Home / News / “Out of Nusantara” Menuju Pusat Peradaban Dunia

“Out of Nusantara” Menuju Pusat Peradaban Dunia

Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara)

Jakarta,- Budayantara.tv Indonesia bukan sekadar negara kepulauan.adalah mosaik peradaban. Dengan lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta ribuan ekspresi tradisi lisan, manuskrip, ritus, seni, dan pengetahuan tradisional, Indonesia menyandang predikat sebagai salah satu negara megadiversitas budaya terbesar di dunia. Di bentangan Nusantara, kebudayaan bukan hanya tumbuh berakar, berkembang, dan terus bertransformasi.

Sejak jejak awal manusia modern hadir di kawasan ini sekitar 60.000–70.000 tahun lalu, Nusantara telah menjadi ruang hidup yang dinamis. Penemuan manusia purba seperti Homo floresiensis di Flores serta Homo erectus di Jawa memperlihatkan bahwa wilayah ini bukan sekadar persinggahan migrasi manusia, melainkan simpul penting dalam sejarah panjang peradaban. Narasi “Out of Nusantara” menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki modal sejarah yang kuat untuk menempatkan dirinya dalam percakapan global tentang asal-usul dan perkembangan manusia.

Jejak kejayaan itu juga tercermin dalam warisan peradaban besar seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, mahakarya arsitektur dan spiritualitas yang menjadi bukti kemampuan leluhur Nusantara dalam mengolah pengetahuan, teknologi, dan estetika tingkat tinggi. Di bidang maritim, kejayaan Kekaisaran Majapahit menunjukkan bahwa Nusantara pernah menjadi kekuatan geopolitik dan budaya yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Namun kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada masa lalu. Energi kreatif masyarakatnya hari ini membuktikan bahwa kebudayaan adalah kekuatan yang hidup. Musik, film, kuliner, fesyen, hingga ekonomi kreatif berbasis tradisi berkembang pesat dan mulai mendapat pengakuan global. Di sinilah kebudayaan menjelma menjadi soft power daya tarik yang membangun citra positif bangsa tanpa paksaan.

Kebudayaan adalah fondasi. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga jalan menuju masa depan. Dalam dunia yang semakin kompetitif, identitas dan narasi menjadi aset strategis. Negara-negara besar memahami bahwa pengaruh global tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga melalui bahasa, seni, nilai, dan gagasan. Indonesia memiliki semua prasyarat itu keragaman, kedalaman sejarah, serta vitalitas kreatif.

Karena itu, kebudayaan harus ditempatkan sebagai agenda strategis nasional. Pengelolaan kebudayaan tidak bisa berjalan sporadis atau seremonial. Ia membutuhkan riset yang kuat, dokumentasi sistematis, penguatan institusi budaya, pendidikan yang berbasis pada akar tradisi, serta diplomasi budaya yang terarah. Manuskrip kuno harus diteliti dan didigitalisasi. Bahasa daerah harus dilestarikan melalui kurikulum dan teknologi. Komunitas adat perlu diberdayakan sebagai subjek, bukan sekadar objek pelestarian.

Indonesia tidak sekadar kaya budaya. Indonesia berpotensi menjadi pusat peradaban ruang pertemuan nilai-nilai Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, lokal dan global. Dunia membutuhkan model peradaban yang inklusif, yang mampu merayakan perbedaan tanpa kehilangan kesatuan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan nasional, tetapi tawaran filosofi universal.

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, tetapi oleh kemampuannya merawat dan mengembangkan kebudayaan sebagai kekuatan strategis. Ketika kebudayaan ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, Indonesia tidak hanya membangun negara ia membangun peradaban.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *