-Ketika 75 Persen Rakyat Kehilangan Ruang Bernapas
Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina SWI Jaya (DPW SWI DKI Jakarta)
“Dan pemimpin jangan bikin rakyat jantungan tiap kali muncul di layar kaca” -(Nitizen)
CEMAS, Itulah kata yang paling tepat menggambarkan isi kepala rakyat kita sekarang ini.
Bayangkan angka ini, 75 persen. Tiga perempat penduduk negeri ini mengaku stres gara-gara kebijakan pemerintah.
Dan yang bikin kaget, 67 persen secara khusus stres melihat “kelakuan” Presidennya sendiri.
Ini bukan main-main.
Saya membaca riset terbaru dari “Center of Economic and Law Studies” (Celios) bersama Kabinet Bayangan ini membongkar apa yang selama ini cuma jadi omongan bisik-bisik di warung kopi, di pangkalan ojek, sampai di dapur-dapur rumah petak.
Rakyat kita sedang “senewen” massal !
-000-
*Ketika Dompet Ditekan, Perut Menjerit
Kenapa bisa stres?
Tentu saja !
Namanya juga hidup di Indonesia hari ini.
Delapan puluh dua persen bilang pajak dan pungutan negara itu bikin megap-megap. 78 persen menjerit karena harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Dari atas ditekan pajak, dari depan dihantam harga beras dan minyak goreng.
Mau nyari napas di mana lagi?
Makanya, tidak heran kalau 53 persen rumah tangga mengaku kondisi ekonominya jauh lebih parah dibanding tahun lalu.
Dapur makin senyap, kompor makin jarang ngebul, tapi tagihan dari negara makin rajin datang.
-000-
*Pemilih yang Berpaling
Politik itu kejam, tapi perut yang lapar jauh lebih kejam.
Ini pelajaran paling telak buat para penguasa.
Dulu, di Pemilu 2024, banyak yang memilih Pak Prabowo dengan penuh semangat.
Tapi apa kata survei Celios sekarang?
Sebanyak 55 persen dari mantan pemilih Prabowo itu mengaku tidak akan milih beliau lagi di pilpres berikutnya !
Loyalitas politik itu ternyata rapuh. Tidak bisa dibeli cuma dengan retorika atau janji-janji manis.
Begitu harga cabe dan beras naik, begitu pajak dirasa mencekik, dan kepala jadi pusing tujuh keliling mikirin cicilan, seketika itu juga dukungan politik menguap.
Tinggal sisa 27 persen yang masih setia, sisanya? Bingung di antara abu-abu.
-000-
*Jangan Tutup Telinga
Celios bikin riset ini independen, murni urusan akademik, tanpa duit donor dari luar. Libatkan 1.142 responden umum plus para ahli. Metode digitalnya digarap serius.
Harusnya, pejabat-pejabat di istana jangan buru-buru sewot atau ngeles. Angka 75 persen stres itu bukan sekadar data statistik di atas kertas, tapi itu bunyi tangisan kecil rakyat di akar rumput.
Kalau pemerintah terus cuek dan menganggap ini angin lalu, jangan kaget kalau suatu hari nanti “stres massal” ini berubah jadi letupan sosial yang susah dikendalikan.
Urus rakyat itu gampang-gampang susah: pastikan perut kenyang, pajak masuk akal, dan pemimpin jangan bikin rakyat jantungan tiap kali muncul di layar kaca.
“The show must go on,”
Tapi kalau penontonnya udah pada stres dan mau ngamuk, bubar jalanlah republik ini. (**)
Pejaten, 15 Oktober 2026
Pukul: 16:47




