Jakarta — Budayantara.tv Menjelang peringatan lima abad Jakarta pada 22 Juni 2027, geliat menyambut momentum bersejarah itu mulai terasa. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menggaungkan program Lima Abad Jakarta, lengkap dengan identitas visual dan berbagai agenda yang diproyeksikan mewarnai perjalanan menuju usia 500 tahun Jakarta.
Di tengah rencana berbagai perayaan, hiburan, dan penerbitan buku bertema Betawi, Batavia, dan Jakarta, muncul sebuah gerakan literasi yang berjalan dengan cara berbeda.
Bukan melalui anggaran pemerintah, melainkan dari kantong pribadi seorang sastrawan dan budayawan Betawi.
Dialah Chairil Gibran Ramadhan (CGR).
Melalui Penerbit Padasan yang didirikannya pada 27 Oktober 2011 dengan dukungan Betawi Institute dan Poestaka Betawi, CGR berencana menerbitkan sedikitnya lima judul buku untuk menyambut momentum lima abad Jakarta.
Lima buku tersebut adalah “Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya” (ISBN 978-602-17963-8-2), “Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya” (ISBN 978-602-17963-7-5), “Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi” karya Aba Mardjani (ISBN 978-602-19280-4-2), “Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1970” karya Misbach Yusa Biran (ISBN 978-602-1244-01-2), serta “Dajoeng Sampan Dibawah Boelan” karya Chairil Gibran Ramadhan, yang menjadi buku ketujuh dari seri Setangkle Puisi Sejarah dan Budaya: Betawi, Batavia, Jakarta.
Kelima buku itu akan menjadi semacam catatan literer tentang Jakarta dari berbagai sudut: tokoh, sejarah, humor, kehidupan masyarakat, hingga pengalaman kebudayaan yang tumbuh di tanah Betawi.
Bukan Bagian dari Proyek Pemerintah
Menariknya, meski kelima buku tersebut akan menggunakan logo Lima Abad Jakarta pada sampul, CGR menegaskan bahwa penerbitannya bukan bagian dari proyek pembiayaan Pemprov DKI Jakarta.
Logo tersebut, menurutnya, hanya menjadi penanda momentum waktu penerbitan buku.
“Logo dicantumkan hanya penanda waktu terbit. Bukan imbalan atas dana yang tidak diberikan,” ujar CGR.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan posisi penerbitan buku-buku itu: hadir sebagai inisiatif independen dari kalangan masyarakat, khususnya mereka yang selama bertahun-tahun berkutat dengan dunia sastra dan kebudayaan Betawi.
CGR sendiri bukan nama baru dalam perjalanan literasi Betawi. Pada 12 November 2025, ia menerima PSB UHAMKA Award dari Pusat Studi Betawi Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA atas dedikasinya selama 26 tahun membawa karya sastra bernuansa Betawi, Batavia, dan Jakarta ke tingkat nasional, bahkan hingga Belanda.
Namun, ia menyatakan tidak dilibatkan dalam proyek besar penerbitan buku yang berkaitan dengan peringatan Lima Abad Jakarta.
Ia juga menyoroti belum adanya Anugerah Budaya dari Pemprov DKI Jakarta yang diberikan kepadanya sebagai sastrawan dan budayawan Betawi.
Meski demikian, CGR memilih tidak berhenti.
Baginya, keberpihakan terhadap kebudayaan tidak harus menunggu datangnya proyek atau penghargaan.
“Dari Kantong Pribadi”
Pertanyaan berikutnya sederhana: dari mana biaya mencetak buku-buku tersebut?
Jawaban CGR pun tegas.
“Dari kantong pribadi. Karena sangat tidak mungkin dari tokoh-tokoh Betawi, lembaga-lembaga berembel Betawi, tokoh nasional, dan lembaga pemerintah,” katanya.
Pernyataan itu memperlihatkan persoalan klasik yang kerap dihadapi dunia literasi: gagasan mengenai pentingnya buku dan kebudayaan sering mendapatkan sambutan secara retoris, tetapi belum tentu diikuti dukungan nyata terhadap proses penerbitannya.
Bagi CGR, buku bukan sekadar benda yang dicetak dan kemudian diletakkan di rak. Buku adalah cara untuk menyimpan ingatan.
Terlebih bagi Jakarta yang akan memasuki usia 500 tahun.
Di tengah pesta perayaan, menurut semangat yang dibawa penerbitan ini, harus ada pula ruang untuk mengingat siapa yang membentuk Jakarta, bagaimana masyarakatnya hidup, bagaimana kebudayaannya tumbuh, serta bagaimana Betawi menjadi bagian penting dari perjalanan kota.
Ketika Pesta Lebih Mudah Mendapat Dana daripada Buku
CGR juga mengungkap pengalaman lain ketika berupaya mencari dukungan untuk penerbitan buku bertema Cina Betawi dan Tionghoa di Batavia.
Ia mengaku pernah mengetuk pintu kalangan bisnis, mulai dari industri rokok, jamu, makanan, perumahan hingga pendidikan.
Namun, menurut pengalaman yang disampaikannya, dukungan untuk mencetak buku tidak mudah diperoleh.
Ia kemudian melontarkan kritik terhadap kecenderungan masyarakat yang menurutnya lebih mudah mengeluarkan biaya untuk pesta dan kegiatan seremonial dibandingkan mendukung literasi.
Untuk menggambarkan situasi tersebut, CGR mengutip perkataan seorang pengemudi ojek daring yang pernah didengarnya:
“Kembalian 1.500 saja diminta, gimana mau jadi donatur cetak buku.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup yang getir sekaligus reflektif.
Lima Buku, Satu Pesan
Lima buku yang disiapkan Penerbit Padasan mungkin tidak akan menjadi bagian dari pesta besar dengan panggung megah dan sorotan lampu.
Namun, buku-buku itu berpotensi menjadi sesuatu yang lebih sunyi sekaligus lebih panjang umur: arsip ingatan tentang Jakarta dan masyarakatnya.
Ketika Jakarta merayakan lima abad usianya pada 2027 nanti, perayaan tidak hanya berbicara tentang masa depan kota, pembangunan, atau kemeriahan acara.
Ada pula pertanyaan tentang apa yang akan diwariskan kepada generasi setelahnya.
Apakah hanya foto-foto perayaan?
Atau juga buku yang merekam tokoh, cerita, bahasa, humor, sejarah, dan kebudayaan masyarakat yang membentuk Jakarta?
CGR memilih menjawab pertanyaan itu dengan cara yang ia yakini: terus menulis, menerbitkan, dan menjaga ingatan.
Sebab, bagi sebuah kota yang telah melewati lima abad perjalanan, merawat ingatan melalui buku adalah bagian dari merawat jati diri. ***




