Jakarta,— Budayantara.tv Upaya menjaga jejak sejarah Jayakarta kembali mendapat perhatian melalui kerja sama Lembaga Pemangku Adat Jayakarta (LPAJ) dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta serta Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 30 September 2026, ketiga lembaga tersebut menyampaikan pernyataan bersama mengenai keberadaan manuskrip kitab Al Fatawi yang dipandang memiliki nilai penting dalam penelusuran sejarah Jayakarta.
Manuskrip Al Fatawi dinyatakan sebagai naskah sekaligus arsip, sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang berlaku. Pernyataan tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong upaya pelindungan, pendokumentasian, serta pengkajian terhadap sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Jayakarta.
Bagi LPAJ, manuskrip bukan sekadar kumpulan tulisan masa lalu. Di dalamnya terdapat jejak pengetahuan, pemikiran, nilai sosial, keagamaan, serta kehidupan masyarakat pada zamannya yang dapat menjadi bahan penting untuk memahami sejarah Jakarta secara lebih utuh.
Pangeran Abi: Jangan Biarkan Jejak Sejarah Hilang
Dalam sambutannya, Pangeran Abi dari LPAJ menekankan pentingnya menjaga peninggalan sejarah Jayakarta agar tidak terputus dari generasi ke generasi.
Menurutnya, keberadaan manuskrip seperti Al Fatawi perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan kebudayaan yang harus dirawat bersama.
“Manuskrip ini bukan hanya benda lama. Di dalamnya terdapat jejak sejarah dan pengetahuan yang perlu kita jaga agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujar Pangeran Abi dalam sambutannya.
Ia juga menilai kerja sama antara LPAJ, Dispusip DKI dan ANRI merupakan bentuk kolaborasi penting antara unsur masyarakat adat, pemerintah daerah dan lembaga kearsipan nasional.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengakuan dan pendataan, tetapi berlanjut pada pelestarian, penelitian, digitalisasi, serta pemanfaatan manuskrip sebagai sumber pembelajaran sejarah Jayakarta.
Menguatkan Identitas Sejarah Jakarta
Pernyataan mengenai status Al Fatawi sebagai naskah dan arsip juga membuka ruang yang lebih luas bagi kajian sejarah Jayakarta. Sebab, sejarah Jakarta tidak hanya dapat ditelusuri melalui bangunan, artefak, maupun catatan pemerintahan, tetapi juga melalui manuskrip yang diwariskan oleh masyarakat.
Bagi LPAJ, langkah tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menjaga memori kolektif Jayakarta sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat bahwa Jakarta memiliki lapisan sejarah yang panjang dan beragam.
Ke depan, keberadaan manuskrip Al Fatawi diharapkan dapat menjadi salah satu sumber yang mendorong penelitian lebih mendalam mengenai sejarah Jayakarta, sekaligus mempertemukan perspektif adat, arsip, sejarah dan kebudayaan dalam membaca perjalanan Jakarta dari masa lalu hingga masa kini.
LPAJ bersama Dispusip DKI dan ANRI pun menempatkan pelestarian manuskrip sebagai bagian dari upaya menjaga warisan sejarah agar tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dipelajari, dipahami dan diwariskan kepada generasi mendatang.**




