Lewati ke konten
24 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
​SIAPA YANG GOBLOK ?Mahasiswa Calon Guru UPH Belajar Merawat Martabat Manusia melalui Puisi EsaiDiplomasi Budaya Indonesia–Palestina Menguat, BMDN dan IKB Jabodetabek Siapkan Budayantara Fest 2026Nasi Bebek Habibeat, Sajian Bebek Jumbo dengan Bumbu Hitam yang Medok Sesansi Nasi Wangi
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/​SIAPA YANG GOBLOK ?
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama24 September 20264 menit baca📍 Jakarta
​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
  • Komedi Politik atau Akhir Keadaban

Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta

​
Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang publik kita, melalui headline media online, potongan klip video, dan obrolan di grup-grup WhatsApp.

​Prabowo bicara soal “pakar goblok”. Mahfud MD menyambar dengan jawaban tak kalah menohok: “Presiden juga banyak yang goblok, tahu contohnya?”

​Plak !

​Dua tokoh besar.

Dua figur penting dalam sejarah politik terkini. Saling lontar kata seperti di arena perkelahian anak-anak SD di pinggir lapangan bola, dekat rumah saya di Cinere

​Kita boleh tersenyum membaca persilatan lidah itu. Boleh juga geleng-geleng kepala.

Tapi kalau direnungkan lebih dalam: ada sesuatu yang sedang bergeser sangat jauh dalam cara bangsa ini berkomunikasi.

​Mari kita tarik napas dulu.

​Pak Prabowo, kita tahu, punya gaya bicara yang ceplos-ceplos. Militeris, meledak-ledak, dan sering kali melepaskan artikulasi tanpa saringan retorika yang berbelit-belit.

Itu gayanya.

Publik sudah paham.

Ketika beliau merasa gemas pada teori-teori akademis yang dianggapnya tak membumi, kata “goblok” itu lepas begitu saja.

​Lalu Mahfud MD. Profesor Mahfud. Guru besar hukum. Mantan Ketua MK. Mantan Menko Polhukam.

Beliau ini pendekar logika.

Begitu ada umpan lambung, langsung “di -smes” balik. Logika dibalas logika, makian dibalas sindiran yang menembus jantung.

​Pertanyaannya: salahkah mereka?

​Secara hukum? Tidak ada yang melanggar pasal.

Secara panggung politik? Ini entertaiment tingkat tinggi. Rating naik, klik media melonjak tinggi.

​Tapi secara kultur? Ah, di situlah letak persoalannya.

​Dulu, persaingan politik juga keras.
Sangat keras.

​Bung Karno dan Bung Hatta kalau berbeda pendapat soal arah republik bisa sampai membentak meja.

Hatta keluar dari posisi Wakil Presiden karena tak cocok dengan gagasan Demokrasi Terpimpin ala Sukarno.

Tapi baca tulisan-tulisan Hatta saat mengkritik Sukarno dalam Demokrasi Kita.

Rapi.

Tajam.

Dan yang paling penting: berkelas.

Tak ada satu pun kata makian yang kotor meluncur dari pena seorang Mohammad Hatta.

​Soeharto?

Beliau kalau marah tak pernah mengutuk. Cukup dengan senyuman dingin yang membuat para jenderalnya gemetar.

​Sekarang? Zaman sudah berubah.

​Media sosial menuntut segala sesuatunya serba cepat, serba heboh, dan serba memancing emosi.

Politisi hari ini sadar betul: pidato bermutu berisi data ekonomi setebal 100 halaman tidak akan masuk trending topic.

Tapi ucapan satu kata seperti “goblok” akan dikutip ratusan media, ditonton jutaan kali di TikTok, dan dijadikan bahan perdebatan semalam suntuk.

​Politik kita sedang mengalami pendarahan substansi, tapi kebanjiran sensasi.

​Sejak diamanahkan sebagai pembina Sekber Wartawan Indonesia (SWI) DKI Jakarta, saya tahu persis hukum industri berita “if it bleeds, it leads.”

Berita tentang perselisihan selalu lebih laku daripada berita tentang panen padi atau keberhasilan riset teknologi.

​Tapi apa akibatnya bagi masyarakat?

​Ketika para pimpinan dan tokoh intelektual terbiasa menggunakan kosa kata kasar di depan kamera, masyarakat di bawah tidak lagi menganggap keadaban itu penting.

Di X (Twitter), Facebook, hingga kolom komentar Instagram, orang makin gampang memaki. Makin gampang merendahkan sesama hanya karena beda pandangan politik.

​“Ah, Presiden dan Guru Besar saja bicaranya begitu, kenapa kita harus halus?” pikir mereka.

​Inilah kerugian terbesar kita. Kita kehilangan ukuran martabat dalam berdiskusi.

​Kepintaran seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia memaki lawannya. Kepintaran diuji dari seberapa tahan argumentasinya diserang oleh fakta dan data.

​Pakar bisa saja keliru. Teori bisa saja patah oleh realitas lapangan. Itu lazim. Maka lawanlah pakar itu dengan data yang lebih valid, bukan dengan kosa kata pasar.

​Sebaliknya, pimpinan negara juga manusia. Bisa salah, bisa keliru mengambil keputusan. Maka kritiklah pimpinan itu dengan analisis hukum dan kebijakan yang presisi, bukan sekadar melempar sindiran “ad hominem.”

​Kalau dua-duanya saling silat dengan bahasa kasar, rakyat yang menonton dapat apa?

​Hanya dapat hiburan murahan.

Sementara masalah riil bangsa ini—soal lapangan kerja, kualitas pendidikan, hingga kepastian hukum—tetap menumpuk di bawah meja tanpa solusi yang jernih.

​Dunia sedang berubah cepat. AI makin pintar, teknologi makin melesat, dan negara-negara tetangga sedang berlomba melompati zaman.

Sementara kita di sini, masih asyik meributkan siapa yang goblok dan siapa yang pintar.

​Mungkin kita semua perlu cermin yang lebih besar. Agar ketika kita menunjuk orang lain dungu, kita bisa melihat bayangan sendiri: apakah cara kita bertutur kata sudah cukup mencerminkan bangsa yang beradab?

​Atau jangan-jangan, kita memang sedang menikmati komedi politik ini, sampai lupa bahwa yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan tatanan sosial kita sendiri?(***)

​

DPW SWI Jaya Oleh: M.Guntur Alting
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

KETIKA ‘MAKIAN’ DISAMAKAN DENGAN KETEGASAN - Budayantara TV
Artikel

KETIKA ‘MAKIAN’ DISAMAKAN DENGAN KETEGASAN

22 September 20263 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA Jakarta – Budayantara.tv ​BAHASA, konon, adalah rumah bagi kebudayaan. Namun di…

KOPI, GAGASAN, DAN MASA DEPAN PERS - Budayantara TV
Artikel

KOPI, GAGASAN, DAN MASA DEPAN PERS

20 September 20263 menit baca

-Menakar Urgensi “Kopdar Sehat” Ala SWI Jaya Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI JAYA Jakarta – Budayantara.tv…

JEJAK YANG BELUM SELESAI: MENGENANG SYAMSIR SIREGAR - Budayantara TV
Artikel Tokoh

JEJAK YANG BELUM SELESAI: MENGENANG SYAMSIR SIREGAR

27 Agustus 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA Sekber Wartawan Indonesia “Pahlawan yang sebenarnya adalah yang berjuang dalam diam,…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber