“Grebeg Suro”, Hajat Besar Ponorogo Siap Digelar, Festival Reog Jadi Magnet

Jakarta – Budayantara.tv Grebeg Suro 2026, event tahunan terbesar di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terus dimatangkan. Sebanyak 30 side event dipastikan siap digelar untuk memeriahkan salah satu agenda besar Kabupaten Ponorogo yang masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN).
Perayaan Grebeg Suro akan dibuka 6 Juni 2026, sekaligus pembukaan Festival Reog Remaja XXII dan Festival Nasional Reog XXXI Tahun 2026, berlangsung di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo.
Pementasan Festival Reog Remaja XXII berlangsung 7 sd 10 Juni 2026, dan Festival Nasional Reog XXXI Tahun berlangsung 11 sd 14 Juni 2026. Rangkaian perayaan Grebeg Suro 2026 sebenarnya sudah dimulai pada 19 Mei, yaitu semaan Al Quran, dan akan berakhir pada 13 Juli, yaitu Simaan Moloekatan.

Kegiatan perayaan Grebeg Suro lainnya di antaranya Grebeg Bonsai Bumi Reog (3 sd 9 Juni), Lomba Burung Perkutut (7 Juni), Pameran Bonsai “Samandiman Bonsai Club” (7 sd 16 Juni), Pameran Lukisan (10 sd 15 Juni), Pergelaran Pusaka (12 – 15 Juni), Karnaval Keroncong Ponorogo 24 Jam Season II (15Juni), Kirab Pusaka, Pawai Lintasan Sejarah, dan Jamasan Pusaka (15 Juni), Pergelaran Wayang Kulit Malam 1 Suro (15 Juni) dan Grebeg Suro Adventure Trail (5 Juli)
Kesiapan hajat besar tersebut dipastikan dalam agenda checking terakhir yang digelar di Ruang Rapat Bantarangin Ponorogo, Jumat (30/5/2026). Dalam kegiatan itu panitia meninjau kesiapan seluruh rangkaian acara, termasuk Festival Reog Remaja dan Festival Nasional Reog yang menjadi salah satu magnet utama Grebeg Suro.
“Kita terus menjaga spirit agar pelaksanaan seluruh event berjalan lancar. Gegap gempita Grebeg Suro 2026 harus lebih menggelora daripada tahun-tahun sebelumnya,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo Agus Sugiarto dalam rapat akhir persiapan Grebeg Suro yang berlangsung di Ruang Bantarangin, Jumat (30/5/2026).
Agus Sugiarto memberi perhatian khusus pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) dan Festival Reog Remaja (FRR) yang menjadi salah satu magnet Grebeg Suro. Di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo tempat FNRP dan FRR dihelat, seremoni pembukaan Grebeg Suro juga dilangsungkan.
“FNRP masuk Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga sejumlah aspek teknis perlu benar-benar mendapat perhatian,” terang Ugin tentang 125 event unggulan di Indonesia. hasil kurasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Agus Sugiarto juga mengingatkan bahwa Ponorogo resmi masuk UNESCO Creative Cities Network (UCCN) atau Jejaring Kota Kreatif UNESCO dalam bidang crafts and folk art (kerajinan dan seni rakyat). Sebelumnya, UNESCO juga menetapkan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). “Ada tanggung jawab moral bagaimana mengembangkan ekonomi kreatif yang bertumpu kekuatan budaya lokal. Termasuk menjadikan kesenian Reog Ponorogo sebagai lokomotif penggerak ekonomi kreatif,” jelas Ugin.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, memastikan pelaku UMKM juga mendapatkan ruang yang cukup dalam pelaksanaan Grebeg Suro 2026. Bahkan, pihak event organizer disebut siap menyediakan videotron untuk membantu promosi toko dan produk UMKM.
“Checking terakhir sudah selesai dan semuanya siap. Grebeg Suro 2026 siap menghibur masyarakat Ponorogo dan sekitarnya. Semoga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk peningkatan perekonomian,” ujarnya.
Judha menambahkan, Grebeg Suro merupakan event nasional penuh semangat yang menjadi agenda terbesar di Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini tidak hanya ditunggu masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah.
“Ini event nasional yang penuh semangat, menjadi event terbesar di Kabupaten Ponorogo yang ditunggu masyarakat maupun wisatawan luar,” tambahnya.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Ponorogo Evi Dwitasari turut menegaskan bahwa Grebeg Suro sudah menjadi identitas daerah. Politikus PDI Perjuangan itu mengingatkan agar kemeriahan grebeg tidak menghilangkan nilai kesakralan. Di antaranya, kirab dan jamasan pusaka, serta tirakatan malam 1 Suro.
“Rangkaian Grebeg Suro harus tetap menjaga nilai adat dan tradisi. Jangan sampai semangat kemeriahan menghilangkan nilai kesakralan,” tegasnya.
Selain itu, aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan pelayanan publik harus menjadi perhatian. Sebab, Grebeg Suro diperkirakan akan mendatangkan puluhan ribu wisatawan ke Ponorogo. “Kami sepakat Grebeg Suro menjadi ruang pelestarian budaya, hiburan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi lokal,” pungkasnya.(*)


