Dari Batik Tulis Singosari Berfilosofi Bu Tantri Listyorini Gayantri hingga Tatah-Sungging Ringgit Wayang Kulit dan Ukiran Kayu Warangka Keris
Oleh: Ki Guntur Bisowarno
Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System —
Purwosari Pasuruan, – Budayantara.tv BSNSS
BUKAN SEKADAR KARYA, MELAINKAN KECERDASAN
Ketika kita melihat batik, wayang kulit, keris dan warangka, yang pertama kali hadir di hadapan mata adalah bentuk, keindahan dan keterampilan tangan.
Namun di balik setiap karya terdapat sesuatu yang jauh lebih mendasar: kecerdasan manusia dalam membaca media, memilih cara, mengendalikan proses, mewujudkan fungsi, dan memberi makna.
Batik tidak lahir hanya karena ada kain.
Wayang tidak lahir hanya karena ada kulit.
Warangka keris tidak lahir hanya karena ada kayu.
Di dalam masing-masing karya terdapat proses panjang yang mempertemukan alam, manusia, ilmu, budaya dan teknologi.
Karena itu, kebudayaan Nusantara layak dibaca bukan semata sebagai kumpulan benda warisan, melainkan sebagai rekaman kecerdasan manusia Nusantara dalam mengolah kehidupan menjadi karya.
TIGA MEDIA, SATU POLA KECERDASAN
Perhatikan tiga karya yang berbeda.
- BATIK TULIS SINGOSARI
Berfilosofi Bu Tantri Listyorini Gayantri
Medianya:
KAIN → MALAM → CANTING → WARNA
Kain menjadi ruang.
Malam panas menjadi batas.
Canting menjadi alat ketepatan.
Gambar dan lukisan menjadi bahasa gagasan.
Warna menghidupkan perwujudan.
Kemudian lahirlah motif dan busana yang membawa identitas serta filosofi.
Di sini kita melihat rangkaian:
GAGASAN → GAMBAR → LUKIS → CANTING → MALAM → BATAS → WARNA → MOTIF → BUSANA → MAKNA.
Malam yang awalnya cair justru menjadi alat untuk mengendalikan ruang dan menentukan ke mana warna dapat bergerak.
Batas melahirkan bentuk. - TATAH-SUNGGING RINGGIT WAYANG KULIT
Medianya berubah:
KULIT HEWAN → TATAH → SUNGGING → CAHAYA
Pemahat harus membaca karakter kulit.
Ketebalannya.
Kelenturannya.
Kekuatan bidangnya.
Kemudian menentukan pola tatahan, lubang, garis dan karakter tokoh.
Tatahan bukan sekadar hiasan.
Lubang-lubang pada kulit menjadi bagian dari bahasa visual yang akan berinteraksi dengan cahaya dan bayangan.
Ketika dimainkan, karya itu bergerak menjadi pertunjukan.
Maka:
KULIT → TATAH → BENTUK → CAHAYA → BAYANGAN → TOKOH → CERITA → NILAI.
Di sinilah karya fisik berubah menjadi bahasa kebudayaan. - UKIRAN KAYU PADA WARANGKA KERIS
Media kembali berubah:
KAYU → SERAT → PAHAT → UKIR → WARANGKA
Pengukir tidak cukup hanya memiliki alat.
Ia harus mampu membaca kayu.
Membaca arah serat.
Membaca kekerasan dan kelunakan.
Menentukan arah pahat.
Mengukur kedalaman.
Mengendalikan tekanan.
Kemudian membentuk motif dan ornamen tanpa kehilangan karakter alami material.
Serat kayu bukan sekadar bagian dari bahan.
Serat menjadi bagian dari bahasa visual karya.
Warangka akhirnya menjadi pertemuan:
ALAM → MATERIAL → KETERAMPILAN → ESTETIKA → FUNGSI → KEHORMATAN → MAKNA PUSAKA.
MEDIA BERBEDA, KECERDASAN DAPAT BERTEMU
Di sinilah saya menemukan pola yang menarik.
Batik, tatah-sungging dan ukiran warangka memiliki media yang berbeda.
Namun ketiganya menuntut kemampuan dasar yang sama:
MEMBACA → MEMILIH → MENGENDALIKAN → MEMBENTUK → MENYESUAIKAN → MEWUJUDKAN → MEMAKNAI.
Pembatik membaca malam.
Pemahat membaca kulit.
Pengukir membaca kayu.
Tidak ada satu teknik yang dapat dipaksakan kepada semua media.
Setiap media mempunyai karakter.
Setiap karakter membutuhkan aplikasi.
Setiap aplikasi menghasilkan perwujudan.
Setiap perwujudan harus mempunyai manfaat.
Dan setiap manfaat harus kembali kepada tujuan.
Karena itu saya merumuskan:
MEDIA → APLIKASI → PERWUJUDAN → MANFAAT → TUJUAN → ARTI → MAKSUD
Inilah salah satu pola kecerdasan Nusantara yang menurut saya sangat penting untuk dibaca kembali pada zaman sekarang.
KECERDASAN BUKAN MEMAKSA MEDIA
“Kecanggihan bukan semata-mata pada alat yang digunakan, melainkan pada kecerdasan manusia menyesuaikan media dengan maksud, aplikasi dengan manfaat, dan keterampilan dengan tujuan.”
— Guntur Bisowarno
Kecanggihan tidak selalu ditentukan oleh semakin modernnya alat.
Kadang kecanggihan justru terlihat dari ketepatan manusia menggunakan alat yang sederhana untuk mencapai tujuan yang kompleks.
Canting sederhana dapat melahirkan sistem visual yang rumit.
Tatah sederhana dapat melahirkan karakter wayang yang hidup melalui cahaya.
Pahat dapat mengikuti serat kayu dan melahirkan warangka yang bernilai estetis sekaligus fungsional.
Maka ukuran kecerdasan bukan hanya:
“Seberapa canggih alatnya?”
Tetapi:
“Seberapa tepat manusia memahami hubungan antara alat, media, keterampilan, tujuan dan manfaat?”
DARI KECERDASAN MULTIDISIPLINER MENUJU MULTIDIMENSIONAL
Tiga karya tersebut juga memperlihatkan bahwa kecerdasan Nusantara tidak bekerja dalam satu bidang saja.
Menggambar bertemu melukis.
Melukis bertemu canting.
Canting bertemu tekstil.
Tekstil bertemu busana.
Tatah bertemu kulit.
Kulit bertemu cahaya.
Ukir bertemu kayu.
Kayu bertemu keris.
Seni bertemu teknologi.
Budaya bertemu kehidupan.
Inilah kecerdasan multidisipliner.
Tetapi kecerdasan itu kemudian bergerak lebih jauh menjadi multidimensional:
PIKIRAN → UCAPAN → TINDAKAN → KETERAMPILAN → KARYA → FUNGSI → MANFAAT → MAKNA
Pikiran melahirkan gagasan.
Ucapan menyampaikan pengetahuan.
Tindakan membuktikan kesungguhan.
Keterampilan menerjemahkan pengetahuan.
Karya menjadi bukti nyata.
Fungsi memberi kegunaan.
Manfaat memberi nilai bagi kehidupan.
Makna memberikan arah.
Dengan demikian, kebudayaan bukan hanya menghasilkan benda, tetapi menghasilkan cara hidup.
ALAMIAH — ILAHIAH — ILMIAH
Saya melihat kecerdasan tersebut dapat dibaca melalui tiga dimensi:
ALAMIAH
Membaca karakter alam dan material.
Serat kayu.
Kulit.
Kain.
Malam.
Warna.
Cahaya.
Manusia belajar dari apa yang tersedia di alam.
ILAHIAH
Menyadari bahwa manusia bukan pemilik mutlak kehidupan.
Ada tanggung jawab terhadap alam, sesama, karya, pengetahuan dan generasi berikutnya.
ILMIAH
Mengamati, memahami, mengembangkan, menguji dan meneruskan pengetahuan secara sistematis.
Ketiganya dapat dirangkum:
Alam memberi media.
Manusia membaca.
Kecerdasan menentukan cara.
Keterampilan mewujudkan.
Pengetahuan mengembangkan.
Kesadaran memberi arah.
DARI TRADISI MENJADI LABORATORIUM MASA DEPAN
Karena itu, tradisi tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai benda masa lalu.
Tradisi harus menjadi laboratorium masa depan.
Batik dapat berdialog dengan desain kontemporer.
Wayang dapat berdialog dengan teknologi visual dan digital.
Keris dapat dipelajari melalui sejarah material dan metalurgi.
Ukiran kayu dapat berdialog dengan arsitektur dan desain.
Busana tradisional dapat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
Pengetahuan tersebut kemudian dapat dipertemukan dengan:
PENDIDIKAN → EKONOMI KREATIF → LINGKUNGAN → PARIWISATA BUDAYA → TEKNOLOGI.
Dengan demikian, modernitas tidak harus menghapus tradisi.
Modernitas justru dapat menjadi ruang untuk membuktikan bahwa kecerdasan tradisi mampu terus berkembang.
PEMULIHAN DAN PEMULIYAAN
Pemulihan kebudayaan bukan berarti kembali sepenuhnya ke masa lalu.
Pemulihan berarti menghidupkan kembali kecerdasan yang pernah bekerja di dalam kebudayaan untuk menjawab kebutuhan masa kini.
Sedangkan pemuliyaan bukan hanya memuliakan bendanya.
Yang harus dimuliakan adalah manusianya.
Pembatik.
Pemahat.
Pengukir.
Empu.
Perajin.
Seniman.
Budayawan.
Guru.
Dan generasi muda yang bersedia belajar.
Sebab apabila bendanya diselamatkan tetapi manusianya kehilangan pengetahuan, maka kita hanya menyimpan objek.
Sebaliknya, ketika manusia dan pengetahuannya dimuliakan, maka karya baru akan terus lahir.
“Bukan sekadar menjaga bendanya, tetapi menghidupkan pengetahuannya. Bukan sekadar memuliakan masa lalunya, tetapi memuliakan manusia yang mampu meneruskan dan mengembangkan kecerdasannya untuk masa depan.”
— Guntur Bisowarno
WARISAN TERBESAR BUKAN BENDA, MELAINKAN KECERDASANNYA
Kain dapat lapuk.
Kulit dapat rapuh.
Kayu dapat dimakan usia.
Benda dapat hilang.
Namun kecerdasan yang diwariskan dapat melahirkan karya baru.
Maka warisan terbesar Nusantara bukan semata-mata batik, wayang, keris atau warangka.
Warisan terbesarnya adalah:
KEMAMPUAN MEMBACA ALAM,
MEMBACA MATERIAL,
MEMBACA KEBUTUHAN,
MEMILIH CARA,
MENGHASILKAN KARYA,
MEMBERI MANFAAT,
DAN MENCIPTAKAN MAKNA.
Di sanalah tradisi bertemu inovasi.
Di sanalah keterampilan bertemu ilmu.
Di sanalah manusia bertemu alam.
Dan di sanalah masa lalu dapat berbicara kepada masa depan.
UNTUK NUSANTARA JAYA
UNTUK INDONESIA RAYA
Pertanyaan kita hari ini bukan hanya:
Apa warisan leluhur kita?
Tetapi:
Kecerdasan apa yang diwariskan kepada kita?
Bukan hanya:
Bagaimana benda itu dibuat?
Tetapi:
Mengapa media itu dipilih? Bagaimana aplikasinya disesuaikan? Apa manfaatnya? Untuk tujuan apa diwujudkan? Apa arti dan maksudnya bagi kehidupan?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut terus kita hidupkan, maka pelestarian berubah menjadi pengembangan.
Menjaga benda berubah menjadi menjaga pengetahuan.
Mengagumi masa lalu berubah menjadi membaca kecerdasannya.
Dan kebudayaan berubah dari sekadar warisan menjadi sumber daya masa depan.
Pada akhirnya:
“Alam memberi media, manusia membaca sifatnya; kecerdasan menentukan caranya, karya membuktikan manfaatnya, dan makna mengembalikan semuanya kepada tujuan kehidupan.”
— Guntur Bisowarno
Inilah jalan yang saya sebut:
PEMULIHAN menuju PEMULIYAAN.
Bukan hanya menghidupkan kembali karya.
Bukan hanya menjaga tradisi.
Tetapi menghidupkan kembali kecerdasan manusia Nusantara agar mampu membaca alam, mengembangkan pengetahuan, menciptakan karya, menjaga kehidupan, memuliakan sesama, dan menghadirkan manfaat bagi generasi yang akan datang.
Untuk Nusantara Jaya.
Untuk Indonesia Raya.




