Padang Pariaman — Budayantara.tv Rencana pembangunan Pusat Kebudayaan Sumatera Barat senilai Rp382,65 miliar tidak hanya menjadi proyek infrastruktur budaya, tetapi juga membawa harapan baru bagi para pelaku seni dan ekonomi kreatif di Ranah Minang.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengusulkan pembangunan kawasan tersebut kepada Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon melalui proposal yang diserahkan langsung oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah di ruang VIP Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Jumat (13/3/2026).
Bagi banyak seniman lokal, kehadiran pusat kebudayaan ini dinilai dapat menjadi ruang berkarya yang selama ini masih terbatas. Selain menjadi tempat pertunjukan seni, kawasan tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru melalui kegiatan kreatif dan pariwisata budaya.
“Jika benar-benar terwujud, ini bisa menjadi rumah besar bagi seniman Minangkabau. Tidak hanya untuk tampil, tapi juga untuk belajar, berkolaborasi, dan menjual karya,” ujar salah seorang pegiat seni di Sumatera Barat.
Rencana pembangunan kawasan ini dibagi dalam tiga zona utama. Zona A akan menjadi fondasi kawasan dengan pembangunan jalan, kantor UPTD Taman Budaya, galeri seni, lounge, serta amfiteater terbuka yang dapat digunakan sebagai ruang pertunjukan budaya.
Sementara itu, Zona B dirancang sebagai pusat aktivitas kreatif. Di kawasan ini akan dibangun berbagai fasilitas seperti kios seni, lapau budaya, studio tari, ruang workshop seni rupa, hingga ruang pelestarian tradisi seperti pasambahan dan makan bajamba.
Tidak hanya itu, fasilitas modern seperti perpustakaan budaya, laboratorium sastra lisan, studio fotografi, studio film, ruang podcast, serta teater utama juga direncanakan hadir untuk mendorong perkembangan industri kreatif berbasis budaya.
Zona C akan berfungsi sebagai fasilitas pendukung dengan pembangunan teater kecil, kantor Dinas Kebudayaan, serta area hotel, restoran, dan ballroom untuk mendukung penyelenggaraan event seni berskala besar.
Menurut Mahyeldi, pusat kebudayaan ini diharapkan menjadi pusat pelestarian tradisi sekaligus ruang pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya Minangkabau.
Di sisi lain, Fadli Zon menyarankan agar pengembangan kawasan ini disinergikan dengan Hotel Indonesia Natour (HIN) yang mengelola jaringan hotel milik negara. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperkuat penyelenggaraan event budaya sekaligus menyediakan fasilitas akomodasi bagi pengunjung.
Selain proyek tersebut, Pemprov Sumbar juga mengusulkan revitalisasi bekas kantor Pemerintah Gubernur Wilayah di Bukittinggi yang memiliki nilai sejarah penting. Kawasan ini berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah di daerah yang dikenal sebagai tempat lahirnya sejumlah tokoh nasional, seperti Sutan Sjahrir dan Abdul Muis.
Jika terealisasi, pembangunan pusat kebudayaan ini bukan hanya menghadirkan bangunan baru, tetapi juga diharapkan menjadi simbol kebangkitan budaya Minangkabau sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif di Sumatera Barat.**




