Seri [1]. Solusi Kepemimpinan Nasional Rusia Indonesia Grean Econom Credit Carbon.
Oleh : Guntur Bisowarno Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara.
Pasuruan, – Budayantara.tv Upaya membangun sinergi global dalam penguatan ekonomi hijau atau green economy kembali mengemuka dalam kegiatan Streaming TikTok Saresehan Roso Orep Sejati yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan jejaring internasional.
Diskusi daring tersebut diikuti oleh Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke, akademisi Muhammad Adib, Pimpinan Redaksi Skalainfo.net Alfisyahri, Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara Guntur Bisowarno, serta tokoh budaya Ki Tohari dari Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.(7/3/2026).
Forum tersebut juga melibatkan jaringan jurnalis warga serta perwakilan komunitas dari puluhan negara sahabat. Saresehan ini menekankan pentingnya gerakan kemanusiaan global melalui pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi berkelanjutan.
Konsep Green Economy dan Perspektif Rusia
Dalam diskusi tersebut dibahas konsep Green Economy yang dalam bahasa Rusia dikenal sebagai “zelyonaya ekonomika” (зелёная экономика). Konsep ini menekankan pembangunan ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di Rusia, implementasi ekonomi hijau dilakukan melalui berbagai program strategis, antara lain pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, peningkatan efisiensi energi di sektor industri dan transportasi, serta penguatan program konservasi hutan.
Selain itu, Rusia juga mendorong pengelolaan limbah yang lebih efektif untuk mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sampah serta mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan guna menekan emisi gas rumah kaca.
Sinergi Global Melalui Perjanjian Paris
Komitmen global terhadap pengurangan emisi karbon juga ditegaskan melalui Paris Agreement yang diadopsi pada 12 Desember 2015 di Paris, Prancis, dan mulai berlaku pada 4 November 2016.
Perjanjian ini telah diratifikasi oleh hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia pada tahun 2016 dan Rusia pada tahun 2019. Negara-negara besar lain seperti Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, serta kawasan Uni Eropa juga turut meratifikasi kesepakatan tersebut.
Melalui kesepakatan ini, negara-negara dunia berkomitmen menekan kenaikan suhu global dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperkuat kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Indonesia dan Hutan Tropis Dunia
Dalam saresehan tersebut juga disoroti potensi besar Indonesia sebagai pusat pengembangan ekonomi hijau berbasis hutan tropis. Dengan kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor utama implementasi ekonomi hijau global.
Sinergi antara pengalaman Rusia dalam pengelolaan energi dan konservasi sumber daya alam dengan kekuatan ekosistem hutan tropis Indonesia dinilai dapat menjadi model kerja sama strategis bagi dunia.
Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara, Guntur Bisowarno, menegaskan bahwa gerakan penyelamatan lingkungan tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi merupakan tanggung jawab bersama umat manusia.
“Gerakan penyelamatan mata air, hutan, dan lingkungan hidup adalah bagian dari upaya menjaga martabat kemanusiaan dan masa depan bumi,” ujarnya.
Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal penyusunan roadmap sinergitas ekonomi hijau global, yang menghubungkan komunitas, jurnalis warga, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.**




