Ada sebuah paradoks dalam proses membatik. Malam memang membatasi, tetapi justru karena adanya batas itulah warna dapat menemukan bentuknya.
Tanpa batas, warna akan menyebar tanpa arah. Dengan batas, warna memperoleh ruang, struktur, dan hubungan.
Filosofi tersebut kemudian dapat dibaca sebagai pelajaran kehidupan: batas tidak selalu berarti membatasi kebebasan. Batas justru dapat menjadi ruang bagi kebebasan untuk menemukan bentuknya.
Canting menorehkan malam. Malam menjaga batas. Warna kemudian memberikan kehidupan. Setelah melalui tahapan proses berikutnya, bagian yang sebelumnya dilindungi dibuka kembali.
Yang tersisa bukan hanya warna dan motif, tetapi juga jejak dari sebuah proses panjang.
Batik sebagai “Kitab Bakti”
Dari perjalanan itulah muncul gagasan “Batik Kitab Bakti.”
Kitab tidak selalu harus berupa tulisan di atas kertas. Kain pun dapat menjadi sebuah “kitab” ketika di dalamnya tersimpan pengetahuan, pengalaman, simbol, laku, rasa, dan penghayatan manusia terhadap kehidupan.
Batik menjadi kitab ketika motifnya dapat dibaca.
Batik menjadi bakti ketika proses pembuatannya dijalani dengan ketekunan, kesabaran, kecermatan, dan penghayatan.
Dengan demikian, Batik Kitab Bakti bukan hanya kain yang indah dipandang, melainkan jejak laku yang dapat dibaca, dirasakan, sekaligus diwariskan.
Menemukan “Roso Orep Sejati”
Di atas seluruh proses tersebut terdapat satu ruang penghayatan yang disebut “Roso Orep Sejati.”
Roso tidak sekadar berarti perasaan. Roso adalah kemampuan manusia untuk menghayati hubungan antara bentuk dan makna, antara karya dan kehidupan, serta antara tangan yang bekerja dengan jiwa yang memberikan arti.
Karena itu, Batik Tulis Singosari Berfilosofi tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa motifnya?”
Lebih jauh lagi, muncul pertanyaan: “Apa yang hendak disampaikan melalui motif tersebut?”
Begitu pula warna. Bukan sekadar bertanya “Apa warnanya?”, tetapi “Rasa apa yang hendak dihidupkan melalui warna?”
Dan yang tidak kalah penting, bukan hanya bagaimana kain itu dibuat, melainkan laku lampah apa yang telah ditempuh hingga karya tersebut lahir.
Bu Tantri dan Laku Lampah Membatik
Di usia 60 tahun, Bu Tantri/Listyorini Gayantri menghadirkan karya yang dapat dipandang bukan hanya sebagai hasil keterampilan tangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan penghayatan.
Ada ketekunan dalam setiap tarikan canting. Ada kecermatan dalam setiap garis. Ada kesabaran dalam setiap proses. Ada pengalaman yang mengendap, kemudian diterjemahkan melalui motif dan warna.
Setiap tarikan canting menjadi jejak.
Setiap batas malam menjadi keputusan.
Setiap warna menjadi pilihan.
Setiap motif menjadi bahasa.
Keseluruhan kain kemudian menjadi satu kesatuan pengalaman.
Karena itu, Batik Tulis Singosari Berfilosofi dapat ditempatkan sebagai karya yang mempertemukan seni rupa, keterampilan, simbol, tradisi, rasa, dan penghayatan dalam satu ruang kebudayaan.
Dari Garis Menuju Makna
Perjalanan dari menggambar menuju melukis, kemudian membatik, bukanlah perjalanan untuk menentukan mana yang lebih tinggi atau lebih rendah. Ketiganya merupakan bahasa dengan karakter masing-masing.
Menggambar berbicara melalui garis dan bentuk.
Melukis berbicara melalui warna dan bidang.
Sedangkan membatik mempertemukan garis, bentuk, warna, batas, ruang, bahan, waktu, serta laku manusia.
Dari sana lahir sebuah rumusan sederhana:
GARIS memberi bentuk.
BATAS memberi arah.
WARNA memberi rasa.
MOTIF memberi pesan.
FILOSOFI memberi makna.
LAKU memberi kehidupan.
Ketika semuanya menyatu, lahirlah karya yang tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga elok untuk dihayati.
Batik Tulis Singosari Berfilosofi karya Bu Tantri/Listyorini Gayantri menjadi ruang perjumpaan antara tangan, rasa, bahan, warna, dan kebudayaan.
Di sana, menggambar tidak berhenti pada garis. Melukis tidak berhenti pada warna. Malam tidak berhenti sebagai bahan perintang.
Semuanya bergerak menuju satu tujuan: menghadirkan arti, makna, dan penghayatan terhadap laku kehidupan.
Malam menjadi garis batas.
Garis menjadi bentuk.
Bentuk menjadi motif.
Motif menjadi bahasa.
Bahasa menjadi pesan.
Pesan dihayati menjadi makna.
Dan makna dilakoni menjadi bakti.
Itulah Roso Orep Sejati.
Batik Tulis Singosari Berfilosofi.
Batik Kitab Bakti.
Guntur Bisowarno
Manusia Sastra Budaya Canggih




