Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina DPW SWI JAYA- DKI Jakarta
ADA satu hal menarik saat membaca kabar dari Jakarta hari kemarin.
Jakarta – Budayantara.tv Rocky Gerung pria yang bertahun-tahun dikenal sebagai kritikus yang rajin melemparkan amunisi kata-kata dari mimbar-mimbar debat kini ini resmi mengenakan jas dan melangkah masuk ke koridor Istana.
Ia resmi dilantik menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Bagi mereka yang kerap mengikuti narasi “akal sehat” dan petikan filsafat yang saban hari ia lontarkan, peristiwa ini mungkin terasa seperti plot twist dalam sebuah novel.
Banyak orang kaget, kecewa, atau setidaknya bertanya-tanya: mengapa sang pejalan sunyi di jalan kritik itu kini memilih duduk di lingkar dalam kekuasaan?
Namun, jika kita membaca kembali teks klasik politik, peristiwa seperti ini sejatinya bukanlah hal yang benar-benar baru.
Dulu, Niccolò Machiavelli menulis “The Prince” bukan hanya dari balik meja studi yang tenang, melainkan dari pengalamannya berkeliling di lorong-lorong kekuasaan Florence.
Machiavelli mengajarkan kita satu hal jernih: arena politik selalu bergerak menurut kalkulasi kepentingan.
Di panggung itu, batas antara lawan dan kawan bisa bergeser hanya dalam hitungan detik ketika arah angin kepentingan menemukan titik temunya.
Idealism yang melayang tinggi di udara sering kali harus mendarat tajam saat berhadapan dengan realitas praktis kekuasaan.
Di situlah Aristoteles memberi kita pegangan yang sangat berharga. Ia mengingatkan agar kita mencintai kebenaran melebihi rasa cinta kita kepada sahabat atau sosok idola.
Ketika kita menggantungkan standar moral dan kebenaran pada figur seorang manusia, kita sedang membiarkan diri kita berjalan di atas lantai kaca yang rentan retak.
Ada beberapa poin renungan menarik dari peristiwa ini:
*Panggung Bebas vs Lorong Kekuasaan
Di luar sistem, seorang kritikus menikmati kemerdekaan penuh untuk berbicara tanpa beban protokoler.
Di dalam Wantimpres, masukan disampaikan di balik pintu tertutup. Pertanyaannya: apakah ketajaman nalar itu tetap tajam saat berubah menjadi bisikan nasihat, ataukah ia perlahan melembut menyesuaikan irama istana?
*Pelajaran Dekultusasi Intelektual
Lakon perpolitikan ini mendidik publik agar tidak pernah mengkultuskan siapa pun. Nalar kritis tidak boleh bergantung pada siapa yang bicara, melainkan pada apa substansi yang dibicarakan.
Ketika sang idola melangkah ke dalam lingkar kekuasaan, publiklah yang harus tetap memelihara akal sehat di luar.
*Kedewasaan Berpikir di Ruang Publik
Melihat transformasi seorang figur publik menjadi bagian dari sistem kekuasaan tak perlu membuat kita pesimis. Justru, ini adalah panggilan untuk menjadi pemikir yang lebih matang.
Belajar memahami dinamika kekuasaan adalah proses sepanjang hayat agar kita tak gampang terperdaya oleh ilusi persona.
Pada akhirnya, panggung politik memang selalu punya caranya sendiri untuk mengejutkan kita. Apakah langkah ini akan menjadi babak baru tempat “akal sehat” mewarnai kebijakan dari dalam, atau sekadar membuktikan bahwa gravitasi kekuasaan selalu lebih kuat dari retorika?
Waktu dan sejarah yang akan mencatatnya.
Satu yang pasti
Kebenaran tak pernah butuh kantor di Istana. Ia selalu tinggal di hati orang-orang yang terus merawat akal sehat dan daya kritisnya secara independen.(***)




