“KENAPA CERITA INDIA SUKA LEBAY?”Belajar Dramaturgi dari Film India
Oleh: Karsono Hadi
Jakarta – Budayantara.tv Banyak orang gemar meledek film India: terlalu dramatis, terlalu panjang, terlalu banyak air mata. “Lebay,” kata sebagian. Namun anehnya, di balik semua itu, cerita-cerita tersebut jarang terasa kosong. Selalu ada emosi yang menempel, selalu ada kesan yang tertinggal.
Maka, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “kenapa lebay?”, melainkan “kenapa cerita mereka terasa begitu hidup?”
Jika ditarik ke akar budayanya, India sejak lama adalah peradaban yang hidup dalam tradisi bercerita. Kisah bukan sekadar hiburan, melainkan cara memahami kehidupan. Lihat saja Mahabharata dan Ramayana. Keduanya bukan hanya kisah perang atau petualangan, tetapi peta emosi manusia yang kompleks—cinta, pengkhianatan, ambisi, hingga dilema moral yang berlapis.
Yang menarik, kisah-kisah ini diwariskan melalui tradisi lisan. Diceritakan ulang dari generasi ke generasi, dimainkan, ditafsirkan kembali. Artinya, para pencerita di sana tidak hanya belajar menulis, tetapi juga tumbuh dengan mendengar dan merasakan ritme cerita sejak kecil. Mereka hidup di dalam cerita—dan itu membentuk cara mereka berkarya.
Dari situlah muncul satu kekuatan utama: keberanian dalam mengekspresikan emosi.
Dalam banyak film India, emosi tidak ditahan. Jika sedih, maka sedih sepenuhnya. Jika jatuh cinta, maka cinta yang total. Jika marah, maka ledakan yang tak setengah-setengah. Bagi sebagian penonton, ini terasa berlebihan. Namun bagi mereka, justru di situlah letak kejujuran emosi yang tidak disensor.
Bandingkan dengan banyak karya kita yang sering kali terlalu berhati-hati. Kita ingin terlihat realistis, subtil, dan “tidak berlebihan”. Namun dalam proses itu, sering kali emosi justru dipangkas. Cerita menjadi rapi, tetapi dingin.
Selain itu, satu hal yang sering diremehkan adalah kekuatan struktur dramaturgi dalam film India. Cerita mereka jarang berjalan lurus. Konflik yang dibangun berlapis, karakter tidak sekadar hitam-putih. Bahkan tokoh utama pun kerap memiliki sisi gelap. Ini adalah warisan langsung dari teks klasik mereka yang sarat dilema moral.
Contohnya bisa dilihat dalam 3 Idiots. Di permukaan, film ini tampak seperti komedi kampus. Namun di dalamnya tersimpan kritik tajam terhadap sistem pendidikan, tekanan sosial, dan pencarian jati diri. Begitu pula Kabhi Khushi Kabhie Gham—sebuah melodrama keluarga yang, di balik kemewahannya, berbicara tentang relasi orang tua-anak, kelas sosial, dan harga diri.
Dan satu hal yang paling mencolok: mereka tidak malu menjadi emosional.
Di banyak tempat, termasuk di industri kreatif kita, ada ketakutan untuk dianggap “lebay”. Takut tidak terlihat keren. Takut dianggap tidak cerdas. Akibatnya, emosi dipersempit, dipendam, bahkan dihindari.
Sementara itu, film India justru sebaliknya—mereka “gaspol”. Total dalam rasa, tanpa rem.
Anehnya, justru karena ketotalan itulah penonton ikut larut secara total.
Jadi rahasianya bukan semata-mata soal teknik. Bukan karena mereka lebih pintar membuat cerita. Melainkan karena mereka:
- Hidup dalam tradisi bercerita yang panjang
- Berani jujur terhadap emosi
- Kuat dalam membangun konflik dan dilema
- Dan yang paling penting: tidak malu menjadi manusia
Kini, pertanyaannya kembali kepada kita.
Sering kali kita mengejar realisme, tetapi melupakan rasa. Mengejar kesan “keren”, tetapi kehilangan kejujuran. Akhirnya, cerita kita mungkin terlihat rapi namun kosong. Aman tetapi tidak membekas.
Sementara mereka yang kita sebut “lebay”… justru berani berdarah di depan penonton.
Dan mungkin, di situlah letak perbedaannya.
Bukan tentang siapa yang lebih pintar bercerita.
Melainkan siapa yang lebih berani… membuka perasaan tanpa rem.


