Malang, — Budayantara.tv Seni pewayangan Nusantara kembali mendapat ruang istimewa di Kabupaten Malang. Pagelaran Ringgit Purwa dengan lakon “Sang Drupadi, Wanito Pinilih” akan digelar di OAK Lawang Convention Hall, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Bukan sekadar pertunjukan wayang, gelaran ini membawa pesan kuat tentang pelestarian budaya, keteladanan, sekaligus semangat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.
Salah satu daya tarik utama adalah tampilnya Ki Triya Handoko, dalang tunanetra, yang akan memainkan wayang dengan pendampingan sekaligus operator gurunya, Ki Sudarto Carito dari Sanggar Sekar Sari Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur. Pertunjukan tersebut mengusung gagrak Jawa Timuran, yang menjadi bagian penting dari kekayaan ragam pewayangan di Nusantara.
Pengiat Budaya Guntur Bisowarno dari Budayantara TV.memakani kolaborasi budaya ini adalah bagian menjaga akar nilai-nilai kekuatan nusantara dalam media perwayangan. Rabu (36/8/2026).
Kehadiran Ki Triya Handoko menjadi simbol bahwa kecintaan terhadap budaya tidak mengenal batas. Dengan kemampuan, ketekunan, dan kecintaan terhadap seni tradisi, seorang dalang tunanetra tetap mampu hadir di tengah masyarakat dan mempersembahkan pertunjukan wayang yang sarat makna.
Satu Panggung, Banyak Warna Tradisi
Pagelaran ini juga menghadirkan Ki Dalang Winarno Sabdo, pimpinan Sanggar Budaya NWB (Ngesti Wedharing Budaya), sebagai pembawa acara atau MC. Ia dikenal membawa tradisi dalang gagrak Jawa Tengah, sehingga perhelatan ini sekaligus mempertemukan kekayaan gaya budaya Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam satu panggung.
Tak hanya itu, unsur pertunjukan tradisional juga dipertahankan secara utuh. Penyelenggara menegaskan konsep “Sinden Asli, Dalang Asli, Wayang Asli, Terop Asli”, sebuah semangat untuk menghadirkan suasana pertunjukan rakyat yang autentik dan dekat dengan akar tradisi.
Iringan gamelan dan tata pertunjukan menjadi bagian penting dalam membangun suasana Ringgit Purwa. Kehadiran unsur-unsur tradisional tersebut diharapkan mampu membawa penonton bukan hanya menyaksikan cerita, tetapi ikut merasakan atmosfer pagelaran wayang sebagaimana tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Drupadi, Perempuan Pilihan yang Penuh Keteguhan
Lakon “Sang Drupadi, Wanito Pinilih” menjadi inti pertunjukan. Sosok Drupadi dihadirkan bukan hanya sebagai tokoh dalam kisah pewayangan, tetapi sebagai representasi perempuan yang memiliki keberanian, kecerdasan, keteguhan hati, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Kisah tersebut sekaligus mengajak masyarakat melihat kembali bahwa wayang memiliki kedalaman nilai. Di balik cerita dan karakter para tokohnya terdapat pesan mengenai keberanian mengambil keputusan, kesetiaan, kepemimpinan, tanggung jawab, hingga perjuangan mempertahankan kebenaran.
Selain pertunjukan wayang, acara juga dirangkai dengan bedah buku “Drupadi Rajasuya” bersama penulis FX Wawan Probo Sulistyo. Agenda ini menjadi ruang dialog untuk memperkaya pemahaman masyarakat terhadap tokoh Drupadi serta khazanah cerita pewayangan yang terus berkembang.
Rangkaian kegiatan turut menghadirkan tema “Kiprah Batik Singosari sebagai Kekayaan Nusantara”. Kehadiran batik memperluas ruang apresiasi budaya, bahwa warisan Nusantara tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan antara wayang, sastra, seni kriya, sejarah, dan identitas masyarakat.
Merawat Wayang, Merawat Identitas Bangsa
Pagelaran Ringgit Purwa dijadwalkan berlangsung mulai 18.30 hingga 22.30 WIB, di OAK Lawang Convention Hall, Jalan Tegalrejo No. 18, Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Depot HTS Lawang.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan pola hiburan masyarakat, pertunjukan seperti ini menjadi penting. Wayang tidak semestinya hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi harus terus diberi ruang untuk hidup, tampil, dan berinteraksi dengan generasi masa kini.
Melalui panggung “Sang Drupadi, Wanito Pinilih”, masyarakat diajak kembali melihat bahwa kebudayaan bukan sekadar tontonan. Ia adalah identitas, pengetahuan, sekaligus cara sebuah bangsa mengenali jati dirinya.
Dan malam itu, di Lawang, suara gamelan, lengking sinden, kepiawaian dalang, serta kisah Drupadi akan kembali menyatukan satu pesan sederhana:
Selama masih ada yang mencintai dan memainkan wayang, tradisi Nusantara akan terus hidup.

Tinggalkan Balasan