Saresehan “Roso Orep Sejati” Menggali Kesaksian Peradaban Alam
Pasuruan — Budayantara.tv Suasana spiritual dan perenungan mendalam menyelimuti kawasan lereng Gunung Arjuno pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam sebuah forum budaya dan spiritual bertajuk Saresehan Roso Orep Sejati, para pelaku budaya dan spiritual menafsirkan kembali pesan alam tentang perjalanan peradaban manusia. Kegiatan ini berlangsung di wilayah Purwosari, Pasuruan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur menuju puncak Gunung Arjuno.
Acara tersebut menghadirkan tokoh budaya dan spiritual, di antaranya Guntur Bisowarno, Ki Tohari, serta Mohammad Moe. Mereka berdialog mengenai makna peradaban manusia yang diyakini memiliki keterkaitan erat dengan alam dan batin manusia.
Kaweruh Batin dari Arjuno
Dalam saresehan tersebut muncul pemahaman batin yang disebut “Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati.” Ajaran ini dimaknai sebagai pengetahuan batin yang tidak tertulis, tetapi hadir melalui pengalaman hidup dan kesadaran spiritual manusia.
Makna nama Arjuno diuraikan melalui beberapa tafsir simbolik:
Air Jumeneng Ono Air yang berdiam dan tetap ada.
Air Tujuanne Ono Air yang memiliki tujuan.
Air Jumangkah Ono Air yang terus melangkah.
Air Arah Tujuanne Ono Air yang memiliki arah gerak.
Dalam pemaknaan ini, air menjadi simbol kehidupan yang selalu bergerak, mengalir, dan memiliki tujuan meskipun sering kali tidak sepenuhnya dipahami oleh nalar manusia.
Konsep tersebut dikaitkan dengan filosofi “Sepi Ing Nalar”, yakni keadaan ketika manusia menyadari bahwa banyak peristiwa kehidupan berada di luar jangkauan logika. Dalam pandangan ini, manusia bukan sepenuhnya pengendali perjalanan hidupnya.
Puncak Purwo Ringgit dan Tiga Lapisan Peradaban
Di kawasan puncak Gunung Arjuno dikenal pula istilah Purwo Ringgit, yang dimaknai sebagai simbol perjalanan peradaban manusia.
Terdapat tiga lapisan makna Ringgit yang dibahas dalam forum tersebut:
- Ringgit Pertama – Peradaban Materi
Peradaban manusia modern yang bertumpu pada sistem ekonomi dan mata uang seperti rupiah, dolar, rubel, hingga yen. - Ringgit Kedua – Ringgit Wayang Purwo
Peradaban yang digambarkan melalui kisah wayang purwa, yang dianggap sebagai cermin perjalanan hidup manusia—tentang konflik, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup. - Ringgit Ketiga – Asal-usul Kehidupan Manusia
Dimaknai sebagai simbol kelahiran manusia dari “Tes Putih saka Bapa dan Tes Abang saka Biyang”, yang menggambarkan asal mula kehidupan dan keberlanjutan peradaban manusia.
Melalui simbol-simbol ini, Gunung Arjuno disebut sebagai “Induk Peradaban Dunia”, sebuah konsep spiritual yang menempatkan alam sebagai sumber pengetahuan dan keseimbangan kehidupan.
Melihat dan Memperhatikan
Salah satu pesan utama yang muncul dalam saresehan adalah perbedaan antara melihat dan memperhatikan.
Menurut para pemakna budaya yang hadir, manusia sering merasa mengendalikan hidupnya. Namun dalam perspektif rasa batin:
“Kita berjalan bukan karena bisa berjalan, tetapi karena ada yang memperjalankan.” ujar Guntur Bisowarno Praktisi Peradaban Gunung Arjuno.
Pemahaman ini mengajak manusia untuk lebih peka terhadap arah yang diberikan oleh alam dan kehidupan.
Hukum Alam dan Rasa Orep Sejati
Dalam dialog tersebut juga dibahas konsep Hukum Rasa Orep Sejati, yaitu keseimbangan antara pikiran, rasa, dan energi alam.
Pikiran manusia sering terjebak dalam perhitungan untung-rugi, benar-salah, mayoritas-minoritas. Sementara rasa batin dianggap mampu menangkap harmoni alam yang lebih dalam.
Konsep ini dianalogikan seperti arus listrik:
Plus dan minus sebagai kekuatan yang berlawanan
Lapisan nol atau kosong sebagai penyeimbang
Harmoni alam sebagai penghubung yang menjaga keseimbangan
Melalui pemahaman ini, manusia diajak kembali menyelaraskan diri dengan frekuensi alam agar perjalanan hidup tetap harmonis
Nilai Filosofis Tembang Durma
Nilai perenungan tersebut juga disandingkan dengan filosofi tembang macapat Durma, yang melambangkan fase kehidupan manusia yang penuh tantangan.
Durma mengajarkan keberanian, ketegasan, serta pengendalian hawa nafsu. Dalam tradisi Jawa, tembang ini sering menjadi nasihat agar manusia tidak dikuasai emosi dan ambisi, melainkan mampu menjaga keseimbangan batin.
Pesan untuk Peradaban Manusia
Dialog budaya di lereng Gunung Arjuno ini menjadi pengingat bahwa peradaban tidak hanya dibangun melalui teknologi dan ekonomi, tetapi juga melalui kesadaran batin dan hubungan manusia dengan alam.
Pesan yang disampaikan para tokoh spiritual tersebut menekankan pentingnya kembali memperhatikan kehendak alam, bukan sekadar melihat fenomena kehidupan.
Bagi mereka, keharmonisan antara manusia, alam, dan rasa batin merupakan kunci bagi keberlanjutan peradaban dunia.




