Pasuruan,- Budayantara.tv Pengukuhan Satgas Mata Air di OAK Lawang tanggal 31 Januari 2026, pukul 20.00 WIB, secara simbolis dilakukan penyerahan Gunungan Wayang Kulit dari Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., M.A. (Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya) kepada Sang Dalang Utama, Dalang Tunanetra, Ki Triya Handoko, asuhan Ki Dalang Senior, Ki Sudarto Carito dari Sanggar Sekar Sari Purwosari Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan, Lawang, (1/2/2026).Ki Triya Handoko berasal dari Desa Dusun Sumber Ngepoh Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, yang melakonkan Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik, berjudul Bodronoyo Mbangun Kerukunan .
Lounching Satgas Mata Air ini juga secara simbolis dilakukan dengan penyerahan buku yang berjudul “Sedhakep Angawe Awe : Jaringan Sosial Pencurian Kayu Jati Dan Tata Kelola Hutan Di Jawa” dengan penulis Prof.Dr.H. Muhammad Adib, Drs., M.A., yang disaksikan oleh tokoh – tokoh pegiat adat budaya tradisi, tokoh masyarakat, petani kopi usaha Kopi Katinden, Pak Atemo; Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Cemara Indah beserta isteri & cucunya, Media Indepence Skalainfo.net, perwakilan pihak OAK LAWANG HOTEL, 4 orang dalang (2 masih muda; Ki Triya Handoko & Ki Argo Setyo, 2 senior; Ki Winarno Sabda NWB Ngesti Wedharing Budaya & Ki Sudarto Carito) dengan operator sound system Mas Ipon, bersama keluarga Sang Dalang Utama & satu sinden masih muda Mbak Dahlia, Hary Haryanto Putera Daerah Desa Ketindan Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, Mahfudz Petani Organik Kelurahan Kertosari & Guntur Bisowarno Kelurahan Purwosari Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan, Rubani & Agus Blangkon Kota Pasuruan, Jatra suami isteri Kota Batu, 2 mahasiswi FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Jurusan Antropologi Lingkungan ( Nur Hidayah & Dea) bersama Isteri Prof. Adib, serta Rekso Aminoto dari Trowulan Mojokerto.
Dalam paparannya, Prof Adib menyampaikan kutipan kunci terkait filosofi kegiatan ini :
“Air bukan sekedar komoditas, melainkan derajat martabat kehidupan. Melalui Satgas Mata Air ini dan Budaya Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik lakon Bodronoyo Mbangun Kerukunan ini, kami ingin menegaskan bahwa menjaga mata air adalah laku kebudayaan. Jika jaringan sosial masyarakatnya rukun dan ‘sedhakep’ (waspada/menjaga), maka alam akan ‘angawe-awe’ (memanggil/memberi berkah). Kita tidak bisa menjaga hutan dan mata air hanya dengan hukum formal, tapi harus dengan kerendahan hati, ketulusan. dan laku tindakan tradisi budaya yang nyata mulia,”
Pelaksanaan kegiatan malam hari itu di depan musholla Hotel OAK Lawang Kabupaten Malang yang di dukung oleh Guntur Bisowarno S.Si, Apt sebagai Koordinator Kemitraan Satgas Mata Air dan merangkap sebagai Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System.
“Dan kegiatan ini akan berkelanjutan di daerah-daerah yang memiliki sumber mata air sekitaran Jawa Timur” ungkap penuh antusias Sang Profesor.
Rundown Satgas Mata Air selanjutnya tgl 5-6 Pebruari 2026 akan meluncur ke kawasan pemangku hutan di LMDH; Lembaga Masyarakat Desa Hutan Cemara Indah, Pimpinan Atemo, Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan untuk penanaman 10.000 bibit Pohon Cemara, secara berjenjang dan bertahap, mulai dari 3.000 bibit Pohon Cemara.
Acara pagelaran ini berdurasi 2 jam dilanjutkan dengan sarasehan yang kehangatan, kenyamanan, perlindunganNya dan kegiatan ditutup dengan Doa Bersama dari Lintas Organisasi dan Lintas Agama.(Penulis: Aminoto/Editor: Guntur)




