Peluncuran Djali-Djali Bintang Kedjora Warnai Menjelang HUT Jakarta ke-499

Jakarta, — Budayantara.tv Tiga hari menjelang peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta, suasana Aula Ali Sadikin di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, dipenuhi gelak tawa, tepuk tangan, denting tepak beksi, serta aroma khas kerak telor. Pada Jumat (19/6/2026), budayawan dan sastrawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), meluncurkan buku terbarunya berjudul Djali-Djali Bintang Kedjora: Setangkle Cerita Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta.
Peluncuran buku yang difasilitasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta bersama PDS HB Jassin tersebut menghadirkan sejumlah tokoh sastra, budaya, dan akademisi. Tampil sebagai pembicara adalah penyair dan jurnalis Nuthayla Anwar, serta penulis dan mantan wartawan senior TEMPO Idrus F. Shahab, dengan moderator penyair Giyanto Subagio.
Sejumlah tokoh turut memberikan sambutan, di antaranya Guru Besar Antropologi FISIP UI Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, antropolog Dr. Ninuk Kleden, dan produser film Harry Simon.

Kritik terhadap Minimnya Apresiasi Karya Intelektual
Di tengah suksesnya acara yang dihadiri kalangan akademisi, sastrawan, sejarawan, pegiat budaya, insan pers, hingga pelaku perfilman, terselip kritik terhadap minimnya perhatian terhadap karya intelektual di bidang sejarah, sastra, dan budaya Betawi.
Menurut CGR, selama ini karya-karya tulis yang mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan sering kali kalah prioritas dibandingkan kegiatan seremonial yang bersifat hiburan sesaat. Ia menilai dukungan terhadap penerbitan buku dan pengembangan literasi budaya masih sangat terbatas.
Kondisi tersebut, menurutnya, berbanding terbalik dengan besarnya anggaran yang kerap dialokasikan untuk berbagai acara keramaian yang tidak selalu meninggalkan warisan pengetahuan bagi generasi mendatang.
“Kita lebih senang menebang pohon dan menjadikannya kayu bakar untuk menerangi diri sendiri, ketimbang menanam pohon untuk dinikmati anak-cucu,” ujar CGR.

Ia mencontohkan pengalaman ketika buku budayanya, Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya ~ Betawi dari Batavia hingga Jakarta, hanya direncanakan dicetak dalam jumlah sangat terbatas sehingga akhirnya ia memilih tidak menerbitkannya melalui jalur tersebut.
Menjaga Ingatan Betawi Melalui Sastra
Djali-Djali Bintang Kedjora memuat 17 cerpen yang sebagian besar pernah diterbitkan di Majalah Sastra Horison pada periode 2011–2016, ditambah karya-karya lain yang sebelumnya terbit dalam antologi dan jurnal sastra.
Karya-karya tersebut menjadi bagian penting perjalanan kepenulisan CGR hingga dipercaya oleh penyair senior Taufiq Ismail untuk terlibat dalam wajah baru Majalah Sastra Horison pada 2018. Prestasi tersebut juga menjadikan CGR sebagai salah satu penulis dengan cerpen terbanyak yang dimuat di Horison dalam rentang lima tahun serta satu-satunya orang Betawi yang pernah duduk sebagai redaktur majalah sastra legendaris tersebut.
Dalam buku ini, CGR melakukan berbagai eksplorasi gaya penulisan dengan memanfaatkan beragam ragam bahasa dan ejaan yang pernah digunakan di Indonesia. Upaya tersebut menghadirkan nuansa khas yang mempertemukan sastra, sejarah, dan dokumentasi budaya dalam satu kesatuan narasi.
Mendapat Apresiasi Sejumlah Tokoh Sastra
Kehadiran Djali-Djali Bintang Kedjora mendapat apresiasi dari sejumlah pengamat dan pelaku sastra nasional.
Redaktur Sastra Harian Republika, Ahmadun Yosi Herfanda, menilai kemunculan CGR sebagai penulis yang menjadikan dunia Betawi sebagai wilayah kreatif merupakan sesuatu yang langka dan penting bagi perkembangan sastra Indonesia.
Sementara itu, penyair dan redaktur Horison Dr. Cecep Syamsul Hari menyebut cerpen-cerpen CGR berhasil menghadirkan Betawi secara hidup kepada pembacanya, sebagaimana sebuah kota atau wilayah dapat menjadi identitas kuat dalam karya sastra dunia.
Adapun pengamat sastra FIB UI Dr. Ibnu Wahyudi menilai antologi tersebut memiliki dimensi dokumentatif yang kuat. Menurutnya, karya-karya dalam buku itu bukan hanya mencerahkan, tetapi juga memperkaya wawasan pembaca mengenai kebudayaan Betawi melalui penggambaran yang rinci dan alami.
Tantangan Kebudayaan Jakarta
Peluncuran buku ini berlangsung di tengah tantangan pemajuan kebudayaan Jakarta. Berdasarkan data Indeks Pemajuan Kebudayaan (IPK), DKI Jakarta dalam beberapa tahun terakhir belum mampu menembus jajaran 10 besar nasional. Posisi tersebut justru ditempati sejumlah provinsi lain seperti Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang secara konsisten menjadi rujukan dalam pengembangan ekosistem kebudayaan.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran Djali-Djali Bintang Kedjora menjadi pengingat bahwa upaya menjaga ingatan kolektif, sejarah lokal, dan identitas budaya tidak hanya dilakukan melalui festival atau perayaan, tetapi juga melalui karya tulis yang dapat diwariskan lintas generasi.
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi penegasan bahwa sastra masih memiliki peran penting sebagai ruang untuk merekam, merawat, dan memperkenalkan wajah Betawi kepada Indonesia dan dunia**


