Jakarta,- Budayantara.tv Kepindahan Maarten Paes ke Ajax Amsterdam bukan hanya cerita tentang mimpi masa kecil yang terwujud, tetapi juga tentang keberanian mengambil keputusan sulit demi visi jangka panjang. Penjaga gawang timnas Indonesia itu menegaskan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari jalan yang dianggap ideal oleh banyak orang.
Ajax secara resmi mengumumkan perekrutan Paes pada Senin malam, 2 Februari 2026. Kiper berusia 27 tahun tersebut dikontrak jangka panjang hingga Juni 2029, menandai babak baru dalam perjalanan kariernya.
Bagi Paes, bergabung dengan Ajax memang emosional. Namun, lebih dari itu, kepindahan ini menjadi bukti bahwa keyakinan pada diri sendiri mampu mengalahkan keraguan orang lain.
“Rasanya sangat istimewa. Saya sangat bangga bisa bermain untuk logo ini, untuk klub ini, dan untuk kota ini,” ujar Paes dalam wawancara resmi dengan klub, Selasa, 3 Februari 2026.
Berbeda dengan banyak pemain Eropa yang memilih bertahan di kompetisi elite sejak usia muda, Paes justru mengambil langkah yang sempat dipertanyakan publik: hijrah ke Amerika Serikat dan bermain bersama FC Dallas di Major League Soccer (MLS). Keputusan itu tidak selalu dipahami, tetapi Paes memiliki rencana yang jelas.
“Ketika saya pergi ke Amerika, tidak semua orang melihat itu sebagai langkah yang wajar. Tapi saya punya visi,” kata dia.
Selama sekitar 4,5 tahun di MLS, Paes menempa dirinya di lingkungan yang menuntut fisik, mental, dan adaptasi tinggi. Perjalanan udara berjam-jam, perbedaan iklim, serta intensitas kompetisi menjadi ujian rutin. Dari pengalaman itu, Paes tumbuh bukan hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai pemimpin setelah dipercaya menjadi kapten tim.
Paes mengakui kecintaannya pada Ajax sudah tumbuh sejak kecil. Kenangan menonton Ajax menang 7-1 atas De Graafschap dan membeli kaus Rafael van der Vaart menjadi momen awal keterikatannya dengan klub Amsterdam tersebut.
“Saya selalu melihat Ajax sebagai klub yang sangat indah. Jika suatu hari saya kembali ke Belanda, saya tahu itu hanya untuk Ajax,” ucapnya.
Kini, setelah menempuh perjalanan panjang dan berliku, visi itu menjadi kenyataan. Kepulangan Paes ke Belanda bukan sekadar nostalgia, melainkan hasil dari kesabaran, keberanian, dan konsistensi dalam mengejar tujuan.
Kisah Maarten Paes menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu tercapai lewat jalan singkat. Terkadang, mimpi justru menunggu mereka yang berani mengambil rute terjauh namun paling bermakna.




