Legenda Satpol PP Jakarta yang Humanis dan Dicintai
Jakarta – Budayantara.tv Suasana haru menyelimuti rumah duka di kawasan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, saat keluarga, kerabat, dan para tokoh melepas kepergian Harianto Badjoeri, Minggu (22/2) pukul 23.18 WIB. Sosok yang akrab disapa HB itu berpulang setelah lama berjuang melawan penyakit stroke yang dideritanya.
Sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir, almarhum dilepas melalui upacara kedinasan resmi yang dipimpin langsung oleh Kepala Satpol PP Provinsi DKI Jakarta saat ini, Satriadi Gunawan. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terakhir atas dedikasi panjangnya bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pemimpin Tegas yang Menenangkan Hati
Harianto menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Provinsi DKI Jakarta periode 2005–2010, pada masa kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo. Di mata banyak orang, ia dikenal sebagai sosok tegas bahkan galak saat memimpin razia terhadap pelanggaran ketertiban umum, mulai dari pengemis hingga pedagang yang menyalahi aturan.

Namun di balik ketegasannya, tersimpan sisi humanis yang membuatnya begitu dicintai anak buah. Ia tidak hanya memimpin dengan komando, tetapi juga dengan hati. Banyak anggota Satpol PP mengenang bagaimana HB selalu memperhatikan kesejahteraan dan kondisi spiritual bawahannya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, bahkan pernah menyebut HB sebagai legenda. Menurutnya, kunci kepemimpinan Harianto adalah kemampuannya menenangkan hati anak buah. “Kenapa beliau bisa dicintai? Karena beliau memperhatikan kehidupan anak buah. Yang paling penting itu nenangin hati anak buah,” kenangnya.
Bagi HB, jabatan bukanlah sekadar posisi struktural, melainkan amanah untuk membina. Di bawah komandonya, berbagai inovasi pembinaan anggota dilakukan secara lebih humanis menguatkan mental, disiplin, sekaligus nilai spiritual.
Jejak di Dunia Sepak Bola dan BUMD
Tak hanya dikenal di lingkungan birokrasi, Harianto juga meninggalkan jejak di dunia olahraga. Ia pernah menjabat sebagai Manajer Persija Jakarta pada era akhir 2000-an, sekitar 2006–2010. Keterlibatannya di klub ibu kota itu tak lepas dari perannya di PT Persija sebagai pengelola.
Sejumlah mantan pemain Persija turut menyampaikan duka cita atas kepergian sang mantan manajer. Bagi mereka, HB bukan hanya pengurus klub, tetapi figur yang memberi dukungan moral dan rasa kekeluargaan.
Selepas tak lagi menjabat Kasatpol PP, Harianto dipercaya menjadi Direktur di PT Pembangunan Jaya Ancol sejak 2010. Kepercayaan itu menunjukkan reputasinya sebagai birokrat sekaligus profesional yang memiliki jaringan luas dan integritas tinggi.
Penghormatan Para Tokoh
Sejumlah tokoh penting tampak hadir memberikan penghormatan terakhir, di antaranya Fauzi Bowo serta mantan Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi. Kehadiran mereka menjadi bukti besarnya pengaruh dan relasi yang dibangun almarhum semasa hidup.
Stroke sebagai Hidayah
Di balik ujian stroke yang dideritanya selama bertahun-tahun, Harianto memegang prinsip yang tak biasa. Ia meyakini penyakit tersebut sebagai hidayah pengingat untuk terus berbuat baik dan memperbaiki diri. Sikap itu mencerminkan keteguhan hati dan kedalaman spiritual yang menjadi bagian dari kepribadiannya.
Harianto Badjoeri mungkin telah berpulang, tetapi ketegasan, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan yang ia tanamkan akan terus hidup di hati mereka yang pernah dipimpinnya.
Selamat jalan, HB. Jakarta kehilangan seorang legenda, namun teladanmu akan tetap menyala sepanjang masa.(Djo)




