Jakarta – Budayantara.tv Kabar duka menyelimuti dunia musik Tanah Air. Pendiri Museum Musik Indonesia (MMI), Herwanto bin Soewarsono atau yang akrab disapa Hengki, meninggal dunia pada Selasa, (3/3/ 2026) dalam usia 69 tahun.
Informasi wafatnya sosok pegiat musik tersebut disampaikan langsung oleh pihak MMI melalui akun Instagram resmi mereka. Hengki mengembuskan napas terakhir di Mayapada Hospital Surabaya pada pukul 07.15 WIB. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi terkait penyebab kepergiannya.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Keluarga besar Museum Musik Indonesia berduka. Telah berpulang ke Rahmatullah, Pendiri kami: Bapak Herwanto bin Soewarsono (Pak Hengki),” tulis keterangan resmi akun @museummusikindonesia.
Dari Hobi Menjadi Warisan Budaya
Perjalanan MMI bermula pada 2009, ketika Hengki bersama rekan-rekan sehobi mendirikan Galeri Malang Bernyanyi (GMB) di kawasan Perumahan Griya Shanta, Kota Malang. Berawal dari kecintaan terhadap musik dan kegemarannya mengoleksi kaset, piringan hitam, hingga VCD, Hengki perlahan membangun fondasi yang kini menjadi salah satu museum musik terlengkap di Indonesia.
Koleksi yang awalnya bersifat pribadi terus bertambah berkat dukungan masyarakat dan para penikmat musik yang turut menyumbangkan arsip mereka. Seiring waktu, GMB bertransformasi menjadi Museum Musik Indonesia, destinasi edukasi dan wisata yang kerap dikunjungi pelajar, mahasiswa, hingga akademisi dari dalam dan luar negeri.
Tak sedikit profesor mancanegara melakukan studi dan penelitian di museum tersebut. Hengki bahkan memiliki rencana besar untuk terus memperkaya koleksi demi meningkatkan daya tarik dan fungsi edukatif museum ke depannya.
Jejak Dedikasi
Kepergian Hengki meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi komunitas musik nasional. Dedikasinya dalam merawat arsip dan sejarah musik Indonesia menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Semangatnya membuktikan bahwa kecintaan sederhana terhadap musik dapat tumbuh menjadi institusi penting yang menjaga ingatan kolektif bangsa. Kini, karya dan dedikasi Hengki akan terus hidup melalui setiap nada dan rekaman yang tersimpan rapi di Museum Musik Indonesia.**

