Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat KemerdekaanMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung SejarahSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman
Icon News

Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama29 Desember 20253 menit baca
Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman - Budayantara TV

Jakarta,- Budayantara.tv Tahukah kita, bahwa di balik berdirinya dua organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ada satu nama dari Ranah Minangkabau yang terjalin erat dalam sejarah persahabatan keilmuan mereka?

Ia bukan tokoh Jawa. Bukan pula pemimpin organisasi nasional yang sering disebut di buku pelajaran. Namun jejaknya justru mengakar kuat dalam sendi keislaman Nusantara.

Beliau adalah Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, yang oleh masyarakat Minangkabau dipanggil dengan penuh hormat: Inyiak Canduang.

Sosoknya sederhana berkacamata bulat, bersorban, tutur katanya lembut namun tegas. Ia bukan sekadar ulama kampung. Inyiak Canduang adalah penjaga Ahlussunnah wal Jama’ah di Sumatera Barat, pendidik besar, pejuang kemerdekaan, sahabat para pendiri bangsa, sekaligus pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).

Lahir dari Rahim Keilmuan (1871)

Inyiak Canduang lahir pada tahun 1871 di Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sebuah nagari yang kelak dikenal sebagai pusat pendidikan Islam.

Ia lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Syekh Muhammad Rasul, adalah ulama terpandang dan menjadi guru pertamanya. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam tradisi surau Minangkabau: tradisi yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga adab, disiplin, dan tanggung jawab moral.

Berguru di Mekkah dan Persahabatan Tiga Tokoh Besar.

Rasa haus akan ilmu membawanya menempuh perjalanan jauh ke Tanah Suci Mekkah. Di sana, ia berguru kepada ulama besar Minangkabau yang menjadi Imam Masjidil Haram: Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Sejarah mencatat sebuah peristiwa sunyi namun monumental. Dalam satu majelis ilmu, duduk tiga murid yang kelak mengubah wajah Islam Indonesia:

KH Hasyim Asy’ari

KH Ahmad Dahlan

Syekh Sulaiman ar-Rasuli

Mereka belajar dari sumber yang sama, namun menempuh jalan dakwah yang berbeda.
KH Hasyim Asy’ari menguatkan pesantren dan tradisi keilmuan di Jawa, KH Ahmad Dahlan melakukan tajdid melalui Muhammadiyah, sementara Inyiak Canduang kembali ke Minangkabau untuk menjaga mazhab Syafi’i dan tradisi Aswaja.

Perbedaan metode tak pernah memutus persaudaraan.
Membaharu Tanpa Mencabut Akar: MTI Canduang (1928)

Sekembali dari Mekkah, Inyiak Canduang melihat kenyataan pahit: sistem pendidikan surau mulai tertinggal di tengah tekanan kolonial dan perubahan zaman.

Namun ia tidak menolak tradisi. Ia justru membaharu dari dalam.

Pada tahun 1928, ia mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Sebuah langkah berani dan visioner pada masanya:

Sistem kelas dengan meja dan bangku

Kurikulum yang terstruktur

Disiplin belajar modern

Namun tetap berlandaskan kitab kuning dan manhaj ulama salaf.

Inilah bukti nyata bahwa ulama “Kaum Tua” tidak identik dengan kolot. Inyiak Canduang menunjukkan: aqidah bisa kokoh, metode bisa lentur.

Ulama Pejuang dan Penjaga Bangsa

Inyiak Canduang bukan ulama yang hanya berdiam di balik sajadah. Ia berdiri di barisan terdepan melawan ketidakadilan.

Ia menentang Ordonansi Sekolah Liar kebijakan kolonial Belanda yang membatasi pendidikan Islam. Pengaruh dan kharismanya membuat penjajah tidak bisa bertindak sembarangan.

Di masa kemerdekaan, ia turut berperan dalam kehidupan kebangsaan dan dipercaya menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia.

Presiden Soekarno pun dikenal sangat menghormatinya—sebuah pengakuan atas peran ulama tradisional dalam menjaga persatuan dan identitas bangsa.


Wafat dan Warisan yang Tak Pernah Padam (1970)

Pada 1 Agustus 1970, Inyiak Canduang wafat. Ribuan umat mengiringi kepergiannya. Tangis, doa, dan rasa kehilangan menyatu di tanah Minangkabau.

Namun jasadnya boleh pergi—warisannya tetap hidup:

MTI Canduang masih berdiri kokoh

Jaringan PERTI terus berdenyut

Ribuan murid dan alumni menyebar ke seluruh Nusantara

Mereka melanjutkan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin: berakar pada tradisi, santun dalam perbedaan, dan setia pada tanah air.

Renungan untuk Kita

Dari Inyiak Canduang, kita belajar satu pelajaran besar:

Menjadi modern tidak harus mencabut akar tradisi.

Teguh dalam aqidah, lapang dalam metode, dan setia pada persatuan itulah teladan Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli.

Mari kita hadiahkan Al-Fatihah untuk beliau.
Semoga ilmu dan perjuangannya menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir zaman.Al-Fatihah.

Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan - Budayantara TV
Event Musik News

Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan

13 Agustus 20262 menit baca

Bogor, – Budayantanra.tv Semangat kemerdekaan bergema melalui alunan musik dan paduan suara generasi muda Indonesia dalam Konser Kemerdekaan…

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TV
News Tokoh

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah

13 Agustus 20264 menit baca

Situbondo, — Budayantara.tv Di tengah perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), ada sejumlah momentum yang tidak sekadar tercatat sebagai…

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11 - Budayantara TV
News

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11

13 Agustus 20262 menit baca

Jakarta,– Budayantara.tv Agustus 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi keluarga besar SDN Kebayoran Lama Selatan 11. Di tengah…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman - Budayantara TVIndonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan
Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Inyiak Canduang: Ulama Sepuh yang Berpikir Melampaui Zaman - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber