Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Antropologi dan Islam Bersinergi Merawat Lingkungan: Dari Bromo untuk Masa Depan Pendidikan
News

Antropologi dan Islam Bersinergi Merawat Lingkungan: Dari Bromo untuk Masa Depan Pendidikan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama12 Juni 20263 menit baca
Antropologi dan Islam Bersinergi Merawat Lingkungan: Dari Bromo untuk Masa Depan Pendidikan - Budayantara TV

Oplus_131072

Surabaya,– Budayantara.tv Isu lingkungan tidak lagi hanya menjadi ranah sains dan kebijakan publik. Dalam era kontemporer, nilai-nilai keagamaan dan ilmu sosial turut memainkan peran penting dalam merumuskan solusi berkelanjutan. Hal inilah yang menjadi fokus kuliah tamu bertajuk “Keseimbangan Alam dalam Tradisi Islam: Rekayasa Sosio-Antropologis Pengelolaan Karbon untuk Keadilan Pendidikan di Pedesaan Bromo Tengger Jawa Timur” yang diselenggarakan Departemen Antropologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (11/6/2026).

Bertempat di Ruang Adi Sukadana, Gedung FISIP A UNAIR, kegiatan ini menghadirkan Guru Besar IAIN Kediri, Prof. Dr. H. Moh. Asror Yusuf, M.Ag., sebagai narasumber utama. Acara dipandu oleh Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A., yang juga menjadi penggagas riset kolaboratif mengenai ekonomi hijau di kawasan Bromo Tengger.

Dalam sambutannya, Prof. Adib menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, hilirisasi hasil riset menjadi kebutuhan mendesak agar ilmu tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.

“Ilmu pengetahuan harus turun ke masyarakat dan memberikan manfaat yang nyata. Inilah semangat hilirisasi yang terus didorong negara melalui berbagai program kolaborasi penelitian,” ujarnya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Riset Kolaborasi Jatim Melaju 2026, yang berfokus pada pengembangan ekonomi hijau di kawasan Bromo. Melalui kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat desa, Perhutani, media, dan lembaga filantropi, riset ini mengusung gagasan inovatif berupa pengelolaan sumber daya lingkungan menjadi kredit karbon yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai dana abadi pendidikan bagi masyarakat pedesaan Bromo Tengger.

Pada sesi utama, Prof. Asror Yusuf mengupas keterkaitan ajaran Islam dengan pelestarian lingkungan. Ia menjelaskan bahwa Islam tidak hanya menekankan aspek ritual, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan alam dan sesama makhluk hidup. Menurutnya, prinsip keseimbangan (mizan) yang tercantum dalam Al-Qur’an menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Allah menciptakan keadilan dan keseimbangan dalam segala hal. Keseimbangan itulah yang melahirkan keteraturan dalam kehidupan,” jelasnya.

Mengacu pada pemikiran Ibnu Miskawaih dan Al-Ghazali, Prof. Asror menekankan pentingnya menjalani “jalan tengah” sebagai bentuk moderasi dalam kehidupan. Ia juga mengkritik pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta sehingga sering kali melahirkan eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan.

Sebagai alternatif, ia menawarkan pendekatan deep ecology, ekofeminisme, dan terutama ekosufisme, yang memandang alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik dan kesadaran spiritual.

“Alam bertasbih dan bersujud kepada Tuhan secara literal. Karena itu, merusak alam sama halnya dengan menganiaya makhluk yang juga tunduk kepada Sang Pencipta,” tegasnya.

Dalam perspektif hukum Islam, Prof. Asror menjelaskan bahwa konsep Maqashid asy-Syari’ah menempatkan kemaslahatan sebagai tujuan utama melalui perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Sejalan dengan kaidah fikih La Darar wa La Dirar, upaya mencegah kerusakan harus didahulukan dibandingkan mengejar keuntungan sesaat.

Pandangan tersebut mendapat penguatan dari Prof. Adib yang menilai masyarakat Bromo Tengger sesungguhnya telah lama menerapkan prinsip keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi lokal mereka mencerminkan harmonisasi antara manusia, alam, keluarga, dan komunitas sosial.

Menutup paparannya, Prof. Asror mengingatkan bahwa Islam merupakan agama yang berorientasi pada tindakan nyata. Menurutnya, aksi sederhana seperti menanam pohon merupakan bentuk ibadah yang memiliki manfaat berkelanjutan bagi kehidupan.

Rangkaian kuliah tamu ini menjadi bagian penting dalam penyusunan agenda penelitian Riset Kolaborasi Jatim Melaju 2026. Selain memperkuat integrasi antara ilmu antropologi dan studi keislaman, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis lingkungan memerlukan kolaborasi lintas disiplin, nilai budaya, dan ajaran spiritual.

Salah satu peserta, Sifaul Khuluf, mengaku memperoleh perspektif baru dari kegiatan tersebut. “Saya sangat terkesan bahwa Islam bukan hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap alam. Nilai-nilai Islam dapat menjadi solusi untuk mengurangi cara pandang yang eksploitatif terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Melalui dialog antara antropologi dan ilmu agama Islam, kuliah tamu ini menegaskan bahwa pelestarian lingkungan bukan sekadar agenda ekologis, melainkan juga tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Reporter: Nasywa Kaffa & Michael Anggi Hutauruk
(Mahasiswa Program Studi Antropologi FISIP UNAIR Angkatan 2024)

FISIP Universitas Airlangga
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026 - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026

27 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan…

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi - Budayantara TV
News

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi

27 September 20261 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv “Observasi dan wawancara hari ini, membuka wawasan baru mengenai keadaan esksisting wisata di Kampung Wisata…

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro - Budayantara TV
News

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro

26 September 20265 menit baca

Solo,– Budayantara.tv Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia. Melalui…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber