Home / News / Batik Sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan: Sinergi Riset, Lingkungan, dan Kearifan Lokal Ngadirejo

Batik Sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan: Sinergi Riset, Lingkungan, dan Kearifan Lokal Ngadirejo

Jakarta – Budayantara.tv Batik kembali ditegaskan bukan sekadar kain bermotif, melainkan warisan budaya yang sarat filosofi, nilai moral, dan spiritual. Dalam semangat Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026, Desa Ngadirejo melangkah progresif melalui kolaborasi lintas lembaga yang memadukan riset, pelestarian lingkungan, dan inovasi ekonomi hijau berbasis kredit karbon.

Pertemuan Sinergitas Kolaborasi antara Universitas Airlangga dan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur yang digelar Senin (2/3/2026) menjadi tonggak penting. Kegiatan ini melibatkan Miftahuz Zainiah, Ketua Satgas Peduli Mata Air Desa Ngadirejo, serta Guntur Bisowarno, Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara. Kolaborasi ini diproyeksikan sebagai model kepemimpinan transformasi ekonomi hijau inovatif-kreatif berbasis kredit karbon di Kawasan RPH 22 Sugro dengan pendayagunaan 10.000 bibit pohon Cemara Gunung.

Program ini tidak hanya menitikberatkan pada rehabilitasi lingkungan, tetapi juga pada penguatan budaya lokal universal, khususnya Peradaban Bromo Tengger. Dalam dokumen Petunjuk Teknis Bantuan Pemerintah (Banpem) Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026, seni dan pengetahuan tradisional menjadi objek prioritas. Batik dinilai memenuhi kriteria tersebut karena memiliki dimensi teoritis dan praktis yang kuat dalam membangun identitas serta ketahanan budaya masyarakat.

Teknik Grading: Inovasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah penggunaan teknik grading dalam pengembangan motif batik klasik berfilosofi. Teknik ini dinilai fleksibel terhadap tantangan modernisasi tanpa menghilangkan akar nilai tradisionalnya. Langkah ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan generasi muda yang mulai menjauh dari makna filosofis warisan leluhur Nusantara.

Melalui inovasi ini, Batik Ngadirejo diharapkan tidak hanya lestari sebagai simbol budaya, tetapi juga memiliki daya saing ekonomi kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kearifan Lokal Ngadirejo dalam Motif Batik

Usulan motif yang mengangkat ikon lokal seperti “Godhong Cemara Gunung” dan “Simbol Mata Air” menjadi implementasi nyata pelestarian nilai luhur Desa Ngadirejo. Kedua simbol ini merepresentasikan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Di bawah bimbingan Guru Besar Universitas Negeri Malang, Agus Hery Supadmi Irianti, sejumlah agenda strategis telah dirancang, antara lain:

  1. Dokumentasi Karya Budaya – Pendokumentasian filosofi, makna warna, bahan, serta relasi batik dengan sumber mata air dan simbol khas Ngadirejo.
  2. Workshop dan Sarasehan – Edukasi makna filosofis batik khas Ngadirejo kepada masyarakat desa, pegiat fesyen di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, hingga tingkat Provinsi Jawa Timur.
  3. Pameran dan Apresiasi Karya – Menampilkan hasil inovasi teknik grading sebagai bentuk transformasi kreatif pelestarian budaya Putra-Putri Peradaban Tengger Bromo.

Dukungan Akademik dan Implementasi Nyata

Program ini juga mendapat dukungan langsung dari Muhammad Adib bersama para dosen dan enam mahasiswa Antropologi Lingkungan dari Laboratorium Manusia, Budaya dan Ragawi FISIP UNAIR. Keterlibatan akademisi memperkuat dimensi riset sekaligus memastikan penyusunan SOP kegiatan berbasis kajian ilmiah yang terukur.

Salah satu implementasi konkret adalah perencanaan produksi sprei Batik Homestay Ngadirejo berbasis teknik grading. Inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian budaya dapat terintegrasi dengan penguatan ekonomi lokal berbasis pariwisata dan homestay desa.

Berpeluang Mendapat Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2026

Dengan pendekatan kolaboratif antara masyarakat desa, akademisi, dan Perhutani, program ini dinilai memiliki peluang besar untuk memperoleh Fasilitasi dan Pendanaan Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026. Sinergi antara pelestarian mata air, penghijauan 10.000 cemara gunung, serta pengembangan batik berbasis kearifan lokal menunjukkan bahwa budaya dan lingkungan dapat berjalan beriringan sebagai solusi transformasi inovatif kreatif.

Desa Ngadirejo kini tidak hanya menjaga sumber mata airnya, tetapi juga merawat “mata air peradaban” melalui batik warisan yang terus mengalirkan nilai, identitas, dan harapan bagi generasi mendatang.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *