Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Membaca Nadi Kesenian Bogor: Antara Tradisi, Ruang Alternatif, dan Masa Depan
Budaya News

Membaca Nadi Kesenian Bogor: Antara Tradisi, Ruang Alternatif, dan Masa Depan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama13 Januari 20263 menit baca
Membaca Nadi Kesenian Bogor: Antara Tradisi, Ruang Alternatif, dan Masa Depan - Budayantara TV

Bogor,- Budayantara.tv Di balik julukan sebagai kota hujan yang dingin dan hijau, Bogor menyimpan denyut kehidupan lain yang terus bergerak: kesenian. Musik, sastra, teater, hingga seni rupa tumbuh di berbagai sudut kota dan kabupaten, berakar pada tradisi Sunda sekaligus bersentuhan dengan dinamika kehidupan urban yang kian kompleks.
Potret tersebut mengemuka dalam Lingkar Diskusi Kebudayaan Sawala Dasa Wacana #8 yang digelar pada Sabtu sore, 10 Januari 2026, bertempat di Komplek Edukasi Putra Bangsa, Cijeruk, Kabupaten Bogor. Diskusi berlangsung dalam suasana akrab dan melingkar, jauh dari kesan formal, membuka ruang dialog yang cair antar pelaku dan pemerhati seni.
Mengangkat tema “Menimbang Atmosfir Kreatif Kesenian Bogor 2025, Menuju Resolusi 2026”, forum ini menghadirkan Putra Gara selaku Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB), Aan Handayani (musisi dan pegiat seni), serta Rahmat Iskandar (pemerhati seni budaya dan sejarah). Kegiatan ini diinisiasi oleh Daya Putra Bangsa dengan Heri Cokro sebagai tuan rumah.
Putra Gara mengawali diskusi dengan menyoroti tumbuhnya komunitas seni Bogor yang belakangan justru berkembang dari ruang-ruang alternatif dan inisiatif mandiri. Menurutnya, semangat kolektif dan keberanian bereksperimen menjadi ciri kuat ekosistem seni lokal saat ini. “Kesenian di Bogor tumbuh dari kegigihan, bukan dari kemapanan,” ujarnya.


Namun di balik geliat tersebut, Putra Gara menilai fondasi ekosistem kesenian masih rapuh. Minimnya ruang berekspresi, kurangnya dukungan berkelanjutan, serta absennya sistem yang berpihak pada proses kreatif menjadi persoalan yang terus berulang. “Atmosfirnya hidup, tetapi belum kokoh,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan kesenian yang masih sering diposisikan sebagai agenda seremonial. Seni hadir pada momen-momen tertentu, lalu kembali sunyi. Padahal, kesenian idealnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan sekadar pelengkap acara formal.
Pandangan tersebut diamini peserta diskusi yang datang dari latar beragam, mulai dari seniman lintas generasi, pemerhati budaya, warga sekitar, hingga komunitas ibu-ibu berkebaya. Dari percakapan yang mengalir, muncul satu benang merah: masih adanya jarak antara komunitas seni dan birokrasi pemerintahan.
Relasi yang terbangun kerap diliputi prasangka. Seniman menilai birokrasi terlalu kaku dan kurang peka terhadap dinamika kreatif, sementara birokrasi belum memiliki peta yang utuh tentang potensi kesenian, pelaku, serta dampak sosial kerja-kerja seni. Hubungan yang terjalin pun lebih bersifat administratif, belum berkembang menjadi kemitraan yang setara.
“Dialog kebudayaan sering berhenti di permukaan,” ungkap Prasetya, salah satu peserta diskusi. Tanpa keterbukaan dan kepercayaan, ia menilai kebijakan kebudayaan berisiko lahir tanpa pijakan realitas di lapangan.
Meski demikian, para peserta menyadari bahwa diskusi ini belum dimaksudkan sebagai potret menyeluruh kesenian Bogor. Forum ini lebih dilihat sebagai fragmen awal, terutama bagi mereka yang masih membaca lanskap kebudayaan Bogor dari sudut pandang pendatang baru.
Dalam konteks tersebut, Sawala Dasa Wacana diposisikan sebagai ruang temu dan refleksi bersama, dengan semangat silih asih, silih asah, silih asuh—membangun dialog yang setara dan saling menguatkan antara seniman, warga, dan pemangku kebijakan.
Putra Gara menyebut diskusi ini juga relevan dalam menyambut rencana pembentukan Dinas Kebudayaan di bawah pemerintahan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Ia mendorong agar hasil diskusi dirangkum sebagai masukan kebijakan, termasuk disampaikan melalui kanal Lapor Pak Bupati sebagai bagian dari visi “Bogor Istimewa”.
“Ini pekerjaan rumah bersama,” ujarnya. Menurutnya, resolusi kebudayaan tidak cukup dirumuskan di ruang rapat atau panggung seremoni. Dibutuhkan keberanian mengakui kerentanan ekosistem seni, kesediaan mendengar suara akar rumput, serta komitmen jangka panjang untuk merawat proses kreatif.
Diskusi sore itu ditutup tanpa kesimpulan final. Namun satu pesan menguat: jika kesenian ingin tumbuh berkelanjutan di Bogor, relasi antara seniman, masyarakat, dan birokrasi harus bergerak melampaui saling curiga menuju dialog yang terbuka, jujur, dan saling menguatkan. Seperti hujan yang setia menyirami Bogor, kesenian pun memerlukan perawatan yang sabar agar terus hidup dan memberi makna.(Agus Oyenk)

Bogor Kebudayaan Sawala Dasa Wacana Pasundan
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026 - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026

27 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan…

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi - Budayantara TV
News

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi

27 September 20261 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv “Observasi dan wawancara hari ini, membuka wawasan baru mengenai keadaan esksisting wisata di Kampung Wisata…

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro - Budayantara TV
News

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro

26 September 20265 menit baca

Solo,– Budayantara.tv Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia. Melalui…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber