Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina DPW SWI JAYA
Jakarta – Budayantara.tv BAHASA, konon, adalah rumah bagi kebudayaan. Namun di negeri para musafir kata ini, bahasa kerap kali dirobohkan sendiri oleh para penghuninya yang paling berkuasa.
Kita hidup di zaman ketika lisan para pemimpinmereka yang di pundaknya diletakkan nasib jutaan manusia berubah menjadi lorong-lorong sempit yang memantulkan amarah, umpatan, dan caci maki. “Goblok”, “dungu”, “bajingan.”
Kata-kata yang dahulu hanya singgah di sudut-sudut jalan yang kotor, kini disuarakan dengan bangga dari mimbar-mimbar kekuasaan.
Dan yang lebih menyayat hati bukanlah makian itu sendiri, melainkan tepuk tangan yang menyambutnya.
Ada sebagian dari kita yang terpesona. Mereka mengira kata-kata kasar adalah jubah keperkasaan, bukti dari ketegasan seorang pemimpin yang “apa adanya”, yang tak berselimut basa-basi birokrasi.
Padahal, kekeliruan apa yang lebih telanjang daripada menyamakan ketulusan dengan hilangnya adab?
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, kekuasaan selalu bergulat dengan bayang-bayangnya sendiri.
Kekuasaan yang sejati tidak pernah membutuhkan suara yang melengking tinggi untuk membuktikan eksistensinya.
Seperti angin yang menggerakkan pepohonan, ia bekerja dalam senyap, mengalir melalui kewibawaan batin dan keadilan yang terasa.
Sebaliknya, ketika seorang penguasa mulai berteriak dan menghina sesama, sesungguhnya ia sedang membunyikan alarm tentang kerapuhannya sendiri.
Psikologi menyebutnya proyeksi atau kompensasi.
Namun para penyair dan pemikir masa lalu mengenalnya dengan nama yang lebih sederhana “rasa takut.”
Orang yang merasa aman di dalam singgasananya tidak akan pernah merasa perlu mengecilkan orang lain untuk membuat dirinya tampak besar.
Makian adalah topeng. Ia adalah perisai rapuh yang dipasang untuk menutupi rongga kosong di dalam jiwa yang sedang mengalami krisis makna.
Di balik suara yang menggelegar dan kata-kata yang merendahkan, bersemayam seorang manusia kecil yang ketakutan bahwa dunia akan melihat betapa rapuh fondasi harga dirinya.
Kita sering lupa bahwa bahasa kekuasaan memiliki daya menular yang mengerikan.
Ketika seorang pemimpin menghalalkan makian, ia sedang meletakkan batu pertama bagi runtuhnya bangunan moral sebuah bangsa.
Albert Bandura pernah mengingatkan kita tentang bagaimana manusia belajar dari keteladanan, bahkan keteladanan yang buruk.
Perlahan-lahan, batas antara yang tabu dan yang pantas menjadi kabur.
Makian bergeser menjadi lumrah; ia merayap ke ruang-ruang kelas, berbiak di media sosial, dan mencemari percakapan sehari-hari anak-anak muda kita.
Desensitisasi moral terjadi secara senyap. Kita menjadi bangsa yang kebas, yang menganggap kebencian sebagai bagian dari kewajaran hidup bersama.
Lebih jauh lagi, kekuasaan yang gemar memaki menuntut kepatuhan yang hampa.
Di bawah bayang-bayang ketakutan, institusi dan birokrasi kehilangan nyawanya.
Keamanan psikologis—syarat paling mutlak bagi lahirnya kreativitas dan pemikiran merdeka—dihancurkan oleh teror psikologis.
Orang-orang memilih diam, menelan ludah, dan menjadi “Yes-Men” yang setia mengangguk demi selembar keselamatan karier.
Di ruang-ruang yang diteror oleh amarah, kebenaran adalah barang haram. Tak ada lagi orang yang berani berbisik jujur kepada penguasa, sebab kejujuran adalah tiket menuju kehancuran.
Maka, mari kita renungkan kembali. Apakah kita hendak menyerahkan masa depan republik ini kepada mereka yang merayakan amarah sebagai kebijakan?
Ketegasan bukanlah suara keras yang memecah gendang telinga. Ketegasan adalah keberanian untuk bersikap adil, kemampuan untuk mengendalikan diri saat badai mengamuk di dalam dada.
Begitu juga keluhuran untuk menghormati kemanusiaan orang lain, betapapun kecilnya kedudukan mereka.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seorang pemimpin dari seberapa banyak ia berhasil merendahkan musuhnya, melainkan dari seberapa besar ia mampu mengangkat harkat martabat manusia di sekitarnya.
Dan di hadapan cermin kebudayaan yang retak ini, kita hanya bisa berharap: semoga bangsa ini lekas sembuh dari demam panjang yang meracuni lisan dan nuraninya.(***)




