Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina SWI Jaya DKI Jakarta
ADA yang nuansa “magis” sekaligus mengharukan ketika menyaksikan Gelora Bung Karno malam itu.
Jakarta,- Budayantara.tv Di bawah sorot lampu ribuan watt dan gemuruh puluhan ribu manusia yang baru saja merayakan kemenangan sepak bola, seorang perempuan berdiri dengan anggun.
Namun, saat nada-nada awal lagu “Tanah Airku” mengalun, keteguhan itu runtuh. Anggun C. Sasmi menitikkan air mata.
Mengapa air mata seorang “Diva Internasional” yang telah menaklukkan panggung-panggung megah Eropa begitu mudah jatuh di panggung Senayan?
Mungkin karena dalam lirik karya Ibu Sud itu, tersimpan sebuah ironi yang puitis. Lagu itu tidak ditulis dengan nada propaganda yang berseru-seru atau trompet perang yang perkasa.
Ia ditulis dengan bisikan kesederhanaan seorang perantau: tentang tanah yang tidak hilang dari kalbu, meski tubuh telah melintasi beribu benua.
Bagi Anggun, lagu itu bukan sekadar partitur yang harus dinyanyikan dengan teknik “vocal range” yang sempurna. Ada nostalgia yang mengetuk memori.
Di stadion yang sama pada tahun 1990, ia pernah berdiri sebagai gadis remaja berusia 16 tahun dengan jaket kulit dan nafas musik rock yang membara.
Puluhan tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja yang mencari arah, melainkan sebagai sosok yang telah mengarungi dunia, membawa jejak perjalanan panjang yang tak selalu mudah.
Di sinilah letak daya magis dari kebudayaan. Rasa cinta tanah air sering kali didefinisikan secara kaku oleh kekuasaan melalui baris-baris instruksi, paspor, atau kewarganegaraan administratif.
Namun seni mengaburkan batas-batas kaku tersebut. Nasionalisme yang sejati acap kali bukan lahir dari riuh slogan, melainkan dari rasa rindu yang sunyi—sebuah perasaan melankolia yang dialami mereka yang berada di kejauhan.
Ketika Anggun menangis, puluhan ribu penonton di tribune ikut terdiam dan bernyanyi bersama. Ada proses pertautan emosi yang ajaib. Air mata itu menjadi semacam katarsis kolektif.
Di tengah dunia modern yang serba cepat dan acap kali memisahkan kita dalam sekat-sekat perbedaan, lagu tua itu mendadak menjadi tali pengikat yang menyatukan kembali ingatan bersama tentang apa arti kata “pulang”.
Pada akhirnya, panggung GBK malam itu menguji kembali pemahaman kita tentang batas.
Geografi boleh memisahkan, jarak boleh membentang, dan zaman boleh berganti.
Namun, seperti yang diisyaratkan oleh lelehan air mata Anggun di bawah langit Jakarta, rumah adalah sesuatu yang kita bawa di dalam dada—ia tidak pernah benar-benar pergi.(***)




