Para Perasuk Dominasi FFH Edisi Ke-6, Anggun C Sasmi dan Aming Raih Predikat Pemain Terpilih
Jakarta – Budayantara.tv Film horor Para Perasuk berhasil mendominasi ajang Festival Film Horor (FFH) Edisi ke-6 berlangsung di bilangan Pasar Minggu.Jakarta Selatan.Rabu (13/5/2036).Dengan menyabet predikat Film Terpilih bulan ini. Dalam festival yang rutin digelar setiap tanggal 13 tersebut, nama dan juga sukses mencuri perhatian dengan terpilih sebagai Pemeran Wanita dan Pemeran Pria Terbaik.
Selain itu, dinobatkan sebagai Sutradara Terpilih, sementara meraih penghargaan sebagai Director of Photography (DoP) Terpilih.
Selama satu bulan proses penjurian, FFH menyeleksi sejumlah film horor yang tayang di bioskop sepanjang April, di antaranya Aku Harus Mati, Ghost in The Cell, Warung Pocong, Tiba-Tiba Setan, dan Para Perasuk. Setelah melalui diskusi dan perdebatan panjang, dewan juri akhirnya menetapkan nama-nama terbaik berdasarkan sejumlah kriteria penilaian yang dianggap objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua Dewan Juri, Ismail, menegaskan bahwa penilaian dilakukan bukan berdasarkan selera pribadi. Menurutnya, Para Perasuk unggul karena memenuhi empat unsur penting film horor, termasuk kekuatan budaya lokal yang terasa sangat kental.
“Banyak yang mengira Ghost in The Cell akan menjadi film terpilih. Film itu memang sangat bagus dan berkelas internasional, namun nuansa keindonesiaannya masih kurang kuat. Meski demikian, kritik sosial yang diangkat tetap terasa sangat Indonesia,” ujar Ismail.
Penampilan dalam Para Perasuk juga dinilai sukses mematahkan citranya sebagai penyanyi. Anggun tampil total sebagai guru para perasuk yang penuh misteri hingga membuat penonton terkejut dengan transformasi aktingnya.
Sementara itu, dipuji karena berhasil menunjukkan sisi berbeda dari karakter yang biasa ia perankan. Dalam Ghost in The Cell, Aming tampil garang sebagai kriminal yang disegani di penjara.
“Selama ini Aming identik dengan karakter komedi. Namun di film ini, sosok ‘Tokek’ yang diperankannya benar-benar membuat penonton merinding,” tambah Ismail.
Di kategori sinematografi, dinilai berhasil menghadirkan visual yang kuat dan menghibur lewat garapannya di film The Bell: Panggilan untuk Mati.
Menutup keterangannya, Ismail berharap FFH dapat terus menjadi wadah sekaligus rujukan bagi para sineas Indonesia untuk menghadirkan karya-karya film horor berkualitas yang tetap mengangkat identitas budaya Tanah Air.**


