Jakarta, — Budayantara.tv Pondok Budaya Rorotan, Jakarta Utara, menjadi ruang perjumpaan gagasan, spiritualitas, dan persaudaraan kebangsaan melalui kegiatan “Dialog Spiritual Budaya dan Temu Saudara”. Program ini merupakan hasil kerja sama strategis Pondok Budaya, Lesbumi NUJU, dan Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI).di Jakarta Utara.Minggu (11/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai lapisan masyarakat, tokoh lintas pelaku seni, serta pengurus PWI LS. Pertemuan ini menjadi momentum untuk menggali kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan, kasih sayang, toleransi, dan semangat persaudaraan yang selama ini melekat pada sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang membutuhkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, dialog ini mengajak masyarakat untuk kembali menempatkan hati nurani, kebijaksanaan, dan kemanusiaan sebagai landasan dalam membangun Indonesia yang damai.
Menggali Pemikiran Gus Dur dan Spiritualitas Satrio Mandito
Dialog menghadirkan Sriyanto Eko Galgendu, pimpinan GMRI sekaligus penggali Kitab Ma Ha Is Ma Ya, sebagai narasumber utama. Ia mengulas ayat kunci yang didedikasikan untuk meneladani ketokohan dan pemikiran Gus Dur, khususnya dalam membangun kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama.
Diskusi kemudian berkembang pada konsep Satrio Mandito, sebuah gambaran keteladanan kepemimpinan yang tidak semata-mata bertumpu pada kekuasaan, tetapi juga pada kekuatan spiritual, keteguhan moral, dan keluhuran budi pekerti.
Dalam pemaknaan yang berkembang selama dialog, Satrio Mandito merepresentasikan keselarasan antara pemimpin yang menjalankan amanah kekuasaan dan sosok penjaga nilai-nilai moral serta spiritualitas. Keduanya diharapkan mampu berjalan beriringan demi kepentingan masyarakat dan keutuhan bangsa.
Sosok Gus Dur pun menjadi salah satu cermin keteladanan yang dibicarakan. Sebagai ulama yang pernah memimpin negara, Gus Dur dikenal luas melalui gagasan kemanusiaan, penghormatan terhadap keberagaman, serta keberaniannya memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan berkeyakinan.
Keteladanan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang jabatan dan kewenangan, melainkan juga keberanian membela kemanusiaan, kesediaan mendengarkan pihak lain, serta kemampuan merangkul mereka yang berbeda.
Memperluas Samudera Jiwa, Menguatkan Rekonsiliasi Bangsa
Salah satu pesan utama dalam kegiatan ini adalah pentingnya memperluas apa yang disebut sebagai “samudera jiwa” ruang batin yang lapang, sabar, bijaksana, dan penuh maaf dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Gagasan ini mengajak masyarakat untuk tidak mudah terjebak dalam pertentangan, kebencian, maupun sikap saling menyalahkan. Sebaliknya, setiap perbedaan perlu dikelola melalui dialog, keterbukaan, dan kesediaan memahami sudut pandang orang lain.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai asih, asah, dan asuh: mengasihi sesama, saling mencerdaskan, serta membimbing dan merawat satu sama lain.
Dalam konteks kebangsaan, nilai-nilai ini menjadi penting untuk membangun rekonsiliasi yang tidak berhenti pada seruan perdamaian, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani Gus Dur berarti meneruskan semangat kemanusiaan dan keberanian moralnya, bukan sekadar mengenang nama besarnya. Warisan pemikiran dan keteladanan harus terus dihidupkan melalui sikap yang menghargai perbedaan, membangun kepercayaan, serta memperkuat solidaritas sosial.
Tukar Buku dan Tunas Kacang Bintang: Simbol Persaudaraan
Suasana keakraban mewarnai penghujung kegiatan melalui tradisi saling bertukar kasih. Para peserta dan tokoh yang hadir saling bertukar buku karya pemikiran serta tunas tanaman kacang bintang.
Pertukaran buku menjadi simbol berbagi pengetahuan, gagasan, dan pengalaman. Sementara itu, pemberian tunas tanaman mengandung pesan tentang pentingnya merawat kehidupan dan menumbuhkan harapan bersama.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama dan aksi nyata penanaman tunas kacang bintang di kebun yang dikelola oleh pengasuh Pondok Budaya Rorotan, KH. A. Muklis Fadlil.
Penanaman tersebut menjadi simbol bahwa nilai-nilai kebajikan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu ditanam, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebagaimana tunas yang membutuhkan tanah, air, dan kesabaran untuk tumbuh, perdamaian juga membutuhkan ketulusan, komitmen, dan kerja bersama. Rekonsiliasi tidak dapat dibangun dalam sehari, tetapi harus dirawat melalui tindakan yang konsisten.
Budaya sebagai Jalan Menuju Perdamaian
Dialog Spiritual Budaya dan Temu Saudara di Pondok Budaya Rorotan menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar pertunjukan seni, tradisi, atau peninggalan masa lalu. Kebudayaan juga merupakan jalan untuk membangun kesadaran, memperkuat hubungan antarmanusia, dan merawat nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui perjumpaan lintas kalangan, pertukaran pemikiran, doa, dan penanaman tunas, kegiatan ini menghadirkan pesan bahwa persaudaraan kebangsaan perlu diwujudkan dalam tindakan sederhana yang memiliki makna mendalam.
Pada akhirnya, semangat Gus Dur mengingatkan bahwa Indonesia yang kuat bukanlah Indonesia yang meniadakan perbedaan, melainkan Indonesia yang mampu hidup bersama dalam keberagaman.
Dari Pondok Budaya Rorotan, sebuah pesan ditanam untuk masa depan: rawatlah persaudaraan, luaskan samudera jiwa, dan jadikan kasih sayang sebagai akar bagi tumbuhnya perdamaian di bumi Nusantara.***




