Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung SejarahSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi TerpilihTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?)
Artikel Film

“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?)

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama6 Mei 20263 menit baca📍 Karsono Hadi - Sutradara Jakarta
“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?) - Budayantara TV

Oleh : Karsono Hadi – Sutradara

Jakarta – Budayantara.tv Mari kita bicara tentang film. Bukan sinetron yang gak pernah tamat itu. Tapi tentang proses membuat film dan Hirarki di set. Siapa bilang “action” dan siapa yang cuma bisa bilang “ya, pak”.

Di satu sisi, kita didoktrin demokrasi. Suara rakyat suara Tuhan. Setiap orang setara. Tak ada manusia lebih berhak memerintah selain yang dipilih.

Lalu masuk lokasi syuting. Tiba-tiba kita menemukan dunia paralel.

Sang sutradara adalah raja. Bukan raja konstitusional. Raja absolut. Siapa berani protes ketika dia bilang “cut” berkali-kali karena ekspresi figuran tak sesuai harapan? Tak ada. Semua diam. Produser yang menggaji dia pun lebih banyak diam. Karena kekuasaan artistik adalah zona sakral.

Asisten sutradara pertama? Dia perdana menteri yang galak. Bukan yang lembut seperti di iklan layanan masyarakat. Dia berteriak soal jadwal. Materi film yang terbuang. Uang menguap setiap menit kru menunggu.

DOP Panglima perang cahaya. Punya veto atas di mana lampu diletakkan, meski itu berarti menuangkan kopi panas ke tangan penata artistik.

Kru di bawah tahu posisinya. Juru rias tak akan tiba-tiba memberi saran akting. Ass Soundman (Boomer) gak akan mengatur sudut kamera. Semua patuh. Bukan takut. Tapi paham bahwa di set film, butuh satu kepala, satu komando, satu mimpi yang dijalankan tanpa musyawarah saat hujan turun dan matahari sebentar lagi tenggelam.

Lucunya, kita tak pernah protes pada sistem ini. Malah mengaguminya. Kita sebut “Hirarki profesionalisme”. Kita bangga dengan rantai komando rapi. Kita memuji efisiensi dari kepatuhan pada hierarki.

Coba bayangkan jika seorang kru gaffer atau kru kabel listrik tiba-tiba minta hak suara setara sutradara dalam rapat sudut pengambilan gambar. Pasti seluruh kru tertawa. Atau marah. Karena kita paham betul, dalam produksi film, demokrasi adalah resep kekacauan. Film bisa gagal. Anggaran habis. Skrip jadi koran bekas.

Sekarang bandingkan dengan yang terjadi dinegeri kita. Negeri yang setiap hari bersumpah demi demokrasi. Konstitusinya lahir dari air mata dan darah. Setiap silanya mengajak musyawarah menuju mufakat.

Di negara ini, pejabat publik bisa bersikap seperti sutradara di lokasi syuting. “Kebijakan ini tak perlu didiskusikan,” katanya. Rakyat sering hanya mengangguk seperti figuran yang diberi tahu, “Kamu jalan dari A ke B, jangan lihat kamera, jangan banyak tanya.”

Ada yang bertindak seperti produser, megang uang, merasa paling berhak menentukan arah. Ada yang jadi asisten sutradara galak, mengatur jadwal rapat DPR absurd, meneriaki wartawan, membentak warga yang bertanya.

Dan kita? Banyak yang memilih jadi kru patuh. Karena terbiasa. Dari lokasi syuting kita belajar hierarki itu wajar. Pemimpin berhak tak didemo. Yang penting hasil bagus meski proses tak pernah benar-benar demokratis.

Saya tak bilang Demokrasi disistem produksi film salah. Tidak. Saya suka film rapi, setiap detik terencana, aktor tak tiba-tiba ubah dialog karena “suara hati nurani”. Di situlah seni lahir dari disiplin militeristik.

Kenapa kita begitu mudah menerima hierarki dalam seni, tapi sulit menerapkannya secara sehat dalam politik? Kenapa sutradara boleh otoriter demi film dua jam, tapi presiden tak boleh diingatkan saat mulai bersikap seperti sutradara yang lupa kamera suatu hari berhenti berputar?

Atau jangan-jangan demokrasi kita memang dirancang para pembuat film? Dirancang agar kita terus jadi figuran tertib. Figuran tak perlu tahu naskah utuh. Figuran cukup bahagia dengar bahwa film ini untuk rakyat. Tentang rakyat. Tapi sayangnya, tak pernah diproduksi oleh rakyat.

Sebab di belakang layar, yang megang mikrofon bukan siapa-siapa. Yang ambil keputusan akhir bukan ruang publik. Saat lampu padam, para pemain utama pergi ke pesta. Sementara para figuran pulang dengan wajah yang sempat tertangkap kamera dua detik. Tanpa kredit title. Tanpa nama di akhir.

Tapi setidaknya, kita disebut bagian dari demokrasi.

Ah, persetan dengan demokrasi kalau cuma jadi konsumsi tontonan.

Dalam proses film, saya rela duduk di kursi belakang. Karena hierarki itu demi hasil akhir. Tapi dalam bernegara, saya ingin setiap orang berhak bilang “cut” saat cerita mulai merugikan rakyat banyak.

Karena proses bernegara berbeda dengan proses film. Rakyat bukan figuran. Demokrasi bukan panggung sandiwara.**

Karsono Hadi
📍 Karsono Hadi - Sutradara Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global - Budayantara TV
Artikel Budaya

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global

22 Juni 20262 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv Guna menyambut momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 DKI, Ketua Umum Forum Bersama Jakarta…

Menyongsong 499 Tahun Jakarta: Bergerak Menuju Era Baru Tanpa Melupakan Akar Budaya Betawi - Budayantara TV
Artikel Budaya

Menyongsong 499 Tahun Jakarta: Bergerak Menuju Era Baru Tanpa Melupakan Akar Budaya Betawi

22 Juni 20262 menit baca

Oleh : Masdjo Arifin – Founder Budayantara Digital Network (BDN) Jakarta, – Budayantara.tv Perayaan 499 tahun Jakarta menjadi…

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan - Budayantara TV
Artikel Budaya

Haul Ulama Betawi : Antara Penghormatan dan Otoritas Kebudayaan

19 Juni 20262 menit baca

Oleh: Wan NoorbekPemangku Adat Gerbang Masyarakat Betawi (BANG MAWI) Jakarta,- Budayantara.tv Haul Ulama Betawi pada hakikatnya bukan sekadar…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?) - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?) - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?) - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?) - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
“DEMOKRASI BERNEGARA VS HIERARKI DI LOKASi SYUTING”(Beda kebutuhan,beda persepsi ?) - Budayantara TVMPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber